BERSIKAP JUJUR DAN LEMBUT KEPADA ANAK
Seringkali, orang tua merasa bahwa sikap jujur hanya kewajiban anak. Ketika anak menumpahkan susu coklat di karpet, karena takut, ia mungkin akan berkata, "Bukan saya, Mama!" Lalu, orangtua akan marah dan membentak, "Jangan bohong!" Tapi, tanpa sadar, orangtua pun sering membohongi anak. Bila kita lelah saat si Putri mengajak bermain ke taman, orangtua dengan enteng, "Besok, ya sayang!" Tapi, esok hari, apa yang terjadi? Seringkali orangtua melupakan janji itu begitu saja.
Bohong adalah salah satu akibat dari sikap pemarah orang tua. Namun, bisa jadi pula, anak suka berbohong karena menirukan orangtuanya yang juga sering tidak jujur terhadapnya. Karena itu, dalam artikel ini kami akan membahas mengenai dua sifat yang harus dipegang teguh oleh orang tua, yaitu jujur dan lembut.
Sikap Jujur
Abdul Hamid Jasim Al-Bilali dalm bukunya "Seni Mendidik Anak" menyebutkan, "Penyebab kenakalan anak (termasuk di antaranya berbohong) adalah karena contoh yang buruk. Menurut Al-Bilali, "Seorang anak tentu tidak mudah menerima anjuran kebaikan dari orangtuanya jika ternyata perbuatan orang tua mereka sendiri bertolak belakang dari apa yang diperintahkan. Anak disuruh berkata jujur, tetapi mereka sendiri sering berdusta dan jika berjanji tidak ditepati."
Allah berfirman dalam surat Ash-Shaf, "Sungguh besar dosanya di sisi Allah bahwa kalian berbicara apa yang tidak kalian lakukan."
Ada kalanya, orang tua memang tidak marah menghadapi "kenakalan" anaknya, tapi, malah menggunakan kebohongan. Hal ini sama-sama berdampak buruk. Sering kita dengar orangtua melarang anaknya ribut dengan berbohong, "Heh, jangan ribut, nanti ditangkap hantu lho!" Hal ini malah akan membuat anak menjadi penakut dan sekaligus mengajarinya berbohong. Bila anak ribut, sebaiknya Anda mengalihkan perhatiannya dengan mengajak menggambar atau membacakannya dongeng.
Sikap Lembut
Sikap lembut terkadang amat sulit dipertahankan oleh orangtua. Anak kecil umumnya melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan orang dewasa adalah "nakal". Namun, ada poin penting yang harus dipahami oleh orang tua, yaitu sesungguhnya, anak kecil tidak pernah bermaksud untuk berbuat nakal. Dia bahkan tidak memahami konsep nakal itu sendiri. Apapun yang dia lakukan adalah sesuai dengan kemampuan nalarnya pada saat itu. Bila ia menumpahkan susu di karpet, itu bukanlah kesengajaan karena ingin membuat Anda repot mencuci karpet, melainkan karena koordinasi tangannya yang belum stabil.
Bila ia merusakkan mainannya, itu lebih karena keinginatahuannya. Bila ia bermain-main dengan pot kesayangan Anda dan akhirnya pecah, itu bukanlah karena sengaja ingin membuat Anda marah. Bagi anak kecil bermain adalah proses belajar. Ia akan belajar memahami bahwa barang kaca akan pecah bila dibanting.
Rasulullah SAW bersabda; "Hobi, permainan dan kelincahan gerak seorang anak pada waktu kecil, akan mempertajam pemikirannya ketika dewasa." (HR At-Tirmidzi).
Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya 'Ulumuddin juz V bab Mengobati Penyakit Hati, "Hendaknya anak kecil diberi kesempatan bermain. Melarangnya bermain dan menyibukkannya dengan belajar terus akan mematikan hatinya, mengurangi kecerdasannya, dan membuatnya jemu terhadap hidup, sehingga ia akan sering mencari alasan untuk membebaskan diri dari keadaan sumpek itu."
Menurut Ma'ruf Zurayk, guru besar pendidikan dan Psikologi Univ.Darul Mu'minin Damaskus, pendidikan anak yang dilakukan dengan bentuk yang keras dan kaku mengkaibatkan perasaan tertekan, hancurnya kepribadian, dan tidak adanya kesempatan untuk mengungkapkan kepribadian anak. Inilah hal-hal yang menyebabkan anak menggunakan kebohongan sebagai sarana, yang dengan jalan itu, ia memperoleh tempat yang dianggap baik dan dikagumi bagi kedua orangtuanya. Menurut Zurayk, terkadang anak juga berbohong karena takut hukuman yang dijatuhkan kepadanya atau hanya karena sekedar kesenangan yang timbul dari sikap menentang terhadap kekuasaan yang keras orang tuanya.
Matthew McKay PhD telah menghabiskan waktu dua tahun untuk meneliti perilaku marah orang tua dan efeknya terhadap anak-anak. Dia menemukan bahwa 2/3 orangtua (dari285 orang tua yang diteliti) mengungkapkan rasa marah kepada anak dengan berteriak dan membentak rata-rata 5 kali seminggu. Artinya, hampir setiap hari anak-anak menerima bentakan dari orangtuanya. Menurut McKay, "Bila Anda membentak anak hampir setiap hari, anak akan terluka hatinya. Bila hanya sekali seminggu atau sekali sebulan, anak tidak akan merasakan adanya serangan psikis terhadap dirinya."
Daripada Anda menghabiskan energi untuk marah dan akan berdampak negatif pada psikologis Anak, lebih baik Anda melakukan perbuatan preventif, misalnya, jangan meletakkan barang pecah belah di tempat yang terjangkau oleh anak. Atau, selagi anak masih kecil, Anda tidak perlu memasang karpet atau permadani mahal di lantai yang memerlukan tenaga ekstra untuk membersihkannya.
Sebaiknya pula, orangtua menghindari kata-kata yang bersifat larangan. Pertama, karena akan membuat anak sulit menentukan alternatif tindakan. Misalnya, ketika ia berteriak-teriak, kita akan mmbentak, "Sst diam, jangan teriak!" Lalu, dia akan melakukan kegiatan lain, seperti memukul meja. Bila kembali kita larang, anak akan bingung, "Apa yang harus aku lakukan? Ini jangan, itu jangan."
Kedua, larangan (apalagi yang disertai bentakan dan marah) akan membuat anak kehilangan kreativitasnya. Adalah naïf bila orang tua melarang anak merusak mainannya yang hanya berharga sepuluh ribu perak tapi menebusnya dengan kematian kreativitas yang merupakan bekal utama anak untuk hidup di masa depan.
Tulisan ini akan kami akhiri dengan hadis Rasulullah, "Masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." Ayah dan ibu adalah pemimpin anak-anak mereka dan kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Karena itu, bersikap jujur dan lembutlah kepada anak!
Last Updated ( Monday, 07 January 2008 )
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=44&Itemid=28
Sabtu, 20 September 2008
MENGAPA HARUS JUJUR ?
MENGAPA HARUS JUJUR
Reza Iskandar Achmad - 03/01/2008 in : Kehidupan , trackback
Jujur, adalah sikap pribadi. Jujur diekspresikan dengan kata-kata atau sikap yang mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Tidak ditutupi atau bahkan tidak menipu. Jujur adalah energi positif. Menyatakan sesuatu dengan langsung, spontan, lugas, apa adanya akan menghemat waktu dan energi. Terjadilah efisiensi. Itulah yang dikatakan oleh Sawitri Supardi Sadarjoen (SSS), seorang psikolog.
SSS menambahkan, alasan kenapa perlu jujur adalah terhindar dari masalah-masalah:
1. kemungkinan terjadi kesalahpahaman
2. kemungkinan menghindar secara emosional
3. kemungkinan menyakiti perasaan orang lain yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan
4. kemungkinan membuang-buang waktu dan energi mental dengan percuma
Setiap manusia pasti pernah merasakan atau terlibat dengan hal yang berkaitan dengan kejujuran ini. Pernah merasa dibohongi, pernah menemukan kejujuran, bahkan mungkin pernah melakukan kebohongan atau berlaku jujur. Dari semua pengalaman yang mungkin itu, setiap manusia tentu tahu bagaimana rasanya. Rasa ketika tahu dibohongi, rasa ketika menemukan sebuah kejujuran. Berbagai rasa, sulit untuk diungkapkan, tapi jujurlah.. apa yang menjadi pilihan ? jujur atau tidak jujur ?
Hal-hal yang dihindari seperti apa yang dikatakan SSS pada dasarnya menyangkut dua hal, yaitu rasa dan logika. Tiga poin diantaranya adalah persoalan rasa. Tiga dari Empat memiliki arti sebagian besar. Jadi, kejujuran memiliki kaitan sangat erat dengan perasaan.
Menyoal perasaan, kebahagiaan adalah tujuan dari semua manusia. Bahagia dan senang biasanya mengikuti kejujuran, meskipun mungkin didahului dengan rasa marah atau kesal . Jadi jujur kepada teman, pasangan atau calon pasangan hidup, atau orang-orang sekitar adalah pilihan bijaksana.
Untuk berlaku jujur, itu tidak mudah. Ada rasa malu, takut, marah atau gengsi. Tapi, energi besar yang diperlukan untuk jujur hanya sesaat. Setelah itu, energi besar lainnya akan segera didapat. Apa itu ? pemahaman, pengertian, penghargaan, penghormatan, kasih sayang dan cinta. Semua energi besar itu akan semakin kuat dan sejati dengan suntikan kejujuran.
Mulai sekarang, tidak ada salahnya mengakui dan niatkan untuk jujur..
- shiro-
http://blog.chipset.or.id/2008/01/03/mengapa-harus-jujur/
Reza Iskandar Achmad - 03/01/2008 in : Kehidupan , trackback
Jujur, adalah sikap pribadi. Jujur diekspresikan dengan kata-kata atau sikap yang mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Tidak ditutupi atau bahkan tidak menipu. Jujur adalah energi positif. Menyatakan sesuatu dengan langsung, spontan, lugas, apa adanya akan menghemat waktu dan energi. Terjadilah efisiensi. Itulah yang dikatakan oleh Sawitri Supardi Sadarjoen (SSS), seorang psikolog.
SSS menambahkan, alasan kenapa perlu jujur adalah terhindar dari masalah-masalah:
1. kemungkinan terjadi kesalahpahaman
2. kemungkinan menghindar secara emosional
3. kemungkinan menyakiti perasaan orang lain yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan
4. kemungkinan membuang-buang waktu dan energi mental dengan percuma
Setiap manusia pasti pernah merasakan atau terlibat dengan hal yang berkaitan dengan kejujuran ini. Pernah merasa dibohongi, pernah menemukan kejujuran, bahkan mungkin pernah melakukan kebohongan atau berlaku jujur. Dari semua pengalaman yang mungkin itu, setiap manusia tentu tahu bagaimana rasanya. Rasa ketika tahu dibohongi, rasa ketika menemukan sebuah kejujuran. Berbagai rasa, sulit untuk diungkapkan, tapi jujurlah.. apa yang menjadi pilihan ? jujur atau tidak jujur ?
Hal-hal yang dihindari seperti apa yang dikatakan SSS pada dasarnya menyangkut dua hal, yaitu rasa dan logika. Tiga poin diantaranya adalah persoalan rasa. Tiga dari Empat memiliki arti sebagian besar. Jadi, kejujuran memiliki kaitan sangat erat dengan perasaan.
Menyoal perasaan, kebahagiaan adalah tujuan dari semua manusia. Bahagia dan senang biasanya mengikuti kejujuran, meskipun mungkin didahului dengan rasa marah atau kesal . Jadi jujur kepada teman, pasangan atau calon pasangan hidup, atau orang-orang sekitar adalah pilihan bijaksana.
Untuk berlaku jujur, itu tidak mudah. Ada rasa malu, takut, marah atau gengsi. Tapi, energi besar yang diperlukan untuk jujur hanya sesaat. Setelah itu, energi besar lainnya akan segera didapat. Apa itu ? pemahaman, pengertian, penghargaan, penghormatan, kasih sayang dan cinta. Semua energi besar itu akan semakin kuat dan sejati dengan suntikan kejujuran.
Mulai sekarang, tidak ada salahnya mengakui dan niatkan untuk jujur..
- shiro-
http://blog.chipset.or.id/2008/01/03/mengapa-harus-jujur/
Minggu, 14 September 2008
Orang Jujur, InsyaAllah Mujur
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan dusta
terhadap Allah, sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (QS 61: 7)
Banyak orang terjebak ke dalam pola hidup yang diwarnai oleh berbagai kedustaan atau kebohongan. Mereka menganggap bahwa kejujuran membawa mereka kepada kehancuran. Kebohongan merajalela dan kejujuran menjadi barang langka. Pada saat seperti inilah, ketika jujur menjadi barang langka umat Islam mestinya kembali menyemaikan jujur di dalam diri mereka masing-masing, sehingga mereka memiliki keunggulan kompetitif dibanding orang lain. Keunggulan kompetitif yang berupa sifat jujur akan menjadi daya tarik tersendiri di dalam berdakwah.
Seorang penjual bensin eceran tertegun, terpesona terhadap pembelinya ketika pembeli mengembalikan kelebihan uang kembalian. Mestinya dia cukup memberikan uang kembalian Rp 10.000,- tetapi karena mengira uang yang diberikan kepadanya lima puluh ribuan maka dia memberikan uang kembalian Rp 40.000,- untuk dua liter bensin. Tetapi karena kejujurannya pemuda tadi spontan mengembalikan kelebihannya yang Rp 30.000,-. Dari wajah penjual bensin tercermin kekaguman dan rasa terima kasih yang dalam. Semua orang suka berurusan dengan orang jujur. Semua orang merasa aman berhadapan dengan orang jujur. Semua orang lebih suka mempercayakan amanat kepada orang jujur. Secara fitri tidak ada orang yang suka dibohongi. Tidak ada orang yang suka memberikan kepercayaan kepada orang yang suka bohong. Semua orang khawatir berurusan dengan orang bohong. Maka mengapa banyak orang bohong dan sedikit sekali orang yang jujur?
Rasulullah saw berpesan bahwa wajib atas kamu jujur, karena jujur membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke sorga. Sudah tiba saatnya, sekarang untuk kembali menumbuhkan sifat-sifat mulia yang ditanamkan Allah di dalam hati manusia, termasuk jujur. Orang yang jujur akan dicintai teman dan disegani lawan. Orang yang jujur akan dipercaya atasan dan dihormati bawahan. Hanya orang jujurlah yang dapat memegang amanat dengan baik. Karena kejujurannya dia akan menunaikan amanat sebaik-baiknya. Dia tidak akan berkhianat, karena khianat sama dengan tidak jujur kepada diri sendiri, pemberi amanat, dan Tuhan. Berbekal jujur, orang akan lebih mudah untuk menumbuhkan sifat-sifat mulia yang lain. Maka hampir dapat dipastikan bahwa terminal akhir bagi orang yang jujur adalah keberhasilan. Orang yang hidupnya dihiasi dengan kejujuran karena Allah, maka Allah akan menunjuki dan membimbingnya menuju sorga.
Memang orang yang jujur akan menghadapi resiko berupa cacian, kebencian, fitnah dan permusuhan dari orang di sekitarnya. Tapi yakinlah orang yang membenci orang yang jujur itu berarti orang yang buruk akhlaknya. Asal dia terus konsisten dan konsekuen dengan kejujurannya sudah pasti Allah swt akan mendatangkan kemenangan baginya. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kita bergeser sedikitpun dari sifat jujur ini, karena sifat ini yang akan mendatangkan kemujuran, bukan kehancuran.
Mari kita mulai menumbuhkan jujur ini dari diri kita sendiri, bersikap jujur kepada diri kita sendiri. Kalau kita sudah berikrar sebagai orang Islam mari kita jujur kepada keislaman yang sudah kita yakini di dalam hati. Kita tunaikan kewajiban kita sebagai orang Islam sebaik-baiknya dan minta hak kita di hadapan Allah nanti. Jujur saja, sebagai orang Islam kita tidak suka dibohongi, maka mari kita tidak berbohong kepada siapapun. Jujur saja, sebagai juragan kita tidak suka melihat pegawai kita malas, maka mari kita tidak malas dalam situasi dan kondisi apapun. Jujur saja, kita tidak suka melihat orang menggunjing, maka mari kita tidak menggunjing.
Lalu kita kembangkan untuk jujur kepada Allah. Kalau Allah memerintahkan kita untuk menegakkan shalat, maka mari kita tegakkan shalat dalam situasi dan kondisi apapun. Kita tegakkan shalat ketika kita kuliah. Kita tegakkan shalat ketika kita bekerja. Kita tegakkan shalat ketika kita berdagang. Kita hiasi seluruh aktivitas kita dengan shalat kita. Kita hadirkan Allah yang kita sembah dalam shalat kita dalam seluruh desah nafas kita. Di sisi lain kalau Allah tidak suka melihat kita berbuat bid'ah, maka mari kita fahami apa yang namanya bid'ah itu, lalu kita hindari bid'ah dalam ibadah termasuk dalam shalat selama-lamanya. Jujur kita kepada Allah akan mengundang kasih sayang-Nya kepada kita semua.
Berikutnya jujur kepada keluarga, jujur kepada karib kerabat, teman dan sahabat dan jujur kepada semua orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal. Kepada orang kafirpun sudah selayaknya kalau kita berlaku jujur. Alangkah indahnya bila bangsa ini dapat melakukan pertaubatan nasional untuk berhenti dari kebohongan dan memasyarakatkan kejujuran. Politikus bohong, bertaubat. Birokrat bohong bertaubat. Anggota Dewan bohong bertaubat. Ekonom bohong bertaubat. Koruptor, manipulator, semua yang kotor-kotor bertaubat. Karena taubat, lalu memilih jujur dari pada bohong, maka hati mereka menjadi bersih. Atas nama jujur karena Allah mereka berhenti dari bohong, berhenti dari malas, dan segala perilaku yang kontra produktif. Maka efisiensi di segala lini akan meningkat. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat bangsa ini insya Allah akan meraih kemajuan dengan pesat. Nunggu apalagi? Mari segera mulai, mulai sekarang dan mulai dari diri kita sendiri. Kita serukan kepada semua orang bahwa ORANG JUJUR INSYA ALLAH AKAN MUJUR
Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan dusta
terhadap Allah, sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (QS 61: 7)
Banyak orang terjebak ke dalam pola hidup yang diwarnai oleh berbagai kedustaan atau kebohongan. Mereka menganggap bahwa kejujuran membawa mereka kepada kehancuran. Kebohongan merajalela dan kejujuran menjadi barang langka. Pada saat seperti inilah, ketika jujur menjadi barang langka umat Islam mestinya kembali menyemaikan jujur di dalam diri mereka masing-masing, sehingga mereka memiliki keunggulan kompetitif dibanding orang lain. Keunggulan kompetitif yang berupa sifat jujur akan menjadi daya tarik tersendiri di dalam berdakwah.
Seorang penjual bensin eceran tertegun, terpesona terhadap pembelinya ketika pembeli mengembalikan kelebihan uang kembalian. Mestinya dia cukup memberikan uang kembalian Rp 10.000,- tetapi karena mengira uang yang diberikan kepadanya lima puluh ribuan maka dia memberikan uang kembalian Rp 40.000,- untuk dua liter bensin. Tetapi karena kejujurannya pemuda tadi spontan mengembalikan kelebihannya yang Rp 30.000,-. Dari wajah penjual bensin tercermin kekaguman dan rasa terima kasih yang dalam. Semua orang suka berurusan dengan orang jujur. Semua orang merasa aman berhadapan dengan orang jujur. Semua orang lebih suka mempercayakan amanat kepada orang jujur. Secara fitri tidak ada orang yang suka dibohongi. Tidak ada orang yang suka memberikan kepercayaan kepada orang yang suka bohong. Semua orang khawatir berurusan dengan orang bohong. Maka mengapa banyak orang bohong dan sedikit sekali orang yang jujur?
Rasulullah saw berpesan bahwa wajib atas kamu jujur, karena jujur membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke sorga. Sudah tiba saatnya, sekarang untuk kembali menumbuhkan sifat-sifat mulia yang ditanamkan Allah di dalam hati manusia, termasuk jujur. Orang yang jujur akan dicintai teman dan disegani lawan. Orang yang jujur akan dipercaya atasan dan dihormati bawahan. Hanya orang jujurlah yang dapat memegang amanat dengan baik. Karena kejujurannya dia akan menunaikan amanat sebaik-baiknya. Dia tidak akan berkhianat, karena khianat sama dengan tidak jujur kepada diri sendiri, pemberi amanat, dan Tuhan. Berbekal jujur, orang akan lebih mudah untuk menumbuhkan sifat-sifat mulia yang lain. Maka hampir dapat dipastikan bahwa terminal akhir bagi orang yang jujur adalah keberhasilan. Orang yang hidupnya dihiasi dengan kejujuran karena Allah, maka Allah akan menunjuki dan membimbingnya menuju sorga.
Memang orang yang jujur akan menghadapi resiko berupa cacian, kebencian, fitnah dan permusuhan dari orang di sekitarnya. Tapi yakinlah orang yang membenci orang yang jujur itu berarti orang yang buruk akhlaknya. Asal dia terus konsisten dan konsekuen dengan kejujurannya sudah pasti Allah swt akan mendatangkan kemenangan baginya. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kita bergeser sedikitpun dari sifat jujur ini, karena sifat ini yang akan mendatangkan kemujuran, bukan kehancuran.
Mari kita mulai menumbuhkan jujur ini dari diri kita sendiri, bersikap jujur kepada diri kita sendiri. Kalau kita sudah berikrar sebagai orang Islam mari kita jujur kepada keislaman yang sudah kita yakini di dalam hati. Kita tunaikan kewajiban kita sebagai orang Islam sebaik-baiknya dan minta hak kita di hadapan Allah nanti. Jujur saja, sebagai orang Islam kita tidak suka dibohongi, maka mari kita tidak berbohong kepada siapapun. Jujur saja, sebagai juragan kita tidak suka melihat pegawai kita malas, maka mari kita tidak malas dalam situasi dan kondisi apapun. Jujur saja, kita tidak suka melihat orang menggunjing, maka mari kita tidak menggunjing.
Lalu kita kembangkan untuk jujur kepada Allah. Kalau Allah memerintahkan kita untuk menegakkan shalat, maka mari kita tegakkan shalat dalam situasi dan kondisi apapun. Kita tegakkan shalat ketika kita kuliah. Kita tegakkan shalat ketika kita bekerja. Kita tegakkan shalat ketika kita berdagang. Kita hiasi seluruh aktivitas kita dengan shalat kita. Kita hadirkan Allah yang kita sembah dalam shalat kita dalam seluruh desah nafas kita. Di sisi lain kalau Allah tidak suka melihat kita berbuat bid'ah, maka mari kita fahami apa yang namanya bid'ah itu, lalu kita hindari bid'ah dalam ibadah termasuk dalam shalat selama-lamanya. Jujur kita kepada Allah akan mengundang kasih sayang-Nya kepada kita semua.
Berikutnya jujur kepada keluarga, jujur kepada karib kerabat, teman dan sahabat dan jujur kepada semua orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal. Kepada orang kafirpun sudah selayaknya kalau kita berlaku jujur. Alangkah indahnya bila bangsa ini dapat melakukan pertaubatan nasional untuk berhenti dari kebohongan dan memasyarakatkan kejujuran. Politikus bohong, bertaubat. Birokrat bohong bertaubat. Anggota Dewan bohong bertaubat. Ekonom bohong bertaubat. Koruptor, manipulator, semua yang kotor-kotor bertaubat. Karena taubat, lalu memilih jujur dari pada bohong, maka hati mereka menjadi bersih. Atas nama jujur karena Allah mereka berhenti dari bohong, berhenti dari malas, dan segala perilaku yang kontra produktif. Maka efisiensi di segala lini akan meningkat. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat bangsa ini insya Allah akan meraih kemajuan dengan pesat. Nunggu apalagi? Mari segera mulai, mulai sekarang dan mulai dari diri kita sendiri. Kita serukan kepada semua orang bahwa ORANG JUJUR INSYA ALLAH AKAN MUJUR
Jumat, 12 September 2008
Buah Kejujuran
BUAH KEJUJURAN
Hudzaifah.org - Pada suatu malam (menjelang dini hari), khalifah Umar bin Khattab r.a. disertai pengawalnya melakukan inspeksi ke pinggiran kota. Beliau mendengar percakapan dua orang wanita, ibu dan anak gadisnya.
Ibu : ”Campur saja susunya dengan air (agar kelihatan banyak peny.)”
Anak : ”Bagaimana saya harus melakukannya sedang amirul mukminin (khalifah Umar) telah mengeluarkan pernyataan yang melarangnya?”
Ibu : ”Khalifah Umar toh tidak mengetahuinya.”
Anak : ”Kalau khalifah Umar tidak mengetahuinya, maka pasti Allah mengetahuinya.”
Percakapan antara keduanya berkesan sekali di hati Umar r.a. Keesokan harinya ia menyuruh pengawalnya menyelidiki kedua wanita itu. Setelah diketahui bahwa putri itu seorang gadis, lalu, Umar memanggil putranya, ’Aashim dan menawarkan gadis itu untuk dinikahinya, dan disuruhnya putranya itu untuk melihat langsung paras wajahnya, seraya berpesan kepadanya, ”Pergilah wahai anakku. Lihatlah gadis itu, nikahilah dia, dan aku berharap dia akan melahirkan seorang pahlawan yang mampu memimpin bangsa Arab.”
Pernikahan pun berlangsung, dan dari mereka lahir seorang perempuan yang dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan. Kemudian dari pernikahan itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang sangat adil.
Tepat sekali ramalan Khalifah Umar bin Khattab r.a. Sifat amanat dan kejujuran menjadi penghubung antara Khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. []
Sumber : Buku ”Hikmah dalam Humor, Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”, A. Azim Salim Basyarahil”
Hudzaifah.org - Pada suatu malam (menjelang dini hari), khalifah Umar bin Khattab r.a. disertai pengawalnya melakukan inspeksi ke pinggiran kota. Beliau mendengar percakapan dua orang wanita, ibu dan anak gadisnya.
Ibu : ”Campur saja susunya dengan air (agar kelihatan banyak peny.)”
Anak : ”Bagaimana saya harus melakukannya sedang amirul mukminin (khalifah Umar) telah mengeluarkan pernyataan yang melarangnya?”
Ibu : ”Khalifah Umar toh tidak mengetahuinya.”
Anak : ”Kalau khalifah Umar tidak mengetahuinya, maka pasti Allah mengetahuinya.”
Percakapan antara keduanya berkesan sekali di hati Umar r.a. Keesokan harinya ia menyuruh pengawalnya menyelidiki kedua wanita itu. Setelah diketahui bahwa putri itu seorang gadis, lalu, Umar memanggil putranya, ’Aashim dan menawarkan gadis itu untuk dinikahinya, dan disuruhnya putranya itu untuk melihat langsung paras wajahnya, seraya berpesan kepadanya, ”Pergilah wahai anakku. Lihatlah gadis itu, nikahilah dia, dan aku berharap dia akan melahirkan seorang pahlawan yang mampu memimpin bangsa Arab.”
Pernikahan pun berlangsung, dan dari mereka lahir seorang perempuan yang dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan. Kemudian dari pernikahan itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang sangat adil.
Tepat sekali ramalan Khalifah Umar bin Khattab r.a. Sifat amanat dan kejujuran menjadi penghubung antara Khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. []
Sumber : Buku ”Hikmah dalam Humor, Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”, A. Azim Salim Basyarahil”
Kamis, 28 Agustus 2008
Menakar Kejujuran
Menakar Kejujuran
Jangan heran jika Anda tak menemui seorang penjaga pun di kantin SMA Negeri 1 Ciparay Kab. Bandung. Meski banyak pembeli "menyerbu" makanan yang dijajakan, sang penjaga kantin tak akan pernah muncul. Uniknya, pembeli memahami benar keadaan itu. Mereka akan mengeluarkan uang dari saku dan meletakkannya dalam kotak khusus saat mengambil makanan, yang jumlahnya sesuai dengan harga banderol. Jika jumlah uangnya terlalu besar, pembeli pulalah yang mengambil kembaliannya.
Tidak, penjaga kantin tidak sedang berhalangan atau sakit. Kantin di SMAN 1 Ciparay di Desa Pakutandang, Kec. Ciparay, Kab. Bandung itu memang tak memiliki penjaga. Hanya kejujuran pembelilah yang memegang peran dalam kegiatan operasional kantin tersebut sehari-hari. Rugikan? Tentu saja tidak, selama kejujuran dapat ditegakkan oleh para pembeli. Konsep yang sangat sederhana, namun mungkin akan sangat sulit dalam pelaksanaannya.
Kantin di SMAN 1 Ciparay itu dinamai Kantin Kejujuran. Sekilas, kantin ini tak ubahnya kebanyakan kantin lainnya. Pembedanya hanya dalam pola pembayaran yang menitikberatkan pada kesadaran pembeli. Kantin Kejujuran yang diresmikan.langsung oleh Bupati Bandung Obar Sobarna, Selasa (15/1) itu merupakan metode baru yang rencananya akan diterapkan di seluruh sekolah di Kab. Bandung. Meski bukan yang pertama di Indonesia, boleh jadi Kantin Kejujuran ini merupakan yang pertama di Jawa Barat.
"Kantin Kejujuran ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri, lingkungan, hingga bangsa dan negara," kata Obar Sobarna. Ia berharap, tak akan ada lagi praktik "darmaji" alias dahar lima ngaku hiji (makan lima tetapi mengaku satu) dalam kehidupan sehari-hari. Jika praktik kejujuran ini mulai dapat diterapkan pada pelajar, maka diharapkan mereka akan menjadi penerus bangsa yang jujur untuk memajukan bangsa ini.
Kantin Kejujuran dapat merefleksikan tabiat para siswa yang ada di sekolah itu. Jika kantin tak bertahan lama karena bangkrut, maka hampir dipastikan para siswa di sekolah itu tak lagi berlaku jujur. Sebaliknya, kantin akan semakin maju saat semua siswa memegang tinggi asas kejujuran dalam kesehariannya.
Kantin Kejujuran itu digagas Pemkab Bandung, Kejaksaan Negeri Bandung, dan Karang Taruna. Tak tanggung-tanggung, Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Eko Soesamto Tjiptadi turut hadir dalam peresmian kantin tersebut. Hadir pula Ketua Karang Taruna Pusat, Doddy Susanto.
"Saya yakin, jika satu sen saja uang dari kantin tersebut diselewengkan maka umur kantin ini tak akan lebih dari tiga bulan," kata Eko Soesamto Tjiptadi. Menurut dia, kantin tersebut merupakan media praktik pendidikan kejujuran bagi siswa sekolah. Siswa akan dihadapkan pada dua pilihan, apakah ingin menerapkan kejujuran hati nuraninya atau tidak.
"Kita seharusnya malu, Indonesia adalah negara terkorup kedua di Asia tahun ini. Ironisnya, negara ini memiliki sekitar 622.000 bangunan masjid dan paling banyak kegiatan khotbahnya," kata Eko yang disambut dengan riuhnya suara hadirin. Ia yakin, pemberantasan korupsi tidak akan berhasil selama tak ada peran serta seluruh masyarakat, termasuk siswa sebagai generasi penerus bangsa. Apabila kejujuran sudah diterapkan sejak dini, diharapkan akan dapat menyukseskan pemberantasan korupsi pada masa yang akan datang.
Acara pembukaan Kantin Kejujuran ini diikuti perwakilan SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah se Kab. Bandung. Pada tahap selanjutnya, program ini akan diterapkan di seluruh SLTA di Kab. Bandung. Pada kesempatan yang sama, Bupati Bandung memberikan dana stimulan bagi beberapa SLTA untuk menerapkan sistem Kantin Kejujuran tersebut.
Mungkin sudah saatnya para pejabat penting negara ini bercermin pada siswa SMAN 1 Ciparay. Jika anak sekolah saja bisa berbuat jujur, mengapa masih banyak pejabat yang korup? Tunggu apa lagi? ***
Sumber : Pikiran Rakyat, 16 Januari 2008
http://www.kpk.go.id/modules/news/article.php?storyid=2472
Jangan heran jika Anda tak menemui seorang penjaga pun di kantin SMA Negeri 1 Ciparay Kab. Bandung. Meski banyak pembeli "menyerbu" makanan yang dijajakan, sang penjaga kantin tak akan pernah muncul. Uniknya, pembeli memahami benar keadaan itu. Mereka akan mengeluarkan uang dari saku dan meletakkannya dalam kotak khusus saat mengambil makanan, yang jumlahnya sesuai dengan harga banderol. Jika jumlah uangnya terlalu besar, pembeli pulalah yang mengambil kembaliannya.
Tidak, penjaga kantin tidak sedang berhalangan atau sakit. Kantin di SMAN 1 Ciparay di Desa Pakutandang, Kec. Ciparay, Kab. Bandung itu memang tak memiliki penjaga. Hanya kejujuran pembelilah yang memegang peran dalam kegiatan operasional kantin tersebut sehari-hari. Rugikan? Tentu saja tidak, selama kejujuran dapat ditegakkan oleh para pembeli. Konsep yang sangat sederhana, namun mungkin akan sangat sulit dalam pelaksanaannya.
Kantin di SMAN 1 Ciparay itu dinamai Kantin Kejujuran. Sekilas, kantin ini tak ubahnya kebanyakan kantin lainnya. Pembedanya hanya dalam pola pembayaran yang menitikberatkan pada kesadaran pembeli. Kantin Kejujuran yang diresmikan.langsung oleh Bupati Bandung Obar Sobarna, Selasa (15/1) itu merupakan metode baru yang rencananya akan diterapkan di seluruh sekolah di Kab. Bandung. Meski bukan yang pertama di Indonesia, boleh jadi Kantin Kejujuran ini merupakan yang pertama di Jawa Barat.
"Kantin Kejujuran ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri, lingkungan, hingga bangsa dan negara," kata Obar Sobarna. Ia berharap, tak akan ada lagi praktik "darmaji" alias dahar lima ngaku hiji (makan lima tetapi mengaku satu) dalam kehidupan sehari-hari. Jika praktik kejujuran ini mulai dapat diterapkan pada pelajar, maka diharapkan mereka akan menjadi penerus bangsa yang jujur untuk memajukan bangsa ini.
Kantin Kejujuran dapat merefleksikan tabiat para siswa yang ada di sekolah itu. Jika kantin tak bertahan lama karena bangkrut, maka hampir dipastikan para siswa di sekolah itu tak lagi berlaku jujur. Sebaliknya, kantin akan semakin maju saat semua siswa memegang tinggi asas kejujuran dalam kesehariannya.
Kantin Kejujuran itu digagas Pemkab Bandung, Kejaksaan Negeri Bandung, dan Karang Taruna. Tak tanggung-tanggung, Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Eko Soesamto Tjiptadi turut hadir dalam peresmian kantin tersebut. Hadir pula Ketua Karang Taruna Pusat, Doddy Susanto.
"Saya yakin, jika satu sen saja uang dari kantin tersebut diselewengkan maka umur kantin ini tak akan lebih dari tiga bulan," kata Eko Soesamto Tjiptadi. Menurut dia, kantin tersebut merupakan media praktik pendidikan kejujuran bagi siswa sekolah. Siswa akan dihadapkan pada dua pilihan, apakah ingin menerapkan kejujuran hati nuraninya atau tidak.
"Kita seharusnya malu, Indonesia adalah negara terkorup kedua di Asia tahun ini. Ironisnya, negara ini memiliki sekitar 622.000 bangunan masjid dan paling banyak kegiatan khotbahnya," kata Eko yang disambut dengan riuhnya suara hadirin. Ia yakin, pemberantasan korupsi tidak akan berhasil selama tak ada peran serta seluruh masyarakat, termasuk siswa sebagai generasi penerus bangsa. Apabila kejujuran sudah diterapkan sejak dini, diharapkan akan dapat menyukseskan pemberantasan korupsi pada masa yang akan datang.
Acara pembukaan Kantin Kejujuran ini diikuti perwakilan SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah se Kab. Bandung. Pada tahap selanjutnya, program ini akan diterapkan di seluruh SLTA di Kab. Bandung. Pada kesempatan yang sama, Bupati Bandung memberikan dana stimulan bagi beberapa SLTA untuk menerapkan sistem Kantin Kejujuran tersebut.
Mungkin sudah saatnya para pejabat penting negara ini bercermin pada siswa SMAN 1 Ciparay. Jika anak sekolah saja bisa berbuat jujur, mengapa masih banyak pejabat yang korup? Tunggu apa lagi? ***
Sumber : Pikiran Rakyat, 16 Januari 2008
http://www.kpk.go.id/modules/news/article.php?storyid=2472
Arti Kejujuran
Kejujuran Sang Imam Hanafi
Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota Kufah.
Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.
Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.
“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,” tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.
“Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.“Berapa harganya?” tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.” Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.
“Sayang sekali.” perempuan itu tampak kecewa.
“Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”
“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”
“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,” katanya.
“Tidak apa-apa, terima kasih,” sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.
Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak.
Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.“Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”
“Memang, saya pun sangat menyukainya.” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih.“Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,” katanya lagi.
Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini.
“Saya akan menghadiahkannya untuk ibu,” kata Imam Hanafi.
“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”
“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”
Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.
“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.”
Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.
Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.
Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.
“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.
“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,” kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.
“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.
“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.” kata sahabatnya dengan nada menyesal.
Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.
“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya,” ucap Imam Hanafi.
Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui.
Imam Hanafi amat sedih.
Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.
“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,” ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.
Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.
Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu di sudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.
Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.
“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya?” tanyanya.
“Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.
Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.
http://taubatku.wordpress.com/2008/08/13/kejujuran-imam-hanafi/
Arti Kejujuran
Abdullah bin Dinar meriwayatkan, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar, "Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu." "Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya," jawab si gembala. "Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala," lanjut Khalifah. Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Lalu, di mana Allah?"
Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, "Kalimat 'di mana Allah' itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak." Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.
Islam menganjurkan berlaku jujur bagi setiap orang --apa pun profesinya-- dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Muhammad saw menegaskan, "Berlaku jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kejujuran itu menuntun ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu menyeret kepada dosa dan kemungkaran, dan sesungguhnya dosa itu menuntun ke neraka." (HR Bukhari).
Berlaku jujur memang sulit manakala ia berbenturan dengan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat duniawi. Orang rela mengorbankan kejujurannya demi kepentingan materi, pangkat, jabatan dan semacamnya. Yang tergambar dalam pikirannya bahwa dengan banyaknya materi yang dia miliki segera akan dihormati orang banyak, dengan ketinggian jabatan dan kedudukan yang dia sandang serta merta mendapatkan penghargaan dan prestise di masyarakat.
Dari sini maka muncullah spekulasi kebohongan untuk maksud asal bapak senang, menghalalkan segala cara, menumpuk kekayaan di atas keprihatinan orang lain, tidak peduli akan terjadinya kesenjangan sosial, dan meningkatnya angka kemiskinan. Alhasil, kebohongan demi kebohongan dengan mudah ia lakukan demi kesenangan dan kenikmatan sesaat.
Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat masuk Islam, yang sebelumnya sangat gemar melakukan dosa besar --berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Nabi memahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, "Jangan berbohong."
Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini, namun ternyata implikasinya begitu indah, mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa, ia selalu teringat pada nasihat Nabi saw. Sedangkan untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah.
( Husein Imbali)
http://www.republika.co.id/launcher/view2/mid/161/news_id/5182
Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota Kufah.
Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.
Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.
“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,” tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.
“Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.“Berapa harganya?” tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.” Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.
“Sayang sekali.” perempuan itu tampak kecewa.
“Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”
“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”
“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,” katanya.
“Tidak apa-apa, terima kasih,” sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.
Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak.
Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.“Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”
“Memang, saya pun sangat menyukainya.” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih.“Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,” katanya lagi.
Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini.
“Saya akan menghadiahkannya untuk ibu,” kata Imam Hanafi.
“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”
“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”
Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.
“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.”
Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.
Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.
Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.
“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.
“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,” kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.
“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.
“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.” kata sahabatnya dengan nada menyesal.
Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.
“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya,” ucap Imam Hanafi.
Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui.
Imam Hanafi amat sedih.
Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.
“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,” ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.
Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.
Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu di sudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.
Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.
“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya?” tanyanya.
“Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.
Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.
http://taubatku.wordpress.com/2008/08/13/kejujuran-imam-hanafi/
Arti Kejujuran
Abdullah bin Dinar meriwayatkan, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar, "Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu." "Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya," jawab si gembala. "Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala," lanjut Khalifah. Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Lalu, di mana Allah?"
Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, "Kalimat 'di mana Allah' itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak." Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.
Islam menganjurkan berlaku jujur bagi setiap orang --apa pun profesinya-- dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Muhammad saw menegaskan, "Berlaku jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kejujuran itu menuntun ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu menyeret kepada dosa dan kemungkaran, dan sesungguhnya dosa itu menuntun ke neraka." (HR Bukhari).
Berlaku jujur memang sulit manakala ia berbenturan dengan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat duniawi. Orang rela mengorbankan kejujurannya demi kepentingan materi, pangkat, jabatan dan semacamnya. Yang tergambar dalam pikirannya bahwa dengan banyaknya materi yang dia miliki segera akan dihormati orang banyak, dengan ketinggian jabatan dan kedudukan yang dia sandang serta merta mendapatkan penghargaan dan prestise di masyarakat.
Dari sini maka muncullah spekulasi kebohongan untuk maksud asal bapak senang, menghalalkan segala cara, menumpuk kekayaan di atas keprihatinan orang lain, tidak peduli akan terjadinya kesenjangan sosial, dan meningkatnya angka kemiskinan. Alhasil, kebohongan demi kebohongan dengan mudah ia lakukan demi kesenangan dan kenikmatan sesaat.
Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat masuk Islam, yang sebelumnya sangat gemar melakukan dosa besar --berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Nabi memahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, "Jangan berbohong."
Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini, namun ternyata implikasinya begitu indah, mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa, ia selalu teringat pada nasihat Nabi saw. Sedangkan untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah.
( Husein Imbali)
http://www.republika.co.id/launcher/view2/mid/161/news_id/5182
Jumat, 22 Agustus 2008
LAGI - LAGI KANTIN KEJUJURAN
Kantin Kejujuran
Beberapa sekolah mulai menerapkan “kantin kejujuran”: Siswa bebas ambil jajanan, mau berbohong, mau “nembak”, terserah.
Koran Tempo pada Minggu hari ini menulis, beberapa SMP dan SMA mulai mengajarkan pendidikan anti-korupsi kepada siswanya. Contohnya SMP Keluarga di Kudus, Jawa Tengah, membuat jajak pendapat terhadap siswa apakah bekas Presiden Soeharto adalah koruptor atau bukan. Hasilnya mengejutkan, ternyata Soeharto dianggap pahlawan oleh sebagian besar siswa. Sebanyak 83 siswa menilai Soeharto sebagai pahlawan, 33 siswa melihatnya sebagai koruptor, dan 55 siswa bersikap ragu.
Blog Berita: Tentu sangat berbeda dengan mahasiswa, yang bisa dipastikan sebagian besar menilai Soeharto sebagai koruptor. Apakah ini karena siswa di tingkat SMP dan SMA belum melek media — tidak sering membaca koran atau menonton berita di tivi?
Menurut Koran Tempo, sekolah lain mengajarkan materi anti-korupsi lewat lomba bikin puisi dan melukis poster dengan topik anti-korupsi. Di SMP Keluarga, SMAN 1 Tambun Bekasi, dan SMP 8 Padang dibuat kantin kejujuran. Warung ini dimodali OSIS dan uang siswa sendiri. Tidak ada kasir atau penjaga kantin, siswa bebas mengambil jajanan. Bila hendak membayar, siswa menaruh uangnya sendiri dan mengambil kembaliannya. Kalau mau ngutang, mereka mencatat sendiri.
Umumnya siswa bersikap jujur, dan hanya sedikit yang berbohong. “Nanti bisa seperti negaramu. Bisa bangkrut, dan itu namanya korupsi,” kata Basuki, guru SMP Keluarga, mengingatkan muridnya.
SMP Keluarga adalah sekolah di bawah naungan sebuah yayasan Katolik. Pihak pastoral telah mengeluarkan nota agar sekolah itu peduli mengatasi korupsi.
Blog Berita: Menerapkan kantin kejujuran di sekolah-sekolah di Tanah Batak, mungkinkah? “Holan sada do huallang pisang goreng, mi gomak saporsi.” Hape nungnga tolu pisang goreng dohot partambuan mi gomak. “Cuma satu aku ambil pisang goreng dengan satu mangkuk mie.” Padahal sudah tiga pisang dan mienya juga nambah. [blogberita.net]
Beberapa sekolah mulai menerapkan “kantin kejujuran”: Siswa bebas ambil jajanan, mau berbohong, mau “nembak”, terserah.
Koran Tempo pada Minggu hari ini menulis, beberapa SMP dan SMA mulai mengajarkan pendidikan anti-korupsi kepada siswanya. Contohnya SMP Keluarga di Kudus, Jawa Tengah, membuat jajak pendapat terhadap siswa apakah bekas Presiden Soeharto adalah koruptor atau bukan. Hasilnya mengejutkan, ternyata Soeharto dianggap pahlawan oleh sebagian besar siswa. Sebanyak 83 siswa menilai Soeharto sebagai pahlawan, 33 siswa melihatnya sebagai koruptor, dan 55 siswa bersikap ragu.
Blog Berita: Tentu sangat berbeda dengan mahasiswa, yang bisa dipastikan sebagian besar menilai Soeharto sebagai koruptor. Apakah ini karena siswa di tingkat SMP dan SMA belum melek media — tidak sering membaca koran atau menonton berita di tivi?
Menurut Koran Tempo, sekolah lain mengajarkan materi anti-korupsi lewat lomba bikin puisi dan melukis poster dengan topik anti-korupsi. Di SMP Keluarga, SMAN 1 Tambun Bekasi, dan SMP 8 Padang dibuat kantin kejujuran. Warung ini dimodali OSIS dan uang siswa sendiri. Tidak ada kasir atau penjaga kantin, siswa bebas mengambil jajanan. Bila hendak membayar, siswa menaruh uangnya sendiri dan mengambil kembaliannya. Kalau mau ngutang, mereka mencatat sendiri.
Umumnya siswa bersikap jujur, dan hanya sedikit yang berbohong. “Nanti bisa seperti negaramu. Bisa bangkrut, dan itu namanya korupsi,” kata Basuki, guru SMP Keluarga, mengingatkan muridnya.
SMP Keluarga adalah sekolah di bawah naungan sebuah yayasan Katolik. Pihak pastoral telah mengeluarkan nota agar sekolah itu peduli mengatasi korupsi.
Blog Berita: Menerapkan kantin kejujuran di sekolah-sekolah di Tanah Batak, mungkinkah? “Holan sada do huallang pisang goreng, mi gomak saporsi.” Hape nungnga tolu pisang goreng dohot partambuan mi gomak. “Cuma satu aku ambil pisang goreng dengan satu mangkuk mie.” Padahal sudah tiga pisang dan mienya juga nambah. [blogberita.net]
Langganan:
Postingan (Atom)
