Minggu, 16 November 2008

20 ciri-ciri orang yang inovatif

20 ciri-ciri orang yang inovatif

Mitchell Ditkoff, Direktur dari Idea Champions, mengetengahkan tentang kualitas dari seorang inovator, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.Challenges status quo; tidak merasa cepat puas dengan keadaan yang ada dan selalu mempertanyakan otoritas dan rutinitas serta mengkonfrontasikan asumsi-asumsi yang ada.
2.Curious; senantiasa mengeksplorasi lingkungannya dan menginvestigasi kemungkinan-kemungkinan baru, memiliki rasa kekaguman (sense of awe)
3.Self-motivated; tanggap terhadap kebutuhan dari dalam (inner needs) senantiasa secara proaktif memprakarsai proyek-proyek baru, menghargai setiap usaha.
4.Visionary; memiliki imaginasi yang tinggi dan memiliki pandangan yang jauh ke depan.
5.Entertains the fantastic; memunculkan ide-ide “gila”, memandang sesuatu yang tidak mungkin menjadi sebuah kemungkinan, memimpikan dan menghayalkan sesuatu yang besar-besar.
6.Takes risks; melampaui wilayah yang dianggap menyenangkan, berani mencoba dan menanggung kegagalan.
7.Peripatetic; merubah lingkungan kerja sesuai yang dibutuhkan, senang melakukan perjalanan (travelling) untuk memperoleh inspirasi atau pemikiran segar.
8.Playful/humorous; memliki ketertarikan terhadap hal-hal yang aneh dan mengagumkan, berani tampil beda, bertindak nekad, serta mudah dan sering tertawa layaknya seorang anak kecil.
9.Self-accepting; dapat mempertahankan ide-idenya dan menganggap “kesempurnaan sebagai musuh kebaikan”, tidak terikat dengan apa-apa yang diipandang baik menurut orang lain.
10.Flexible/adaptive –terbuka bagi setiap perubahan, mampu melakukan penyesuaian terhadap rencana-rencana yang telah dibuat, menyajikan berbagai solusi dan gagasan
11.Makes new connections; mampu melihat hubungan-hubungan diantara unsur-unsur yang terputus, mensintesakan dan mengkombinasikannya.
12.Reflective, menginkubasi setiap masalah dan tantangan, mencari dan merenungkan berbagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.
13.Recognizes (and re-cognizes) patterns; perseptif terhadap sesuatu dan dapat membedakannnya, dapat melihat kecenderungan dan prinsip serta mampu mengorganisasikannnya, dapat melihat ”the Big Picture.”
14.Tolerates ambiguity, merasa nyaman dalam situasi kacau (chaos), dapat menyajikan situasi paradoks, tidak tergesa-gesa membenarkan terhadap suatu ide yang muncul.
15.Committed to learning; berusaha mencari pengetahuan secara terus menerus, mensintesakan segala in put, menyeimbangkan setiap informasi yang terkumpul dan menyelaraskan setiap tindakan.
16.Balances intuition and analysis memilih dan memilah diantara pemikiran divergen dan pemikiran konvergen, memiliki intuisi tertentu sebelum melakukan analisis, meyakini apa yang sudah dianalisis dan menggunakannya secara hati-hati dengan menggunakan akal.
17.Situationally collaborative; berusaha menyeimbangkan pemikiran dari setiap individu, membuka pelatihan dan mencari dukungan organisasi.
18.Formally articulate; mengkomunikasikan setiap gagasan secara efektif, menterjemahkan konsep abstrak ke dalam bahasa penuh arti, menciptakan prototype atau model yang dianggap paling mudah
19.Resilient; merefleksi hal-hal dianggap mengecewakan atau yang tidak dinginkan, belajar dengan cepat dari umpan balik, berkemauan untuk mencoba dan terus mencoba lagi
20.Persevering; bekerja keras dan tekun, memperjuangkan gagasan-gagasan baru dengan gigih, memiliki komitmen terhadap hasil-hasil yang telah digariskan.

Sumber: http://thinksmart.com/articles/qualities.html
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/15/inovatif/

Jumat, 14 November 2008

13 macam kecerdasan

1. Kecerdasan penalalaran ( IQ )
Kecakapan bernalar, ilmiah, rekayasa, penelitian,matematika, berhitung, evaluasi. dsb.
2. Kecerdasan emosional ( EQ )
Kecakapan dalam pengendalian pengendalian emosi, pengendalian diri, kesabaran, dsb.
3. Kecerdasan bahasa
Kecakapan berkomunikasi, bercerita, berargumenasi, berkampanye, berekpresi secara lisan, dsb.
4. Kecerdasan ruang
Kecakapan dalam menata ruang, keindahan, penempatan barang, dsb.
5. Kecerdasan gerak motorik
Kecakapan dalam gerak, olah raga, bela diri, berjoget, menari, dsb.
6. Kecerdasan seni
(menyanyi, menggambar, melukis, drama, dsb)
7. Kecerdasan (inter)personal
Kecakapan dalam bergaul, berempati, kerjasama, saling pengertian, dsb.
8. Kecerdasan interpersonal Kecakapan dan kepedulian, kasih sayang,
tanggung jawab, toleransi, dsb.
9. Kecerdasan spiritual Kecakapan jiwa, kejujuran, keadilan,
kesabaran dalam kehidupan sehari-hari, dsb.
10. Kecerdasan agama
Kecakapan mempraktekkan pelajaran agama yang diyakininya dalam kehidupan sehari-hari
11. Kecerdasan kompetitif
Kecakapan dalam berkompetisi, dapat memenangkan perlombaan, dsb.
12 Kecerdasan komparatif
Menunjukkan kecakapan yang dapat diunggulkan apabila dibandingkan dengan yang lain, dsb.
13. Kecerdasan partisipatif
Kecakapan dalam partisipasi kehidupan di masyarakat

Kamis, 06 November 2008

Mengatasi Sifat Pemalas-Minder

Mengatasi Sifat Pemalas-Minder
07 Oct 2008 | Komentar : 2

Pertanyaan :

Saya memiliki keponakan laki-laki berumur 25 tahun. Lulus dari madrasah aliyah pada 2001 dan menganggur selama dua tahun. Dia sempat kuliah di Surabaya pada 2003, tetapi hanya satu tahun dan tidak diteruskan. Sekarang dia mahasiswa akhir di Universitas Terbuka jurusan pendidikan yang kuliahnya di desa sendiri. Mohon maaf, anaknya malas, penyendiri, pemalu, pendiam, penakut, tidak suka bertemu orang, tidak memiliki semangat kemajuan, dan masih kekanak-kanakan. Saya agak gundah dengan masa depannya. Menurut pengasuh, karir apa yang sekiranya cocok untuknya? Mohon solusi apa yang harus dilakukan? Terima kasih.

Mahar, Surabaya


Jawaban Prof Dr Moedjiarto MSc :

Abraham Maslow, tokoh psikologi industri, mengatakan bahwa salah satu kebutuhan manusia yang berjenjang adalah kebutuhan bersosialisasi, bergaul, dan berkomunikasi dengan sesama manusia. Selain itu, manusia adalah makhluk yang memerlukan hidup berkelompok. Hanya, kapasitasnya mungkin berbeda-beda. Bagi yang suka bergaul dengan sesama, pekerjaan yang sesuai untuknya adalah pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan komunikasi dengan orang lain dalam kapasitas tinggi. Misalnya, di bagian pemasaran yang selalu berhubungan dengan relasi, di bagian humas yang selalu berhubungan dengan pihak lain yang memerlukan layanan dari instansi tempat kerjanya. Semua itu memerlukan pergaulan, komunikasi, dan berhubungan dengan orang lain. Sementara itu, bila seseorang tidak suka bergaul, yang cocok adalah bekerja di tempat tertentu yang tidak banyak berhubungan dengan orang lain. Misalnya, di laboratorium yang berhadapan dengan instrumen dan bahan-bahan yang tidak bernyawa. Bagian produksi juga cocok karena yang dihadapi bahan baku dan mesin yang tidak bernyawa seperti manusia. Selain itu, kalau yang bersangkutan suka bergaul dengan binatang peliharaan, misalnya sapi, kambing, atau ayam, dia cocok menjadi peternak atau bekerja di peternakan.

Keponakan Bapak saat ini sudah hampir lulus di Universitas Terbuka. Tinggal selangkah lagi menyelesaikan kuliah. Pekerjaan yang cocok dengan bidang pendidikan adalah menjadi guru. Karena itu, saran saya, yang bersangkutan harus menyiapkan diri untuk menjadi guru yang baik. Belajar bergaul dengan orang lain, belajar berkomunikasi yang efektif, belajar untuk berada di tengah-tengah siswa dengan sukses. Semua itu bisa dipelajari dari buku dan mempraktikkannya.

Kapan dimulainya pelajaran yang berhubungan dengan orang lain itu? Ya sekarang juga. Baik di rumah, di tempat kuliah, maupun di tengah-tengah masyarakat. Banyak orang yang merasa lemah dalam pergaulan, tetapi dengan tekad yang tinggi, mereka berhasil memperbaiki tampilannya.

Jangan malu belajar memperbaiki tampilan. Agar lebih percaya diri dan pergaulan kita bertambah maju, ada baiknya mengikuti kursus etika pergaulan yang diselenggarakan lembaga swasta di kota-kota besar. Para pejabat, para kader bangsa juga banyak belajar tentang etika pergaulan. Kursus itu sangat bermanfaat bagi siapa pun yang berminat untuk meningkatkan mutu tampilan dalam pergaulan. Bila serius untuk memperbaiki tampilan, pergaulan, maupun komunikasi dengan pihak lain, lakukanlah sekarang juga. Jangan menunda hingga esok. (*)
________________________________________
Sumber:
Jawa Pos, 5 Oktober 2008

Komentar Ir. Mei Hendra Darma MM, CHt | 08 Oct 2008 08:04 pm
Membaca pertanyaan mengenai orang yang introvert, pemalu, malas dst sebenarnya yang perlu dicari adalah akar masalah penyebabnya. Banyak faktor yang menyebabkannya dan ini perlu dicari tombol motivasinya sehingga "sub consciousnya" menjadi nyaman untuk menyendiri, susah bergaul, malas dst.

Sesungguhnya manusia diciptakan dalam kesempurnaan dan tidak mengenal ada yang bakat dan tidak berbakat. Semua tergantung pada individunya yg meyakini mind set yang "berkembang" atau mind set yang "tetap" sebagai value di dalam dirinya. Untuk kasus seperti yg ditanyakan haruslah bisa ditemukan "tombol" motivasinya yang bisa merubah sebuah kebiasaan yang telah menjadi karakter karena tersimpan sebagai "self talk negatif" yg sudah sering beroperasi dan menjadi program aktif di dlm sub consciuosnya. Bisa juga perilaku dia disebabkan oleh trauma masa lalu misalnya baik dlm lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulannya yang membuat dirinya menjadi skeptis, introvert, minder dsb. Jika "tombol" dirinya sdh ketemu dan tersentuh, juga melalui reframming yang pas atas mind setnya saya yakin dia akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam,Mei Hendra Darma
http://solution-mind-development.blogspot.com
Komentar hendri | 09 Oct 2008 02:04 pm
kasihan tuh laki-laki,
lebih kasihan lagi kalo dia hidup terus.
kalo membunuh tidak berdosa saya mau mebunuhnya. mau menyalahkan siapa juga bingung wong ini pasti salah pendidikan usia dininya. dimana kenyamanan, kemandirian menjadi barang mahal unutknya. mau diulang masa kecilnya seperti udah lewat banget

http://www.klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1223343273&archive=&start_from=&ucat=4&

Minggu, 02 November 2008

Revolusi Kimia dalam Peradaban Islam

Revolusi Kimia dalam Peradaban Islam

Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarah Barat pun mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan Muslim. Tak heran, bila dunia menabalkan kimiawan Muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai 'Bapak Kimia Modern'."Para kimiawan Muslim adalah pendiri ilmu kimia," cetus Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M. Tanpa tedeng aling-aling, Will Durant dalam he Story of Civilization IV: The Age of Faith, juga mengakui bahwa para kimiawan Muslim di zaman kekhalifahanlah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern.
Menurut Durant, kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam. "Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar," ungkapnya. Sedangkan, peradaban Islam, papar dia, telah memperkenalkan observasi yang tepat, eksperimen yang terkontrol, serta catatan atau dokumen yang begitu teliti.Tak hanya itu, sejarah mencatat bahwa peradaban Islam di era kejayaan telah melakukan revolusi dalam bidang kimia. Kimiawan Muslim telah mengubah teori-teori ilmu kimia menjadi sebuah industri yang penting bagi peradaban dunia. Dengan memanfaatkan ilmu kimia, Ilmuwan Islam di zaman kegemilangan telah berhasil menghasilkan sederet produk dan penemuan yang sangat dirasakan manfaatnya hingga kini.
Berkat revolusi sains yang digelorakan para kimiawan Muslim-lah, dunia mengenal berbagai industri serta zat dan senyawa kimia penting. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa alkohol, nitrat, asam sulfur, nitrat silver, dan potasium--senyawa penting dalam kehidupan manusia modern--merupakan penemuan para kimiawan Muslim.Revolusi ilmu kimia yang dilakukan para kimiawan Muslim di abad kejayaan juga telah melahirkan teknik-teknik sublimasi, kristalisasi, dan distilasi. Dengan menguasai teknik-teknik itulah, peradaban Islam akhirnya mampu membidani kelahiran sederet industri penting bagi umat manusia, seperti industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga militer.
Pencapaian yang sangat fenomenal itu merupakan buah karya dan dedikasi para ilmuwan seperti Jabir Ibnu Hayyan, Al-Razi, Al-Majriti, Al-Biruni, Ibnu Sina, dan masih banyak yang lainnya. Setiap kimiawan Muslim itu telah memberi sumbangan yang berbeda-beda bagi pengembangan ilmu kimia.Jabir (721 M-815 M), misalnya, telah memperkenalkan eksperimen atau percobaan kimia. Ia bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Salah satu ciri khas eksperimen yang dilakukannya bersifat kuantitatif. Ilmuwan Muslim berjuluk 'Bapak Kimia Modern' itu juga tercatat sebagai penemu sederet proses kimia, seperti penyulingan/distilasi, kristalisasi, kalnasi, dan sublimasi.
Sang ilmuwan yang dikenal di Barat dengan sebutan 'Geber' itu pun tercatat berhasil menciptakan instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Selain itu, dia pun mampu menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian.Berkat jasanya pula, teori oksidasi-reduksi yang begitu terkenal dalam ilmu kimia terungkap. Senyawa atau zat penting seperti asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, dan asam asetat lahir dari hasil penelitian dan pemikiran Jabir. Ia pun sukses melakukan distilasi alkohol. Salah satu pencapaian penting lainnya dalam merevolusi kimia adalah mendirikan industri parfum.
Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa melakukan revolusi dalam ilmu kimia adalah Al-Razi (lahir 866 M). Dalam karyanya berjudul, Secret of Secret, Al-Razi mampu membuat klasifikasi zat alam yang sangat bermanfaat. Ia membagi zat yang ada di alam menjadi tiga, yakni zat keduniawian, tumbuhan, dan zat binatang. Soda serta oksida timah merupakan hasil kreasinya.Al-Razi pun tercatat mampu membangun dan mengembangkan laboratorium kimia bernuansa modern. Ia menggunakan lebih dari 20 peralatan laboratorium pada saat itu. Dia juga menjelaskan eksperimen-eksperimen yang dilakukannya. "Al-Razi merupakan ilmuwan pelopor yang menciptakan laboratorium modern," ungkap Anawati dan Hill.
Bahkan, peralatan laboratorium yang digunakannya pada zaman itu masih tetap dipakai hingga sekarang. "Kontribusi yang diberikan Al-Razi dalam ilmu kimia sungguh luar biasa penting," cetus Erick John Holmyard (1990) dalam bukunya, Alchemy. Berkat Al-Razi pula industri farmakologi muncul di dunia.Sosok kimiawan Muslim lainnya yang tak kalah populer adalah Al-Majriti (950 M-1007 M). Ilmuwan Muslim asal Madrid, Spanyol, ini berhasil menulis buku kimia bertajuk, Rutbat Al-Hakim. Dalam kitab itu, dia memaparkan rumus dan tata cara pemurnian logam mulia. Dia juga tercatat sebagai ilmuwan pertama yang membuktikan prinsip-prinsip kekekalan masa --yang delapan abad berikutnya dikembangkan kimiawan Barat bernama Lavoisier.
Sejarah peradaban Islam pun merekam kontribusi Al-Biruni (wafat 1051 M) dalam bidang kimia dan farmakologi. Dalam Kitab Al-Saydalah (Kitab Obat-obatan), dia menjelaskan secara detail pengetahuan tentang obat-obatan. Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya peran farmasi dan fungsinya. Begitulah, para kimiawan Muslim di era kekhalifahan berperan melakukan revolusi dalam ilmu kimia.

Industri Kimia Warisan Kejayaan Islam

Bagi peradaban Islam, kimia bukan hanya teori belaka. Melalui berbagai upaya, umat Islam di abad keemasan telah melahirkan sederet industri yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Berikut ini adalah industri berbasis kimia yang dilahirkan peradaban Islam.

Keramik dan gerabah
Sejak abad ke-8 M hingga 18 M, penggunaan keramik glazed begitu populer di ranah seni Islam. Teknologi penciptaan keramik itu dikembangkan para seniman Islam. Basrah, Irak, menjadi sentra pembuatan gelas tak tembus cahaya. Selain itu, Ar-Raqqah, Suriah, pada abad ke-8 M juga tercatat sebagai pusat produksi gelas dan gerabah.

Lem keju
Dalam bukunya bertajuk, Book of the Hidden Pearl, Jabir Ibnu Hayyan untuk pertama kali menjelaskan tentang resep pembuatan lem dari keju.

Minyak dan produk-produk turunannya
Sejak abad ke-8 M, jalanan di Kota Baghdad telah dilapisi dengan aspal. Si hitam yang membuat jalan mulus itu merupakan produk turunan dari minyak setelah melalui distilasi. Pada abad ke-9 M, ladang minyak di sekitar Baku, Azerbaijan, sudah mulai diekploitasi dan dibuat naftah atau minyak tanah.
Al-Razi tercatat sebagai kimiawan pertama yang mampu memproduksi minyak tanah melalui distilasi. Metode pembuatan minyak tanah itu diungkapkannya dalam Kitab Al-Asrar (Buku Rahasia). Kimiawan Muslim tercatat sebagai yang pertama memproduksi bensin dari minyak mentah melalui distilasi.

Minyak mawar
Pertama kali diproduksi oleh kimiawan Muslim melalui distilasi bunga mawar. Minyak mawar digunakan untuk minuman dan industri parfum.

Industri minuman
Kopi. Minuman kopi pertama kali berkembang di dunia Islam. Kali pertama, minuman kopi ditemukan masyarakat Muslim di Yaman pada abad ke-10 M. Di Yaman, kopi diracik sebagai minuman bernama Al-Qahwa. Konon, minuman itu dibuat oleh kelompok sufi agar mereka dapat tetap beribadah serta berzikir sepanjang malam. Kopi menyebar ke seluruh negeri Muslim melalui para pelancong, jamaah haji, dan para pedagang.
Minuman kopi mulai dikenal masyarakat Makkah dan Turki di akhir abad ke-15 M. Sedangkan, masyarakat Mesir baru bisa mencicipi kopi pada abad ke-16 M. Masyarakat Eropa baru mengenal nikmatnya kopi pada abad ke-17 M. Kopi masuk ke Eropa melalui Italia. Hubungan perdagangan antara Venisia dengan Afrika Utara, khususnya Mesir, menjadi pintu masuknya kopi ke Eropa.

Penyulingan dan pemurnian air
Para kimiawan Muslim merupakan yang pertama kali memproduksi air suling dan air murni. Ini dilakukan untuk mengatasi perjalanan panjang melalui gurun yang tak jelas sumber airnya.

Minuman ringan
Sherbet tercatat sebagai minuman ringan berkarbon pertama di dunia. Kimiawan Muslim di era kejayaan juga banyak yang menciptakan resep minuman sirup yang dapat bertahan di luar lemari es selama satu pekan hingga satu bulan.

Batu Mulia dan Mutiara
Dalam Kitab Al-Durra al-Maknuna Jabir sudah mampu menjelaskan resep pembuatan mutiara buatan dan pemurnian mutiara.

Gelas Silika
Industri gelas silika ditemukan Abbas Ibnu Firnas (810 M-887 M). Dia yang pertama mencipatakan gelas dari pasir dan batu.

Kosmetik
Pengembangan produk kosmetik di dunia Islam begitu gencar dilakukan seorang dokter dan ahli bedah Muslim di Andalusia, Al-Zahrawi (936 M-1013 M), pada abad ke-10 M. Dalam ensiklopedia kesehatan yang berjudul, Al-Tasreef, Albucassis begitu Barat menjuluki Al-Zahrawi, telah mengupas secara khusus tentang kosmetik. Bagi Al-Zahrawi, kosmetik merupakan bagian dari pengobatan. Kitab Al-Tasreef ini begitu besar pengaruhnya di Eropa.

Sabun
Sabun yang berasal dari minyak tumbuhan (olive oil), minyak aroma kali pertama diproduksi oleh kimiawan Muslim.

Parfum
Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa kebudayaan Islam telah memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan industri parfum di dunia Barat. Dunia Islam berkontribusi besar dalam memperkenalkan proses ekstrasi wewangian melalui teknologi distilasi uap yang telah dikembangkan para ilmuwan Islam sejak abad ke-8 M. Industri parfum modern di dunia Barat pun banyak mengadopsi bahan ramuan parfum yang telah dikembangkan para ahli kimia Muslim.

Mesiu
Fakta sejarah menyebutkan bahwa ahli kimia Muslim bernama Khalid bin Yazid (wafat tahun 709 M) sudah mengenal potassium nitrat (KNO3)bahan utama pembuat mesiu pada abad ke-7 M. Dua abad lebih cepat dari Cina. Menurut Prof Ahmad Y Al-Hassan dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology an Ilustrated History (1986), potasium nitrat dikenal di dunia teknologi Islam dengan beragam nama. Senyawa kimia itu pada awalnya digunakan dalam proses metalurgi serta digunakan untuk membuat asam nitrat dan aqua regia.
''Rumus dan resepnya dapat ditemukan dalam karya-karya Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakar Al-Razi (wafat tahun 932 M), dan ahli kimia Muslim lainnya,'' papar Prof Al-Hassan. Dari abad ke abad, istilah potasium nitrat di dunia Islam selalu tampil dengan beragam nama, seperti natrun, buraq, milh al-ha'it, shabb Yamani, serta nama lainnya. (hri/heri ruslan/rep)

http://www.pwmjatim.org/BERITA/November/Revolusi%20Kimia%20dalam%20Peradaban%20Islam.htm

Kembali ke Bisnis ‘Sunnatullah

Kembali ke Bisnis ‘Sunnatullah’

Kalau mau sukses, jadilah pebisnis yang berbasis ‘sunnatullah’. Yaitu, bekerja keras, berkeringat, mengawal produksi, meneliti angka-angka, mengawal distribusi, dan sebagainya. Bukan menderivat, bermain dalam virtual bisnis (bisnis samar). Guncangan moneter dunia saat ini disebabkan oleh bisnis derivat, bisnis yang tidak memperjual belikan barang, melainkan hanya kertas, bahkan angka-angka. Uang bukan lagi menjadi alat tukar, tetapi lebih sebagai komoditas.
Begitulah lontaran Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, dalam seminar bisnis bertema “Strategi Bisnis Menghadapi Krisis Keuangan Dunia yang Tidak Menentu”, yang diselenggarakan Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PWM Jatim, di Aula Mas Mansur, Gedung PWM Jatim, pekan lalu. Dipandu M. Najikh, Dahlan secara cerdas memberi alternatif solusi atas kepanikan pebisnis dalam menghadapi krisis global ini.
Dahlan menjadi pembicara terakhir dan atraktif. Sebelumnya, Kresnayana Yahya dan Tjiptono Darmaji bicara tentang tantangan perekonomian Jatim menghadapi krisis keuangan global. Kresnayana menyarankan untuk meningkatkan kewaspadaan para pengusaha dalam menghadapi biaya produksi yang meninggi di tengah daya beli masyarakat yang menurun. Sedang Tjiptono menjelaskan permasalahan ekonomi perbankan yang mengalami ketidakstabilan.
Di hadapan sekitar 300 peserta yang terdiri para pebisnis, Dahlan mengingatkan, menghadapi krisis seperti sekarang hendaknya tidak terperosok dalam pikiran saling curiga, apalagi menyalahkan kelompok lain atas nama agama. Krisis ini harus disikapi dengan nalar bisnis yang cerdas. “Krisis ini tidak ada hubungannya dengan kesalahan bank konvensional, atau sebaliknya kebenaran bank syari’ah,” tambahnya.
Memang, krisis saat ini diawali dari AS. Tetapi bukan berarti bahwa AS segera runtuh. “Krisis ini hanya akan merubah posisi Amerika dari kaya raya menjadi kaya sekali,” tuturnya yang membuat peserta tercengang. Karena itu Dahlan mengajak pebisnis untuk tidak melihat bagaimana AS, tetapi lebih banyak melihat ke dalam, sebagai upaya memperkuat posisi bisnis dalam segala kondisi.
Kata Dahlan, ada yang harus dikritisi dari krisis keuangan saat ini. Yaitu transaksi derivatif yang kebablasan. Ini adalah penyebab krisis yang utama. Karena transaksi produk turunan tersebut tidak ditopang dengan underlying asset yang memadai. "Jadi, ini seperti transaction without delivery," katanya di depan dua ratus pengusaha, profesional, dan tokoh Muhammadiyah Jatim itu.
Ia kemudian banyak menyontohkan perjalanan dirinya dan sejumlah pebisnis lain dalam membangun bisnis. Menurutnya, bisnis ‘sunnatullah’ terbukti sangat ampuh dan jauh lebih tahan banting dalam menghadapi berbagai guncangan ekonomi. Sementara bisnis derivatif, atau bisnis virtual, justru lebih banyak menjadi sumber malapetaka ekonomi. Ia kemudian menyontohkan bisnis derivasi minyak. Seseorang membeli satu juta barel minyak, lalu dijual ke orang lain. Pembeli kedua menjual pada pembeli ketiga. Demikian seterusnya, sampai transaksi itu mencapai puluhan bahkan ratusan kali. Padahal minyaknya hanya satu juta barel. Maka yang terjadi dalam transaksi itu bukanlah minyak riil, melainkan hanya lembaran-lembaran kertas, atau bahkan hanya angka-angka.
Itu sebabnya Dahlan menyebut bisnis yang demikian adalah serakah. “Sepanjang sejarah terbukti bahwa setiap keserakahan akan mengalami kehancuran. Maka mari kita bisnis yang wajar-wajar saja, bisnis berdasar ‘sunnatullah’. Mari kita bekerja seperti biasa, tetap semangat, dan tidak usah terlalu memikirkan krisis ini,” katanya.
Satu lagi resep dari Dahlan bagi pebisnis menghadapi krisis ini. “Umpama main layang-layang, tatap terus layang-layang itu, dan jangan sekali-kali ditinggal ke toilet,” kiasnya. Artinya, jangan sedikit pun lengah dalam mengawal bisnis. Dan ia memperkirakan, krisis ini berlangsung sekitar dua tahun. (matan/jp)

http://www.pwmjatim.org/BERITA/Oktober/Kembali%20ke%20Bisnis%20Sunnatullah.htm

Jumat, 31 Oktober 2008

HAKEKAT KEBENARAN

HAKEKAT KEBENARAN

Mencari hakekat kebenaran mungkin sering kita ucapkan, tapi susah dilaksanakan. Makhluk apa itu kebenaran juga kita kadang masih nggak ngerti. Yang pasti bahwa “benar” itu pasti “tidak salah” . Pertanyaan-pertanyaan kritis kita di masa kecil, misalnya mengapa gajah berkaki empat, mengapa burung bisa terbang, dsb kadang tidak terjawab secara baik oleh orang tua kita. Sehingga akhirnya sering sesuatu kita anggap sebagai yang memang sudah demikian wajarnya (taken for granted). Banyak para ahli yang memaparkan ide tentang sudut pandang kebenaran termasuk bagaimana membuktikannya. Saya mencoba ulas masalah hakekat kebenaran ini dari tiga sudut pandang yaitu: kebenaran ilmiah, kebenaran non-ilmiah dan kebenaran filsafat.
Harus kita pahami lebih dahulu bahwa meskipun kebenaran ilmiah sifatnya lebih sahih, logis, terbukti, terukur dengan parameter yang jelas, bukan berarti bahwa kebenaran non-ilmiah atau filasat selalu salah. Malah bisa saja kebenaran non-ilmiah dan kebenaran filsafat terbukti lebih “benar” daripada kebenaran ilmiah yang disusun dengan logika, penelitian dan analisa ilmu yang matang. Contoh menarik adalah kasus patung Kouros yang telah diteliti dan dibuktikan keasliannya oleh puluhan pakar selama lebih dari 1,5 tahun di tahun 1983, bahkan juga dianalisa dengan berbagai alat canggih seperti mikroskop elektron, mass spectrometry, x-ray diffraction, dsb. Namun beberapa pakar lain (George Despinis, Angelos Delivorrias) menggunakan pendekatan intuitif sebagai ahli geologi dan mengatakan bahwa patung tersebut palsu (terlalu fresh, seolah tidak pernah terkubur, kelihatan janggal). Akhirnya patung itu dibeli dengan harga tinggi oleh museum J. Paul Getty di California dengan asumsi kebenaran ilmiah lebih bisa dipertanggungjawabkan. Kenyataan kemudian membuktikan bahwa semua dokumen tentang surat tersebut palsu, dan patung itu dipahat disebuah bengkel tempa di Roma tahun 1980. Cerita ini menjadi pengantar buku bestseller berjudul Blink karya Malcolm Gladwell.
KEBENARAN ILMIAH
Kebenaran yang diperoleh secara mendalam berdasarkan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah. Kebenaran ilmiah ini dapat ditemukan dan diuji dengan pendekatan pragmatis, koresponden, koheren.
• Kebenaran Pragmatis: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, Yadi mau bekerja di sebuah perusahaan minyak karena diberi gaji tinggi. Yadi bersifat pragmatis, artinya mau bekerja di perusahaan tersebut karena ada manfaatnya bagi dirinya, yaitu mendapatkan gaji tinggi.
• Kebenaran Koresponden: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori koresponden menggunakan logika induktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Dengan kata lain kesimpulan akhir ditarik karena ada fakta-fakta mendukung yang telah diteliti dan dianalisa sebelumnya. Contohnya, Jurusan teknik elektro, teknik mesin, dan teknik sipil Undip ada di Tembalang. Jadi Fakultas Teknik Undip ada di Tembalang.
• Kebenaran Koheren: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila konsisten dan memiliki koherensi dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Teori koheren menggunakan logika deduktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal umum ke khusus. Contohnya, seluruh mahasiswa Undip harus mengikuti kegiatan Ospek. Luri adalah mahasiswa Undip, jadi harus mengikuti kegiatan Ospek.
KEBENARAN NON-ILMIAH
Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan penalaran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor non-ilmiah. Beberapa diantaranya adalah:
• Kebenaran Karena Kebetulan: Kebenaran yang didapat dari kebetulan dan tidak ditemukan secara ilmiah. Tidak dapat diandalkan karena kadang kita sering tertipu dengan kebetulan yang tidak bisa dibuktikan. Namun satu atau dua kebetulan bisa juga menjadi perantara kebenaran ilmiah, misalnya penemuan kristal Urease oleh Dr. J.S. Summers.
• Kebenaran Karena Akal Sehat (Common Sense): Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi kemudian membuktikan hal itu tidak benar.Â
• Kebenaran Agama dan Wahyu: Kebenaran mutlak dan asasi dari Allah dan Rasulnya. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan panca indra manusia, tapi sebagian hal lain tidak.
• Kebenaran Intuitif: Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang. Contohnya adalah kasus patung Kouros dan museum Getty diatas.
• Kebenaran Karena Trial dan Error: Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi dan paramater-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya tinggi.
• Kebenaran Spekulasi: Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trial-error.
• Kebenaran Karena Kewibawaan: Kebenaran yang diterima karena pengaruh kewibawaan seseorang. Seorang tersebut bisa ilmuwan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensi dan otoritas dalam suatu bidang ilmu. Kadang kebenaran yang keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa benar tapi juga bisa salah karena tanpa prosedur ilmiah.
KEBENARAN FILSAFAT
Kebenaran yang diperoleh dengan cara merenungkan atau memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, baik sesuatu itu ada atau mungkin ada. Kebenaran filsafat ini memiliki proses penemuan dan pengujian kebenaran yang unik dan dibagi dalam beberapa kelompok (madzab). Bagi yang tidak terbiasa (termasuk saya ) mungkin terminologi yang digunakan cukup membingungkan. Juga banyak yang oportunis alias menganut madzab dualisme kelompok, misal mengakui kebenaran realisme dan naturalisme sekaligus.
• Realisme: Mempercayai sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri dan sesuatu yang pada hakekatnya tidak terpengaruh oleh seseorang.
• Naturalisme: Sesuatu yang bersifat alami memiliki makna, yaitu bukti berlakunya hukum alam dan terjadi menurut kodratnya sendiri.
• Positivisme: Menolak segala sesuatu yang di luar fakta, dan menerima sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Tolok ukurnya adalah nyata, bermanfaat, pasti, tepat dan memiliki keseimbangan logika.
• Materialisme Dialektik: Orientasi berpikir adalah materi, karena materi merupakan satu-satunya hal yang nyata, yang terdalam dan berada diatas kekuatannya sendiri. Filosofi resmi dari ajaran komunisme.
• Idealisme: Idealisme menjelaskan semua obyek dalam alam dan pengalaman sebagai pernyataan pikiran.
• Pragmatisme: Hidup manusia adalah perjuangan hidup terus menerus, yang sarat dengan konsekuensi praktis. Orientasi berpikir adalah sifat praktis, karena praktis berhubungan erat dengan makna dan kebenaran.
REFERENSI
1. Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Agustus 2003.
2. Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, April 2006.
3. Logika, http://id.wikipedia.org/wiki/Logika
4. Penalaran, http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

by Romi Satria Wahono
http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/

Selasa, 28 Oktober 2008

KISAH NYATA ORANG YANG MEMILIKI JIWA BESAR

KISAH NYATA ORANG YANG MEMILIKI JIWA BESAR

MediaMuslim.Info - Banyak sekali contoh dari para umat terdahulu yang sholeh yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat ‘afuu. Di sini tidak digunakan Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagi contoh karena beberapa sebab. Pertama adalah bahwa akhlak Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah akhlak Al-Quran, sebagaimana yang disampaikan oleh Ummul Mu’minin A’isyah RadhiAnha, كَانَ خُلقُهُ القُرْاَنَ ”sunguh akhlak beliau (Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam) adalah al-Quran.” Karena akhlak beliau adalah Al-Quran, maka jelas kita meyakini bahwa dari sisi akhlak beliaulah yang paling mulia, paling lapang dada dan berjiwa besar. Sebab kedua agar orang tidak beralasan bahwa Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dapat bersifat lapang dada dan berjiwa besar dan mudah memaafkan karena beliau adalah rasul, maksum dan telah disucikan oleh Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, telah disucikan dari bagian setan, telah dibersihkan dadanya dari bagian-bagian syaitan ketika beliau masih kecil dan ketika isra’ dan mi’raj. Hal ini kemudian dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan-perbuatan salahnya.
Oleh sebab itu kami ambil contoh dari para pendahulu umat yang sholeh agar orang tidak beralasan dengan alasan-alasan tersebut. Dan agar kita dapat mengukur seberapa jauh akhlak kita dibanding dengan akhlak mereka. Yang paling penting adalah kita merubah akhlak kita tidak perlu kita melihat contohnya dari siapa. Artinya walaupun contohnya bukan dari Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yang paling penting adalah kita mencoba merubah akhlak kita.
Cobalah kita menguji bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbeda dengan kita, berbeda dalam aqidah, berbeda dalam manhaj, apakah sikap setiap kita sepeti yang dicontohkan oleh para pendahulu umat yang sholeh? Sekarang kita lihat orang yang tidak memiliki keimanan sama sekali, maka sebagimana keyakinan ahlusunnah wal jamaah kita tidak boleh memberikan wala’ sedikitpun kepada orang tersebut. “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Alloh Subhanallohu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.” (QS. Al Mujaadilah:22).
Berbeda dengan orang yang pada dirinya masih terdapat amal shalih dan amal syaiyi’ (amal yang tidak baik), yang terkumpul di dalamnya subhat, bid’ah, kesesatan atau syahwat, terkumpul di dalamnya kebaikan dan maksiat, maka wala’ dan baro’ kita terbagi, tidak di-wala’ 100% dan juga tidak di-baro’ 100% . Kita tidak baro’ 100% dan tidak juga wala’ 100% untuk orang seperti ini karena aqidah ahlusunnah wal jama’ah dalam masalah seperti ini kita mencintai seseorang sesuai dengan kadar keimanannya dan itiba’nya pada sunnah, dan kita benci pada orang yang sama sesuai dengan kadar penyimpangannya dari syariat ini.
Inilah yang kadang-kadang menjadi rancu pada sebagian orang ketika bermuamalah terhadap orang lain yang berbeda. Yang seharusnya diberikan sikap yang menjadi aqidah ahlusunnah wal jama’ah terhadap orang yang didalamnya ada keimanan dan maksiat, ada keimanan dan ada bid’ah, ada keimanan dan syubhat, maka wala kita tidak diberikan 100% dan tidak juga ditinggalkan 100%, yang diberikan wala’ 100% hanya kepada orang yang beriman dengan sempurna, akan tetapi terhadap orang yang beriman yang didalamnya masih tercampur amal yang shaleh dan amal yang tidak shaleh, masih ada dalam dirinya bid’ah maka wala’ kita tidak diberikan 100%. Kita mencintai seseorang sesuai dengan kadar keimanan dan itiba’nya terhadap sunnah, dan kita benci sesuai dengan kadar penyimpangannya dari sunnah. Inilah yang digunakan alasan sebagian orang untuk membela dirinya dengan menghatasnamakan dien dengan mengatasnamakan agama dengan mengatasnamakan sunnah.
Sekarang kita lihat contohnya dari Imam Ahmad, imam ahlu sunnah wal jama’ah, yang beliau dirantai dan disiksa dari satu penjara ke penjara yang lain, beliau disiksa di siang hari di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Dimasukkan ke dalam penjara sementara darah masih menetes dari tubuhnya pada saat fitnah khalqil Quran (para ahlu bid’ah dan penguasa memaksa Imam Ahmad untuk mengatakan “Al Quran Makhluk”, padahal Al Quran bukan makhluk akan tetapi Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala). Kita perhatikan belaiu, ketika beliau marah, marahnya bukan untuk membalas, belaiu marah bukan untuk hawa nafsunya akan tetapi marahnya karena Alloh Subhanallohu wa Ta’ala I. Belaiu mengatakan ”semua yang pernah membicarakanku meka mereka semua halal dan aku maafkan semua. Dan aku memaafkan Abu ishaq, (Raja Muktasim yang telah memenjarakan dan menyiksa belaiu dengan siksaan yang berat).” dan kemudian beliau mengatakan “aku maafkan Abu Ishaq, aku melihat melihat firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya:“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Alloh Subhanallohu wa Ta’ala mengampunimu?” (QS. An Nuur:22).
Tidakkah kita melihat bahwa Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, Maha Pengampun lagi Maha Pemurah. Jadi, ini menunjukkan bagaimana Alloh Subhanallohu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hambanya untuk memberi maaf kepada orang lain. Rasullloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakar untuk memafkan pada kisah tuduhan palsu pada ‘Aisyah RadhiAllohu ‘Anha yang dituduh oleh orang munafiqin melakukan perbuatan zina dengan salah seorang sahabat.
Apa manfaatnya bagi kita, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala mengadzab seseorang hanya untuk kepentingan kita? untuk memuaskan kepentingan kita dan membalas dendam kita?
Imam Ahmad setelah disiksa, tidak pernah membuka lagi catatan-catatan yang dulu ketika beliau disiksa. Beliau tidak ingin mengingat lagi orang-orang yang dahulu pernah terlibat terhadap penyiksaan beliau. Beliau tidak pernah mengingat lagi “Si fulan yang dulu mengejek saya , Si fulan yang dulu begini dan begini”. Beliau tidak membuat perhitungan dengan orang-orang tersebut, beliau memaafkan semua orang-orang tersebut.
Contoh yang lain adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang dianggap kafir dan difatwakan bahwa darahnya halal oleh para ulama pada zamannya. Beliau dimasukkan dari satu penjara ke penjara yang lain kemudian disiksa dari waktu ke waktu. Kemudian setelah beliau keluar dari penjara beberapa ahlu bid’ah dan orang-orang yang ingin membela beliau datang meminta maaf kepada beliau.
Salah satu musuh beliau adalah seorang ulama dari madzhab maliki dengan nama Ibnu Makhluf. Ibnu Makhluf wafat pada masa Ibnu Taimiyah. Salah satu Murid Ibnu Taimiyah yaitu Ibnu Qayyim mengetahui kematian Ibnu Makhluf. Kemudian Ibnu Qoyyim bersegera datang menemuai Ibnu Taimiyah menyampaikan kabar gembira ini. Akan tetapi, mari kita lihat reaksi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika melihat muridnya memberitahukan kematian musuh besarnya, kita lihat apakah beliau sujud syukur? Apakah beliau mengatakan ‘Alhamdulillah’ maha suci Alloh Subhanallohu wa Ta’ala yang telah menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatannya’? Tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang, Syaikhul Islam dengan musuh besarnya yaitu Ibnu Makhluf ketika Ibnu Makhluf meninggal beliau tidak sujud syukur, tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang menggambarkan kebenciannya. Tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian orang sekarang, begitu bencinya kepada seseorang sehingga ketika mendengar kematian seseorang yang dibencinya sampai mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang tidak layak diucapkan oleh seorang muslim.
Syaikhul Islam memarahi Ibnul Qoyyim kemudian mengingkari perbuatannya karena menyampaikan kegembiraan atas kematian musuh besar beliau, dan beliau mengucapkan kalimat istirja’, “inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un“. Kemudian beliau langsung mendatangi rumah Ibnu Makhluf, berta’ziah dan kemudian mengatakan kepada keluarga, anak dan istri Ibnu Makhluf, “sesungguhnya sekarang status saya seperti bapak kalian”. “Tidak ada sesuatu pun yang kalian butuhkan melainkan saya akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian.” Akhirnya mereka, keluarga Ibnu Makhluf, senang dan mereka mendoakan Syaikul Islam.
Ini kita lihat musuh besarnya. Dan kita lihat kalau sesorang itu musuh besar Ibnu Taimiyah pasti orang ini aqidahnya tidak benar. Tetapi ketika meningggal, Syaikhul Islam mendatangi rumahnya dan menyampaikan bahwa mulai hari ini semua kebutuhan keluarganya menjadi tanggungan Syaikhul Islam. Siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti ini? Siapa diantara kita yang bisa ketika musuhnya meninggal dia mendatangi keluarganya, mendatangi anak-anaknya kemudian berta’ziah kepada mereka? Siapa diantara kita yang bisa sampai mengatakan bahwa tidak ada kebutuhan yang kalian butuhkan melainkan saya akan memenuhi kebutuhan kalian? Siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti itu? Hanya orang-orang yang berjiwa besar. Bahkan kalau kita mau jujur, tidak hanya itu, bahkan kepada teman dekat pun kita belum bisa berbuat seperti itu apalagi kepada musuh.
Sekarang kalau kita mau jujur, jangankan musuh, kepada teman kita saja tidak seperti itu. Ini bukti kalau ukhuwah kita jelek sekali. Kalau teman kita ada yang terkena musibah seperti itu, diantara kita siapa yang bisa berlaku dan berbuat seperti itu? Ada teman yang keluarganya meninggal, coba adakah diantara kita yang datang kepada keluarganya dan mengatakan ’saya akan memenuhi kebutuhan kalian.’
Betul Syaikul Islam mendatangi orang yang telah menfatwakan tentang kafirnya Syaikhul Islam. Artinya ia sangat mememusuhi Syaikul Islam. Jika kita katakan dia ahli bid’ah, tentu sifat-sifat ini ada pada diri Ibnu Makhluf. Akan tetapi beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bersikap lebih besar dari itu artinya bukan orang yang berjiwa kerdil.
Ayyuhal Ikhwan, seandainya kita berakhlak dengan akhlak seperti ini tentu kita bisa banyak meraih hati orang. Tetapi kadang kita memperlakukan mereka (orang yang berbeda dengan kita atau orang yang menyakiti kita) dengan perlakuan sebagaimana ayat-ayat yang Alloh Subhanallohu wa Ta’ala tegaskan bahwa ini adalah ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafiqin. Tidak boleh kita Istigfar untuk mereka, tidak boleh kita menyolatkan mereka, tidak boleh kita menguburkan mereka. Hukum-hukum itu (tidak boleh memintakan ampun, menyolatkan, dan mendatangi penguburannya), kita terapkan kepada orang yang tadi kita sebutkan.
Kadang-kadang kita bermuamalah dengan sebagian kaum muslimin dengan muamalahnya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, muamalah dengan orang munafiqin. Artinya kita menjadi orang-orang yanag asyida’ alal Mu’minin, ‘orang yang sangat kasar kepada orang mukmin.’ Kita menjadi orang-orang yang sangat kasar kepada ahlu iman padahal Alloh Subhanallohu wa Ta’ala mensifati orang-orang mukmin dan para shabat yang bersana Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang yang Asyida’ ‘alal kuffar, ruhamaa’u bainahum. Kita menjadi orang yang terbalik, kepada orang-orang yang beriman kasarnya luar biasa kemudian kepada orang-orang kafir tidak bersikap kasar.
Kita lihat bagaimana Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang sudah aklaknya mulia sekali masih Alloh Subhanallohu wa Ta’ala perintahkan untuk bersikap lembut. “Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”
Ayat ini diturunkan kepada nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam bukan kepada yang lain, artiya juga menjadi pelajaran bagi yang lain. Jika saja Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam berbuat kasar tentu orang akan lari darinya apalagi bukan rasul. Yang Rasul ini banyak pendukungnya untuk kemudian diterima dakwahnya, beliau dapat wahyu, beliau ma’sum dan beliau memiliki akhlak yang mulia, beliau ini dan itu, itu saja masih kemudian diperintahkan untuk bersikap lemah lembut, sampai Alloh Subhanallohu wa Ta’ala sampaikan firmanNya yang arinya: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (urusan peperangan dan hal duniawiah yang lain). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala (QS. Al Imran:159).
Sekarang mari kita lihat lagi contoh yang ketiga yakni dari Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ketika berhubungan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay ini adalah tokohnya kaum munafiqin di masa Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Semua orang tahu bahwa Abdullah bin Ubay ini adalah ra’sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, bagaimana sikapnya terhadap Islam, ketika dalam perang Muraysi’ dia mengatakan “perumpamaan kita dengan Muhammad dan para shahabatnya adalah seperti kata pepatah ‘سَمِّنْ كَلْبُكَ يَأْكُلُكَ‘ “beri makan terus anjingmu, nanti kalau sudah besar akan memakanmu.” Artinya ketika Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shabatnya kita berikan kesempatan mereka akan menindas kita. Ini kata Abdullah bin Ubay dan orang-orang muanafiq yang bersamanya. Kemudian dia juga mengatakan “jangan kalian infakkan apa yang ada ditangan kalian kepada orang-orang yang bersama Muhammad supaya mereka menjauh dari Muhammmad.” Ini perkataan Abdullah bin Ubay, dan ini hanya sebagian dari sikap mereka kepada Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, agar mereka jangan diberikan apapun dan agar mereka keluar dari Madinah.
Coba kita perhatikan ketika Abdullah bin Ubay ini meninggal apa yang dilakukan Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam? Beliau mendatangi kuburnya, memberikan pakaian beliau kepada putranya, dan kemudian memberikan kain untuk dijadikan kafan untuk Abdullah bin Ubay. Ini ra’sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, jelas-jelas orang munafiq, bahkan dengan nash, Rasulullah datang ke kuburnya. Kemudian kita lihat ini bukan orang munafiq biasa tapi ra’sul munafiqin, tetapi dia masih diberikan kain kafan, didatangi kuburnya dan Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam memintakan ampun kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Coba bayangkan, beliau mendatangi kuburnya dan memintakan ampun kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, memintakan ampun kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala untuk imamnya orang-orang munafiq, sampai turun firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala yang melarang Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk memintakan ampun. Artinya kita lihat kemuliaan jiwa Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk memintakan ampun kepada orang yang selama ini menyakiti beliau. Kalau sendainya itu terjadi pada kita mungkin kita akan kemudian mengatakan “mampus, biar sekalian mati”, akan tetapi beliau memintakan ampun, baru setelah turun larangan memintakan ampun untuk orang-orang munafiq dan orang kafir, yang artinya:”Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Alloh Subhanallohu wa Ta’ala sekali-kali tidak akan merberi ampun kepada mereka” (QS. At taubah:80).
Berkenaan dengan ayat ini beliau bersabda yang artinya, “Seandainya saya tahu kalau seandainya saya beristighfar lebih dari tujuh puluh kali akan diampuni, saya akan melakukan lebih dari tujuh puluh kali” atau sebagaiman sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Ini kepada imamnya orang-orang munafiq, seandainya beliau memintakan ampun libih dari tujuh puluh kali akan diampuni, niscaya beliau akan melakukannya. Kita lihat akhlak Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam terhadap imamnya orang-orang munafiq, kepada orang yang sudah lama sekali mengganggu dan menyusahkan Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta orang-orang yang bersama beliau. Orang inilah yang telah membuat tuduhan palsu kepada ‘Aisyah radhiAllohu ‘Anha, dia juga yang menuduh kehormatan Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Coba kita lihat pada orang yang seperti ini beliau masih mau mendatangi kuburnya, kemudian memberikan kain kafan kemudian memintakan ampun kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Siapa diantara kita yang bisa berjiwa besar seperti ini?
Tapi juga jangan difahami bahwa kita ingin mengaburkan aqidah wala’ wal bara’ seperti yang telah kita sebutkan di depan. Artinya harus difahami aqidah wala’ wal bara’, mana yang dinamakan aqidah wala’ wal bara’, bagaimana sikap Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para pendahulu umat yang sholeh berkaitan dengan orang-orang yang berbeda atau menyimpang. Harus dibedakan antara wala’ dan bara’ dengan hawa nafsu kita. Al wala’ wal bara’ jalas ada dalam hati kita. Sikap terhadap orang, kemudian hawa nafsu kita juga sesuatu yang lain adalah dua hal yang harus dibedakan.
Dai tidak pantas memiliki sifat-sifat seperti ini. Kalau dai seperti ini, merusaknya lebih besar daripada memberi manfaat. Mendoakan kejelekan pada Si fulan pada sepertiga malam terakhir, kemudian melaknat Fulan, kemudian mencaci maki Fulan kemudian menyatakan bahwa Alloh Subhanallohu wa Ta’ala tidak mungkin memberikan ampun kepadanya. Orang yang seperti ini lebih pantas memperbaiki dirinya sendiri, baru memperbaiki orang lain. Karena bisa jadi merusaknya lebih besar daripada memberikan kemaslahatan bagi orang lain. Karena dia sendiri belum berhasil memperbaiki dirinya, memperbaiki jiwanya sehingga ketika dia memperbaiki orang lain tentu akan lebih susah. Artinya berurusan dan bermasalah dengan Si Fulan kemudian bermusuhan dengan orang lain dan seterusnya.
Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sakit menjelang wafatnya, dan sakitnya ini bukan dirumah sakit tetapi sakitnya di penjara, beliau dilarang melakukan semua aktivitas sampai kemudian tidak diberikan pena untuk menulis, dilarang diberikan pena, walau demikian beliau tetap menulis memberikan fatwa kepada kaum muslimin dengan mengunakan arang sampai akhirnya beliau dilarang untuk menulis, segala aktivitasnya diawasi dan disampaikan oleh ahlu bid’ah kepada penguasa.
Suatu ketika sebagian orang yang menjadi ahlu bid’ah ini mendatangi Syaikhul Islam di dalam penjara kemudian meminta maaf kepada Syaikhul Islam, karena mereka menjadi sebab Syaikul Islam masuk penjara. Kita lihat bagaimana beliau berjiwa besar, beliau mengatakan “إِنِّي أَحْلَلْتُكَ ” ’saya telah maafkan Anda, saya juga sudah memaafkan Raja Nashir yang memenjarakan saya.’ Beliau memaafkan orang yang memasukkan beliau ke penjara, orang-orang yang menjadi sebab beliau masuk penjara beliau maafkan semua.
Kisah yang lain yang menceritakan tentang Syaikhul Islam adalah ketika Raja An-Nashir tadi pemerintahannya berhasil digulingkan oleh Raja Al Mudhaffar. Ulama ulama yang tadinya bersama Raja Nashir ini bergabung dengan Raja Al Mudhaffar. Kita lihat bagaimana orang-orang yang cari keuntungan, cari selamat, kemudian bergabung bersama Raja Al Mudhaffar. Ternyata tidak beberapa lama kemudian Raja Nashir berhasil merebut kembali kekuasaannya. Ulama-ulama yang tadi, para Qodhi dan para Fuqaha tadi dihadapkan kepada raja Nashir.
Bisa dibayangkan tadinya membela sekarang menjadi musuh, sekarang begitu berkuasa lagi dipanggail semua, dihadapkan kehadapannya. Wallahu A’lam

Nopember 21, 2006 pada 1:56 am (Akhlaq, Akhlaq Muslim, Iman, Islam, Mukmin, Muslim, Situs Islam, Tauhid, www.mediamuslim.info)
http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2006/11/21/kisah-nyata-orang-yang-memiliki-jiwa-besar/