Jumat, 05 Desember 2008

WAWASAN BISNIS

WAWASAN BISNIS

Dua pekan lalu saya hadir pada acara peluncuran sebuah buku: Mission Ini Possible. Itulah judul buku yang menjadi ‘pemeran utama’. Sebuah buku yang lahir dari pengalaman malang melintang pribadi penulisnya, Misbahul Huda, dalam bisnis percetakan nasional.
Bukan seperti peluncuran buku pada umumnya. Kali ini benar-benar dikemas serius. Disiarkan oleh JTV. Penuh hiburan. Tidak kurang dari dalang wayang suket Slamet Gundono. Dalang humoris yang tiap minggu mengisi kolom wayang di Jawa Pos dengan nama pena Slametg.
Saya diundang dengan sebuah tugas sederhana: mengajukan pertanyaan. Sebagaimana layaknya peluncuran buku, tentu acara ini juga ada sesi diskusi. Tanya jawab seputar isi buku. Karena kemasan acaranya didesain penuh daya tarik, maka pertanyaannya pun wajib menarik.
Sebuah permintaan yang menyenangkan. Memang, setiap ikut diskusi, seminar, atau forum apapun, saya selalu mewajibkan diri untuk mengajukan pertanyaan menarik. Pertanyaan yang memacu kreasi penjawab. Pertanyaan yang menjadikan forum lebih hidup. Saat di bangku sekolah pun, saya pegang kuat-kuat sebuah prinsip. Seorang guru atau dosen tidak akan saya biarkan berlalu dari depan kelas kecuali sudah saya beri sebuah pertanyaan.
Setalah Pak Huda memaparkan bukunya, saya pun mencari-cari ide. Apa kira-kira pertanyaan yang menarik. Munculah sebuah gagasan. Selama acara terungkap bahwa si penulis yang mengundang saya adalah sarjana elektro UGM yang lulus dengan predikat cumlaude.
Menariknya, ia selalu menekankan tentang proses pembelajarannya yang panjang. Belajar pada seorang guru sekaligus Sang Bos: Dahlan Iskan. Belajar mulai dari nol dua puluh tahun lalu hingga menjadi direktur utama PT Temprina Media Grafika dan PT Adiprima. Masing-masing adalah perusahaan percetakan dan produsen kertas grup Jawa Pos berasset bilangan Trilyun dengan ribuan karyawan.
Dua puluh tahun? Ya. Apa hasilnya? Pak Huda menyatakan bahwa ia pun baru berani memberi angka 95 untuk prestasinya. Belum 100. Inilah sebuah kontradiksi menarik. Seorang cumlaude teknik elektro dari perguruan tinggi besar paling senior di tanah air membutuhkan waktu 20 tahun untuk menangkap pelajaran dari gurunya. Pertanyaannya: siapa yang ‘goblok’, gurunya apa muridnya?
Karena kebetulan Sang Guru juga hadir sebagai pembahas, pertanyaan ini dijawab sekaligus oleh keduanya. Guru-murid yang sama-sama maniak pecel Madiun. Jawabanya juga sangat menarik. Si murid menjawab bahwa begitulah perbedaan antara belajar teori (di kampus) dan belajar praktek (membangun perusahaan dari nol hingga berkelas nasional). Belajar teori cepat, belajar praktek tentu jauh lebih lambat. Sang Guru menjawab bahwa dirinyalah yang ‘goblok’. Ia mendidik tak terstruktur. Mendidik tanpa metode seperti yang diajarkan di Fakultas Pendidikan.
Pembaca yang antusias, beginilah memang proses membesarkan sebuah perusahaan. Butuh waktu lama. Bahkan lama sekali. Nestle butuh waktu 142 tahun untuk menyajikan Dancow, Nescafe, Carnation, Susu Cap Nona, dan lain-lain seperti yang bisa Anda nikmati saat ini. Gerhard Philips XE "Gerhard Philips" butuh waktu 118 tahun untuk bisa memenuhi kebutuhan aneka lampu listrik bagi warga seluruh dunia sejak merintis usahanya pada 1891 di Eindhoven, Belanda. Liem Seeng Tee XE "Liem Seeng Tee" butuh waktu 95 tahun untuk menyajikan Djie Sam Soe dan A Mild sejak merintisnya di Surabaya pada tahun 1913. Berpuluh-puluh tahun dan bahkan ratusan tahun dengan ketekunan dan fokus luar biasa. Anda sudah fokus? Anda sudah berapa tahun?

Diposkan oleh MATAN
http://majalahmatan.blogspot.com/2008/11/wawasan-bisnis.html

Sabtu, 2008 November 29
Dua Puluh Tahun Untuk Si Cumlaude
Oleh: Iman Supriyono
Strategic Funance Specialist pada SNF Consulting Surabaya

Yakin....

Yakin....

Saatnya untuk berpikir bisnis dan membuka peluang usaha, bukan mencari lowongan Kerja..... Ciptakan pengusaha-pengusaha muda yang peduli Bangsa dan kita salah satu PENGUSAHA itu...
Selasa, Juli 17, 2007
Yakin....
Yakin(Keyakinan) yang kuat adalah sumber kekuatan/power.....

Power bagi hati kita...

Power untuk pikiran kita yang menjelma menjadi kekuatan Motivasi...

Power penggerak raga kita untuk pencapaian mimpi/keinginan/cita2/target/de el el...

Berangkatlah dari keyakinan untuk pencapaian sesuatu, karena keyakinan adalah sumber kekuatan....

Yakin..... akan mengubah 1%(persen) peluang menjadi 99% peluang milik kita....

Tidak Yakin..... akan mengubah 99%(persen) peluang menjadi 1% peluang milik kita...

Lantas apa yang kita pilih..?????

Berangkatlah dengan Keyakinan yang kuat.... dengan seyakin-yakinnya, insyaAllah keinginan kita tercapai....

Selama kita yakin untuk mencapainya/mendapatkannya maka WAKTU adalah jawabannya...


wassalam
Diposkan oleh Candra Sarif di 17:51

http://candrasyarif.blogspot.com/2007/07/yakin.html

Kamis, 04 Desember 2008

Cari Pemimpin Pro Rakyat

Cari Pemimpin Pro Rakyat

Pemimpin Indonesia masih sedikit yang peduli pada orang miskin. Padahal, Indonesia memerlukan pemimpin yang pro pada orang-orang yang mengalami kesulitan agar bangsa ini tidak menjadi bangsa paria atau bangsa yang terbelakang. Demikian pendapat Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

"Belum ada (pemimpin) yang benar-benar serius membela orang miskin," ujar Ahmad Syafii Ma’arif dalam acara syukuran penerimaan Magsaysay Award di Jakarta. Mantan ketua umum pengurus pusat Muhammadiyah ini mendapatkan penghargaan Magsaysay Award 2008 untuk kategori Peace and International Understanding pada bulan lalu di Manila.
Syafii menilai Indonesia sudah menghasilkan presiden-presiden yang cukup hebat, tapi belum mempunyai kebijakan yang pro kepada rakyat miskin. Indonesia, lanjut Syafii, pada tahun 50-an pernah mengalami pemerintahan yang mempunyai program-program yang bagus. "Tapi kan umurnya pendek-pendek," katanya.
Menurutnya, Indonesia memerlukan kebijakan yang pro rakyat miskin dan bukan kebijakan yang membiarkan kemiskinan terjadi. "Kemiskinan harus bersifat sementara dan sumber daya kita cukup untuk itu. Itu tergantung kepemimpinan,"ujarnya. Pemimpin Indonesia ke depan, tambah Syafii, harus mempunyai paradigma yang pro pada rakyat miskin. "Jika terlambat, bangsa ini akan menjadi bangsa yang paria," ujarnya. (Maarifinstitute.org)

http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=5&id=899
Syafii Maarif,6 Nopember 2008 23:19:45

Rabu, 03 Desember 2008

Memahami Mitos & Realita Tentang Lansia

Memahami Mitos & Realita Tentang Lansia

________________________________________
Dalam masyarakat kita, sering dijumpai pengertian dan mitos yang salah kaprah mengenai lansia, sehingga banyak merugikan para lansia. Salah kaprah tersebut adalah anggapan dan pandangan yang keliru namun tetap diucapkan dan dipraktekkan secara keliru pula, sehingga sangat merugikan. Dalam hal ini yang dirugikan adalah para lanjut usia, karena dapat merupakan stigma (cap buruk) dari masyarakat dan dapat mempengaruhi orang-orang yang sesungguhnya memiliki kepedulian untuk membantu para lansia. Salah kaprah yang seringkali kita jumpai dalam masyarakat mencakup beberapa hal sebagai berikut:
• Lansia berbeda dengan orang lain
• Lansia tidak dapat belajar keterampilan baru serta tidak perlu pendidikan dan latihan
• Lansia sukar memahami informasi baru
• Lansia tidak produktif dan menjadi beban masyarakat
• Lansia tidak berdaya
• Lansia tidak dapat mengambil keputusan
• Lansia tidak butuh cinta dan tidak perlu relasi seksual
• Lansia tidak menikmati kehidupan sehingga tidak dapat bergembira<>
• Lansia itu lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat
• Lansia menghabiskan uang untuk berobat
• Lansia sama dengan pikun
Dalam masyarakat kita selaku orang timur dengan budaya kekeluargaan yang sangat kental; anak, cucu dan sanak saudara dari para lansia pada umumnya sangat tidak keberatan untuk menerima kehadiran dan keberadaan lansia di dalam keluarganya. Namun demikian adanya pandangan yang keliru seperti tersebut diatas tak urung bisa mempengaruhi anggota keluarga dalam memperlakukan para lansia. Hal inilah yang perlu diperjelas supaya salah kaprah tersebut tidak terjadi berkepanjangan dan perlu dicari cara untuk mensosialisasikan pengertian dan pemahaman yang benar sehingga lansia memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai dengan kondisi, usia, jenis kelamin dan status sosial mereka dalam masyarakat. Salah satu cara mengurangi salah kaprah dan tindakan yang keliru sehingga dapat memahami lansia secara benar adalah dengan melihat realita yang ada.
Lansia Berbeda Dengan Orang Lain
Orang yang mencapai tahap perjalanan hidup sampai mencapai lanjut usia dapat dikatakan sebagai orang yang beruntung. Mereka telah mengenyam kehidupan dalam masa yang panjang. Di Indonesia pemerintah dan lembaga-lembaga pengelola lansia, memberi patokan bahwa mereka yang disebut lansia adalah yang telah mencapai usia 60 tahun yang dinyatakan dengan pemberian KTP seumur hidup. Namun di negara maju diberi patokan yang lebih spesifik: 65 - 75 tahun disebut old, 76 - 90 tahun disebut old -- old dan 90 tahun ke atas disebut very old (W.M.Roan, 1990). Pengelompokan tersebut bersifat teoritik artinya untuk kepentingan ilmiah namun dalam kenyataan untuk pelayanan kesehatan, sosial dan sebagainya tidak dibedakan. Meskipun lansia seringkali mendapat prioritas dan fasilitas; misalnya kalau naik pesawat dapat potongan khusus, beberapa tempat wisata memberi karcis gratis bagi pengunjung lansia, di bandara atau stasiun Kereta Api disediakan loket/jalan khusus bagi lansia, hal itu bukan dimaksudkan untuk membedakan lansia dengan orang lain tetapi lebih bertujuan untuk membantu kelancaran pelayanan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.
Bahwa para lansia tersebut harus dihormati tentu kita semua setuju. Sebagai orang timur orang yang lebih tua (baca: berusia lanjut) memang mendapat kehormatan yang lebih dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Dalam adat Jawa lansia sebagai pinisepuh atau sesepuh yaitu orang yang memiliki kehormatan yang tinggi dan bila ada hajatan ditempatkan di tempat yang istimewa.
Lansia Tidak Dapat Mempelajari Ketrampilan Baru dan Tidak Memerlukan Pendidikan dan Latihan
Kenyataan di masyarakat terutama di Perguruan Tinggi banyak lansia yang dapat menyelesaikan studinya sampai jenjang S-2 atau S-3, berkompetisi dengan orang-orang muda secara jujur dan objektif. Bahkan dalam proses belajar bersama para lansia tersebut justru sering menjadi teladan yang memberikan motivasi yang tinggi bagi kawan-kawannya yang lebih muda. Hal itu menunjukkan bahwa lansia dapat mempelajari ketrampilan baru sama baiknya dengan orang lain, hanya mungkin karena lama tidak berlatih dan kadang-kadang kurang memiliki keyakinan akan kemampuannya sehingga butuh dorongan dari orang lain. Bagi lansia dorongan dan keinginan mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru merupakan suatu hal yang biasa, baik dengan motivasi untuk meningkatkan mutu kehidupannya maupun mengisi waktu luangnya agar lebih produktif dan berguna. Semakin banyak pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki lansia makin banyak pula hal-hal yang dapat disumbangkan kepada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa lansia merupakan sumber ilmu pengetahuan dan keterampilan serta referensi yang sangat baik dan berharga, sehingga perlu dipelihara. Cara memeliharanya adalah dengan mengajak mereka untuk berdiskusi, berkonsultasi, bertanya serta menempatkan lansia sebagai nara sumber dalam berbagai bidang yang disenangi dan dimiliki.
Berdasarkan kenyataan di atas adalah keliru bila lansia itu dianggap tidak dapat mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru. Sebaliknya, mereka justru memiliki sumber enerji yang tetap kuat untuk belajar, meski perlu motivator untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya mampu. Pandangan yang keliru pula yang mengatakan bahwa lansia itu jompo, rapuh, tidak perlu belajar dan berlatih, dan tidak perlu bekerja, sehingga dianjurkan untuk istirahat, enak-enak, ongkang-ongkang kaki saja di rumah. Jika pandangan tersebut dipraktekkan maka justru mungkin hal semacam itulah yang akan menimbulkan stress dan distress serta dispair (putus harapan) pada lansia. Merupakan suatu tindakan yang bijaksana jika para anggota keluarga tetap memberikan kesempatan pada lansia untuk melakukan kegiatan apa saja yang disukainya sehingga tetap menjaga harga diri, martabatnya serta merasa dirinya berguna untuk yang lain. Agar lansia tetap eksis dalam keluarga dan masyarakat maka perlu pendidikan dan latihan dalam arti menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pribadinya serta tuntutan lingkungan.
Lansia Sukar Menerima Informasi Baru
Pada lansia kesempatan untuk memperoleh informasi baru justru terbuka lebar, karena waktu senggangnya relatif banyak. Umumnya pada masa ini tidak dituntut untuk bekerja keras seperti masa-masa sebelumnya. Dalam kehidupan lansia umumnya haus akan berita-berita baru dan informasi-informasi baru, karena mereka tidak mau ketinggalan informasi dibandingkan orang-orang yang lebih muda. Dalam kenyataan kita menjumpai bahwa mereka banyak nonton televisi, mendengarkan radio, membaca koran, majalah ataupun bertanya kepada sesama lansia atau orang yang lebih muda tentang tentang hal-hal baru yang berkembang dalam masyarakat. Dalam kenyataan lansia lebih tahu berita baru dari orang-orang lain dan sangat senang menyampaikan berita baru tersebut kepada kawan-kawannya, maupun kepada yang lebih muda. Bagi lansia adanya informasi baru berarti menstimulasi fungsi kognitifnya, fungsi afektifnya dan fungsi psikomotoriknya yang membuat syaraf-syaraf otaknya tetap berfungsi secara normal.
Lansia Tidak Produktif dan Menjadi Beban Masyarakat
Umumnya lansia di negara-negara berkembang dan negara-negara yang belum memiliki tunjangan sosial untuk hari tua, akan tetap bekerja untuk memenuhi tuntutan hidup maupun mencukupi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya. Jadi tidaklah sepenuhnya benar jika dikatakan lansia tidak produktif. Dalam kenyataan di dunia ini jutaan orang bekerja mendapat bayaran, namun ada juga jutaan orang bekerja tanpa mendapat bayaran misalnya pemuka masyarakat, ulama, guru-guru ngaji, mereka yang merawat anak-anak, orang sakit, orang cacat, lansia yang sudah sangat tua, guru sukarelawan dan banyak lagi. Baik yang dibayar maupun yang tidak semuanya memiliki andil dan sumbangan yang besar dalam perkembangan masyarakat. Biasanya para lansia memainkan perannya sebagai orang-orang yang bekerja tanpa mendapat bayaran namun memiliki arti yang sangat penting dalam masyarakat karena sumbangan ide-ide dan nasehatnya. Dalam proses penuaan sendiri mereka sering menemukan cara-cara yang tepat dan bijaksana dalam mengatasi tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dalam banyak kasus, lansia seringkali merupakan penasehat yang jitu untuk mengatasi masalah-masalah sosial dalam kehidupan masyarakat. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa lansia amat memerlukan dukungan atau support dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Lansia bukan merupakan beban bagi yang muda, sebaliknya mereka sering menjadi teladan bagi orang muda, misalnya dalam sopan santun, disiplin, keteguhan iman, kejujuran, semangat juang, maupun kewibawaan.
Lansia Tidak Berdaya
Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa lansia itu tidak berdaya, sebab dalam kenyataan para lansia tetap eksis dan terus berjuang mencari kehidupan yang lebih baik. Kalau seorang lansia memerlukan bantuan biasanya ia tahu persis apa yang diperlukan secara wajar. Mereka memiliki banyak pengalaman dalam kehidupannya, sehingga dalam keseharian kita sering menjumpai bahwa lansia tidak mau tinggal diam, ada saja yang ingin dikerjakannya. Terkadang memang ada yang menjadi loyo atau pasrah, mereka ini umumnya lansia yang pada masa mudanya sudah terkuras oleh tugas-tugas berat dan tingkat pendidikan yang relatif rendah, sehingga dalam masa lansia tidak berdaya. Untuk menghadapi lansia model demikian, lingkungan hendaknya selalu memberikan support dan rasa peduli, agar mereka tidak merasa tersisih dan tetap memiliki harga diri. Adalah keliru jika anggota keluarga selalu mendampingi lansia, melarang mereka untuk berkomunikasi dengan sesama lansia, melarang mereka bepergian ke suatu tempat karena takut kecapaian, dan menganjurkan lansia untuk istirahat saja di rumah. Cara demikian justru akan memperburuk kondisi lansia yang berakibat bahwa mereka akhirnya merasa tak berdaya.
Lansia Tidak Dapat Mengambil Keputusan Untuk Kehidupan Dirinya
Setiap orang kadang-kadang sulit mengambil keputusan. Hal ini berlaku bagi siapa saja, baik bagi orang muda atau lansia. Namun demikian tidaklah berarti bahwa lansia tidak dapat mengambil keputusan untuk kehidupannya sendiri. Bahkan lansia sebagai orang yang dihormati, justru sering dijadikan referensi untuk dimintai nasehatnya oleh anak, cucu maupun sanak saudara, dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh seorang anak atau cucu bila masih memiliki kakek- nenek, bila akan mengadakan hajatan akan selalu minta doa restu dan nesehat dalam mengambil keputusan penting. Nasehat dari orang tua yang sudah lanjut usia ini akan dipegang teguh dan dilaksanakan oleh anak cucunya. Hal yang perlu diperhatikan agar lansia mampu mengambil keputusan untuk kepentingan kehidupan dirinya adalah dengan cara sering mengajaknya berdiskusi tentang hal-hal baru dan sering meminta petunjuk atau petuahnya sehingga ia merasa tetap eksis dan memiliki rasa percaya diri.
Lansia Tidak Butuh Cinta dan Relasi Seksual
Fungsi psikis setiap orang baik fungsi kognitif, afektif dan konatif (psikomotorik) serta kombinasi-kombinasinya, selama hayat masih dikandung badan masih tetap berfungsi. Proses pikir, perasaan dan kemauannya tetap berfungsi dengan baik, apalagi bila sering mendapat stimulasi secara teratur dalam kehidupannya. Bahkan relasi seksualpun tetap berjalan bila masih memiliki pasangan. Oleh karena itu, adalah tindakan yang keliru jika lansia dianjurkan untuk meng-isolasi diri agar tidak memiliki pikiran yang menyusahkan dirinya ataupun keinginan-keinginan yang menyusahkan orang lain. Agar gairah hidup tetap berkobar lansia perlu berinteraksi dengan orang-orang muda untuk berdiskusi, berkomunikasi atau bersuka ria. Sayangnya seringkali orang muda tidak tertarik untuk melakukan hal itu. Namun demikian bila orang-orang muda memiliki pemahaman yang benar tentang kebutuhan lansia dan mau membantu kesejahteraan batin mereka; hendaknya yang muda (terutama anggota keluarga) mau beramal untuk kepentingan lansia.
Lansia Tidak Menikmati Kehidupan Sehingga Tidak dapat Bergembira
Pada dasarnya tidak ada orang di dunia ini berencara untuk berhenti bersenang-senang, kecuali orang tersebut berada dalam kondisi depresi atau distress. Semua orang ingin hidup senang, bahagia dan sejahtera, termasuk para lansia. Lansia sekarang ini justru mendambakan kenikmatan hidup di hari tua. Itulah sebabnya sejak muda orang sudah bekerja keras, agar di hari tua nanti mendapat pensiun ataupun tabungan yang cukup untuk menikmati masa tuanya. Harapan itu merupakan idaman setiap orang, sehingga termotivasi untuk belajar dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi bahkan sekarang semua berlomba untuk belajar sampai S-3. Kiranya usaha keras untuk mencari ilmu pengetahuan bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan, sehingga nantinya memiliki hari tua yang sejahtera, dapat menikmati hidup hari tua dan bahagia atau menjadi lansia yang dapat bergembira.
Agar lansia dapat menikmati kehidupan di hari tua sehingga dapat bergembira atau merasa bahagia, diperlukan dukungan dari orang-orang yang dekat dengan mereka. Dukungan tersebut bertujuan agar lansia tetap dapat menjalankan kegiatan sehari-hari secara teratur dan tidak berlebihan. Dukungan dari keluarga terdekat dapat saja berupa anjuran yang bersifat mengingatkan si lansia untuk tidak bekerja secara berlebihan (jika lansia masih bekerja), memberikan kesempatan kepada lansia untuk melakukan aktivitas yang menjadi hobinya, memberi kesempatan kepada lansia untuk menjalankan ibadah dengan baik, dan memberikan waktu istirahat yang cukup kepadanya sehingga lansia tidak mudah stress dan cemas. Perlu dipahami bahwa setelah orang mencapai masa lansia, baik fisik maupun mental sosial secara perlahan mengalami perubahan, namun hal itu dapat ditahan agar perubahan tersebut tidak terlalu dirasakan sebagai penghambat dalam kehidupan. Perubahan-perubahan yang terjadi hendaknya jangan dijadikan sumber stress tetapi perlu diwaspadai dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik. Kalau orang percaya bahwa dirinya sehat, maka ia akan memiliki gairah hidup yang baik dan tidak menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan.
Lansia Lemah, Jompo, Ringkih, Sakit-sakitan atau Cacat
Tidaklah sepenuhnya benar pendapat yang mengatakan bahwa lansia lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat, karena dalam kenyataan banyak lansia yang masih gagah, masih mampu bekerja keras bahkan banyak yang masih memiliki jabatan penting dalam suatu lembaga. Memang kadang-kadang ada lansia yang ringkih (gampang jatuh, gampang sakit) atau sakit ataupun cacat tetapi hal itu berlaku untuk semua orang, baik orang muda juga ada yang memiliki kondisi semacam itu. Kondisi kesehatan orang dalam masyarakat menurut paradigma kesehatan saat ini bergradasi dari : lebih sehat, sehat, sehat sakit (ill health), sakit dan cacat (impairment – disability – handicap). Kondisi kesehatan itu berlaku baik untuk anak, remaja, dewasa maupun lansia, jadi sebenarnya bukan lansia saja yang sakit-sakitan atau cacat, yang lain pun bisa demikian
Lansia Menghabiskan Uang untuk Berobat
Memang benar para lansia perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik, namun bukan berarti bahwa mereka adalah orang yang sakit-sakitan. Untuk menjaga kesehatan tentu juga memerlukan obat, namun hal itu bukan berarti menghabis-habiskan uang untuk berobat. Perlu dipahami bahwa orang dalam perjalanan hidup sampai usia 70 ke atas pasti kadar gula, garam,dan lemak dalam tubuh sudah lebih banyak, sehingga mudah menjadi rentan terhadap penyakit kencing manis, stroke, jantung atau yang lainnya. Namun semuanya akan dapat dikontrol bila orang rajin memeriksa kesehatan. Lansia yang paham tentang kondisi dirinya tentu juga akan mengatur hidupnya secara lebih baik, misalnya makan tidak berlebihan, melakukan diet, tidak melakukan kegiatan-kegiatan secara berlebihan, sehingga memperkecil timbulnya penyakit. Lansia umumnya tahu diri dan faham dalam menjaga dan memelihara kesehatan dirinya yang ditunjukkan bentuk rajin olah raga ringan, rajin beribadah dan peduli terhadap kesehatannya.
Lansia Sama Dengan Pikun
Pandangan ini keliru karena tidak semua lansia mengalami pikun (senile). Pikun ini adalah penyakit (patologis) pada orang tua, yang ditandai dengan dengan menurunnya daya ingat jangka pendek. Dalam kehidupan manusia daya ingat akan berubah sesuai dengan usia, sehingga setelah orang menjadi lansia ia tidak cepat dapat mengingat sesuatu, terutama hal yang baru. Namun anggapan bahwa lansia sama dengan pikun merupakan suatu kekeliruan. Banyak cara menyesuaikan diri dengan perubahan daya ingat dan banyak hal yang mempengaruhi daya ingat manusia, pada usia berapa saja daya ingat tersebut akan berkurang ketajamannya jika orang trsebut dalam keadaan lelah, stress, cemas, khawatir, depresi, sakit atau jiwanya tidak tenang.
Demi menjaga agar daya ingat lansia tidak cepat berubah secara frontal, karena kondisi fisik dan usia, maka perlu dihindarkan atau paling tidak dikurangi dari hal-hal yang dapat menimbulkan kelelahan, kekawatiran, kecemasan, rangsangan emosi, depresi dan sakit. Disinilah kepedulian dari orang yang lebih muda sangat diperlukan sebagai kontrol agar lansia tidak melakukan hal-hal yang merugikan dirinya. (jp)

http://www.e-psikologi.com/epsi/lanjutusia.asp
Kategori Lanjut Usia
Oleh : Drs. H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
Jakarta, 4/2/2002

Senin, 01 Desember 2008

Manfaat Pepaya

Manfaat Pepaya

Satu
Buah pepaya mengandung berbagai jenis enzim, vitamin dan mineral. Kandungan vitamin A-nya lebih banyak daripada wortel, vitamin C-nya lebih tinggi daripada jeruk. Kaya pula dengan vitamin B kompleks & vitamin E.
Dua
Buah pepaya mengandung enzim papain. Enzim ini sangat aktif dan memiliki kemampuan mempercepat proses pencernaan protein. Mencerna protein merupakan problem utama yang umumnya dihadapi banyak orang dalam pola makan sehari-hari. Tubuh mempunyai keterbatasan dalam mencerba protein yang disebabkan kurangnya pengeluaran asam hidroklorat di lambung.
Tiga
Kadar protein dalam buah pepaya tidak terlalu tinggi, hanya 4-6 gram per kilogram berat buah. Tapi jumlah yang sedikit ini hampir seluruhnya dapat dicerna dan diserap tubuh. Ini disebabkan enzim papain dalam buah pepaya mampu mencerna zat sebanyak 35 kali lebih besar dari ukurannya sendiri. Daya cerna terhadap protein ini mengingatkan kita untuk lebih cermat memilih makanan, Bahwa makanan yang mengandung protein tinggi belum tentu bisa bermanfaat bagi tubuh. Yang penting adalah mudah atau tidaknya protein itu diserap tubuh.
Empat
Papain bisa memecah protein menjadi arginin. Senyawa arginin merupakan salah satu asam amino esensial yang dalam kondisi normal tidak bisa diproduksi tubuh dan biasa diperoleh melalui makanan seperti telur dan ragi. Namun bila enzim papain terlibat dalam proses pencernaan protein, secara alami sebagian protein dapat diubah menjadi arginin. Proses pembentukan arginin dengan papain ini turut mempengaruhi produksi hormon pertumbuhan manusia yang populer dengan sebutan human growth hormone (HSG), sebab arginin merupakan salah satu sarat wajib dalam pembentukan HGH. Nah, HGH inilah yang membantu meningkatkan kesehatan otot dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Informasi penting lain, uji laboratorium menunjukkan arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.
Lima
Papain juga dapat memecah makanan yang mengandung protein hingga terbentuk berbagai senyawa asam amino yang bersifat autointoxicating atau otomatis menghilangkan terbentuknya substansi yang tidak diinginkan akibat pencernaan yang tidak sempurna. Tekanan darah tinggi, susah buang air besar, radang sendi, epilepsi dan kencing manis merupakan penyakit-penyakit yang muncul karena proses pencernaan makanan yang tidak sempurna. Papain tidak selalu dapat mencegahnya, namun setidaknya dapat meminimalkan efek negatif yang muncul. Yang jelas papain dapat membantu mewujudkan proses pencenaan makanan yang lebih baik.
Enam
Papain berfungsi membantu pengaturan asam amino dan membantu mengeluarkan racun tubuh. Dengan cara ini sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan.
Tujuh
Pepaya juga dapat mempercepat pencernaan karbohidrat dan lemak. Enzim papain mampu memecah serat-serat daging, sehingga daging lebih mudah dicerna. Tidak heran bila pepaya sering dijadikan bahan pengempuk daging, terutama untuk pembuatan sate atau masakan semur.
Delapan
Pepaya memiliki sifat antiseptik dan membantu mencegah perkembangbiakan bakteri yang merugikan di dalam usus. Pepaya membantu menormalkan pH usus sehingga keadaan flora usus pun menjadi normal.
Sembilan
Papain terbentuk di seluruh bagian buah, baik kulit, daging buah, maupun bijinya. Jadi sebaiknya pepaya dimanfaatkan secara seutuhnya. Malah, bagi mereka yang mengalami masalah pencernaan, disarankan untuk mengonsumsi buah pepaya beserta bijinya.
Sepuluh
Buah yang masih mengkal atau separuh matang memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dari buah matang. Namun wanita yang ingin memiliki anak atau sedang hamil dilarang mengonsumsinya, karena buah mentah dan mengkal mempunyai efek menggugurkan kandungan. Karena efek yang satu ini, di berbagai negara, seperti Papua Nugini dan Peru, pepaya digunakan sebagai alat kontrasepsi. Saran untuk wanita hamil, bila ingin mendapatkan khasiat pepaya, makanlah buah yang sudah matang saja.
Omong-omong, sebenarnya pohon pepaya yang kutanam disamping rumah sudah berbuah (untuk pertama kalinya), sedihnya…hiks…. aku tidak tahu bakal bisa makan atau tidak buah pertamanya, soalnya besok Rabu sudah harus take off…semoga saja Selasa besok sudah matang

http://andri.cisco.or.id/blogs/2006/07/15/manfaat-pepaya/
Jul 15th, 2006
by Andri Setiawan.
diambil dari : http://cybermed.cbn.net.id/detil.asp?kategori=Food&newsno=532, dengan sedikit perubahan

Idul Fitri = Kembali Suci?

Idul Fitri = Kembali Suci?

Beberapa hari lagi, insya Allah bulan Ramadhan 1429 H akan segera berakhir, dan kita akan memasuki 1 syawwal yang merupakan satu dari dua hari raya yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kaum muslim.
Seringkali kita mendengarkan, baik itu berupa ceramah, iklan, ataupun perbincangan di antara kita, dengan mengatakan “mulai dari nol ya pak!” yang bermaksud manusia kembali ke dalam kesuciannya, karena fitrah manusia adalah suci dari segala macam jenis dosa.
Tapi benarkah Idul Fitri artinya merupakan kembali suci? Kita coba lihat. Fitri (arab فطر ) artinya adalah berbuka. Ingat do’a berbuka? … Wa ‘alaa rizqika afthartu .. dan dengan rizqiMu aku berbuka. Jadi Idul Fitri bermakna kembali berbuka. Yang berarti kita boleh kembali makan selepas bulan Ramadhan.
Entah siapa yang memulai, kemudian diartikan kembali suci. Sesungguhnya kesucian hanya bisa diperoleh dengan ketaqwaan. Kita sebenarnya bisa mengira-ira, apakah kita telah benar-benar menjadi manusia bertaqwa. Indikator sederhananya, kita merasa sedih ditinggalkan oleh Ramadhan, dan ibadah kita makin rajin di akhir Ramadhan, dan mempertahankannya pasca Ramadhan.
Jadi ada baiknya kita kembalikan istilah ini kembali pada istilah sebenarnya, yakni kembali makan. Masalah kesucian, sebaiknya kita lakukan muhasabah saja, evaluasi sejauh mana ibadah kita berjalan dengan sukses. Jangan mencampur kembali boleh makan dengan kembali suci … otre!

http://andri.cisco.or.id/blogs/2008/09/28/idul-fitri-kembali-suci/
Sep 28th, 2008
by Andri Setiawan.

Jumat, 28 November 2008

APA MAKNA KATA BERSIH

APA MAKNA KATA BERSIH

Bersih,menurut kamus bhs Indonesia artinya tidak kotor,suci,murni.
Dengan BERSIH,hidup menjadi indah,sehat,nyaman dan selamat di dunia dan di akhirat karena Kebersihan itu sebagian dari pada IMAN. Semua makhluk dimuka bumi ini menyukai kebersihan apalagi Allah,
sang Pencipta.BERSIH,bagi saya adalah segala-galanya."Bersih Hati dan Pikiran" akan membuat hidup menjadi tenang."Bersih Pakaian, Tempat dan Tubuh" akan membuat Ibadah pada Allah menjadi khusu'.
"Bersih Sikap dan Tingkah Laku" akan membuat kehidupan menjadi aman dan damai."Bersih dlm Pekerjaan" akan membuat kita menjadi
sukses dimana dan kapanpun.Satu kata BERSIH mempunyai sejuta
makna dalam kehidupan.BERSIH akan menjadikan bintang kehidupan terus bersinar hingga hari akhir.Dengan BERSIH,semua permasalahan
kehidupan akan terselesaikan dengan baik.
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081116035334AAdXGvN