cerita serius
Umum
ini bener-bener cerita serius.
betul-betul serius.
dan juga misterius..
seperti spiritus.
kamu jangan berkerut kenapa ini cerita bener-bener serius karena saking seriusnya,candil pun jadi ikut-ikutan pusing kenapa ini cerita di bikin serius.
tapi makin serius memang makin maknyuss.
walo kulit kegerus cerita ini harus serius.
jadi cerita ini sebenernya tentang si paus, anaknya pak tulus.
oh anak itu! ya aku tahu! pipinya halus, kulit badannya mulus, tapi dia doyan daging tikus. ini pun serius.
halah...cerita serius jadi pake akhiran us.
kalau nggak serius, namanya jayus.
ahaaaa!!!rupanya jayus dan paus yang bikin cerita serius.
Iya.Mereka berdua mo ikut debus malah nyasar. Jadinya ikut orkes gembus. Bener. Ini serius.
Ceritanya, ada orang yang sangat serius dan dia pun ingin merantau secara serius ke negeri yang orang2nya pun semuanya serius. Tidak ada yang tidak serius. Semuanya, termasuk orang yang tidak serius pun, semuanya serius.
si serius memutuskan menjadi pedagang obat bius yang mengganti dagangannya dengan kapur barus yang digerus halus halus.
si serius ini bernama jakus.
jakus serius sukaerektus nama panjangnya.
dengan pedang di kiri kemoceng di kanan jakus menemui jayus dan paus,"ahoiii..kisanak..mari kita bius..para tukang debus!".
"Kita sikat mereka, kita keremus, jadi tikus!".
"tak ada salahnya kita beri mereka sedikit gabus biar bisa tembus".
"meskipun kita harus jadi dendeng rebus,tapi mari kisanak kita serbu dengan serius!!".
Sesuai dengan namanya, kita harus dekat dengan Candil Seurieus..
________________________________________
Anda tidak bisa ikut nulis kalau ndak login.
http://www.cerpenista.com/cerpen/baca/cerita_serius
Sabtu, 13 Desember 2008
Serius yang menghebatkan
Serius yang menghebatkan
November 30, 2008 11:40 am
Sabtu kemarin selepas menjalani "incomplete lembur", dikarenakan waktu lembur yang kurang. Udah lembur, kurang lagi#$%%^%
Ketika aku ingin melaksanakan shalat ashar sekitar pukul 16.00, secara rutin memang diadakan TPA yang mayoritas anak-anak jalanan dan kurang mampu. Disana, sang ustadz menjelaskan tentang hari-hari dan kejadian di padang mahsyar, yang kita, sebagai "manusia" yang sudah paham akan sedikit merinding, namun dengan redaksional yang apik, mereka dibuat membayangkan kejadian berdasarkan runtunan al-quran dan hadits nabi. Nah ada gejala yang sering terjadi di masyarakat Indonesia, yang dulu waktu aku masih muda dan sempat mengajar di bimbingan les anak-anak, mereka memiliki kecenderungan "bercanda" lebih besar daripada intens memahami pelajaran yang disampaikan.Nah ini sudah dianggap suatu kelumrahan di lingkungan kita..anak kecil bertemu anak kecil jadinya tertawa dan bermain, sekalipun padang mahsyar yang dibahas.
Nah hadirin yang budiman..ehm [serasa di mimbar]..hehe..apakah ini harus dijadikan kelumrahan selamanya di masyarakat kita???, sekarang bayangkan begini, atmosfer anak-anak ketika belajar terbiasa serius, nah ketika mereka berada di lingkungan mereka sesama anak-anak, seharusnya ada stimulus yang menuntut mereka untuk menjadi terbaik dan memahami makna apa yang disampaikan oleh sang pengajar. Bayangkan saja jika sang anak selepas dijelaskan tentang padang mahsyar, dimana matahari menjadi 7 dan jaraknya sangat dekat, lalu mereka menutup mata dan membayangkan alangkah panasnya hari itu, otomatis akan membuat suatu efek pembentukan "unforgotting memory" yang senantiasa mereka pegang sebagai "pegangan", dan ketika sesampai di rumah, lalu sang abah dan umi bertanya :
"Nak, belajar apa hari ini???"
secara spontan si anak menceritakan dengan "duplicate" redaksional dari sang guru, dan disampaikan ke orang tuanya, yang spontan kedua orang tuanya "pada saat itu" mengingat bagaimana padang mahsyar kembali jelas, setelah berpuluh tahun lalu meninggalkan "TPA"….
hmmm..gimana???, ternyata serius itu memang menghebatkan, dan lebih hebat lagi santai dan serius di combine menjadi satu, dimana keduanya mendukung satu dengan lainnya, too many joke, is not good, and too serious, stress is going to wait for you..
Serius itu menghebatkan..
wallahua’lam
http://kahlilstt.blogsome.com/2008/11/30/serius-yang-menghebatkan/
November 30, 2008 11:40 am
Sabtu kemarin selepas menjalani "incomplete lembur", dikarenakan waktu lembur yang kurang. Udah lembur, kurang lagi#$%%^%
Ketika aku ingin melaksanakan shalat ashar sekitar pukul 16.00, secara rutin memang diadakan TPA yang mayoritas anak-anak jalanan dan kurang mampu. Disana, sang ustadz menjelaskan tentang hari-hari dan kejadian di padang mahsyar, yang kita, sebagai "manusia" yang sudah paham akan sedikit merinding, namun dengan redaksional yang apik, mereka dibuat membayangkan kejadian berdasarkan runtunan al-quran dan hadits nabi. Nah ada gejala yang sering terjadi di masyarakat Indonesia, yang dulu waktu aku masih muda dan sempat mengajar di bimbingan les anak-anak, mereka memiliki kecenderungan "bercanda" lebih besar daripada intens memahami pelajaran yang disampaikan.Nah ini sudah dianggap suatu kelumrahan di lingkungan kita..anak kecil bertemu anak kecil jadinya tertawa dan bermain, sekalipun padang mahsyar yang dibahas.
Nah hadirin yang budiman..ehm [serasa di mimbar]..hehe..apakah ini harus dijadikan kelumrahan selamanya di masyarakat kita???, sekarang bayangkan begini, atmosfer anak-anak ketika belajar terbiasa serius, nah ketika mereka berada di lingkungan mereka sesama anak-anak, seharusnya ada stimulus yang menuntut mereka untuk menjadi terbaik dan memahami makna apa yang disampaikan oleh sang pengajar. Bayangkan saja jika sang anak selepas dijelaskan tentang padang mahsyar, dimana matahari menjadi 7 dan jaraknya sangat dekat, lalu mereka menutup mata dan membayangkan alangkah panasnya hari itu, otomatis akan membuat suatu efek pembentukan "unforgotting memory" yang senantiasa mereka pegang sebagai "pegangan", dan ketika sesampai di rumah, lalu sang abah dan umi bertanya :
"Nak, belajar apa hari ini???"
secara spontan si anak menceritakan dengan "duplicate" redaksional dari sang guru, dan disampaikan ke orang tuanya, yang spontan kedua orang tuanya "pada saat itu" mengingat bagaimana padang mahsyar kembali jelas, setelah berpuluh tahun lalu meninggalkan "TPA"….
hmmm..gimana???, ternyata serius itu memang menghebatkan, dan lebih hebat lagi santai dan serius di combine menjadi satu, dimana keduanya mendukung satu dengan lainnya, too many joke, is not good, and too serious, stress is going to wait for you..
Serius itu menghebatkan..
wallahua’lam
http://kahlilstt.blogsome.com/2008/11/30/serius-yang-menghebatkan/
Kamis, 11 Desember 2008
Kreativitas di Sekolah
Kreativitas di Sekolah
Dalam bahasa yang sederhana, kreativitas dapat diartikan sebagai suatu proses mental yang dapat melahirkan gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru. Menurut National Advisory Committees UK (1999), bahwa kreativitas memiliki empat karakteristik, yaitu: (1) berfikir dan bertindak secara imajinatif, (2) seluruh aktivitas imajinatif itu memiliki tujuan yang jelas; (3) melalui suatu proses yang dapat melahirkan sesuatu yang orisinal; dan (4) hasilnya harus dapat memberikan nilai tambah. Keempat karakteristik tersebut harus merupakan suatu kesatuan yang utuh. Bukanlah suatu kreativitas jika hanya salah satu atau sebagian saja dari keempat karateristik tersebut.
Robert Fritz (1994) mengatakan bahwa “The most important developments in civilization have come through the creative process, but ironically, most people have not been taught to be creative.” Hal senada disampaikan pula Ashfaq Ishaq: “We humans have not yet achieved our full creative potential primarily because every child’s creativity is not properly nurtured. The critical role of imagination, discovery and creativity in a child’s education is only beginning to come to light and, even within the educational community, many still do not appreciate or realize its vital importance. Memang harus diakui bahwa hingga saat ini sistem sekolah belum sepenuhnya dapat mengembangkan dan menghasilkan para lulusannya untuk menjadi individu-individu yang kreatif. Para siswa lebih cenderung disiapkan untuk menjadi seorang tenaga juru yang mengerjakan hal-hal teknis dari pada menjadi seorang yang visioner (baca: pemimpin). Apa yang dibelajarkan di sekolah seringkali kurang memberikan manfaat bagi kehidupan siswa dan kurang selaras dengan perkembangan lingkungan yang terus berubah dengan pesat dan sulit diramalkan. Begitu pula, proses pembelajaran yang dilakukan tampaknya masih lebih menekankan pada pembelajaran “what is” yang menuntut siswa untuk menghafalkan fakta-fakta, dari pada pembelajaran “what can be”, yang dapat mengantarkan siswa untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh dan orisinal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya pengembangan kreativiitas di sekolah agar proses pendidikan di sekolah benar-benar dapat memiliki relevansi yang tinggi dan menghasilkan para lulusannya yang memiliki kreativitas tinggi. Sekolah seyogyanya dapat menyediakan kurikulum yang memungkinkan para siswa dapat berfikir kritis dan kreatif, serta memiliki keterampilan pemecahan masalah, sehingga pada gilirannya mereka dapat merespons secara positif setiap kesempatan dan tantangan yang ada serta mampu mengelola resiko untuk kepentingan kehidupan pada masa sekarang maupun mendatang.
Menurut Robert J Sternberg, seorang siswa dikatakan memiliki kreativitas di kelas manakala mereka senatiasa menunjukkan: (1) merasa penasaran dan memiliki rasa ingin tahu, mempertanyakan dan menantang serta tidak terpaku pada kaidah-kaidah yang ada; (2) memiliki kemampuan berfikir lateral dan mampu membuat hubungan-hubungan diluar hubungan yang lazim; (3) memimpikan tentang sesuatu, dapat membayangkan, melihat berbagai kemungkinan, bertanya “ apa jika seandanya” (what if?), dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda; (4) mengeksplorasi berbagai pemikiran dan pilihan, memainkan ideanya, mencobakan alternatif-alternatif dengan melalui pendekatan yang segar, memelihara pemikiran yang terbuka dan memodifikasi pemikirannya untuk memperoleh hasil yang kreatif; dan (5) merefleksi secara kritis atas setiap gagasan, tindakan dan hasil-hasil, meninjau ulang kemajuan yang telah dicapai, mengundang dan memanfaatkan umpan balik, mengkritik secara konstruktif dan dapat melakukan pengamatan secara cerdik.
Pembelajaran yang kreatif dapat dilihat dari dua sisi, yaitu : (1) mengajar secara kreatif (creative teaching) dan (2) mengajar untuk kreativitas (teaching for creativity). Mengajar secara kreatif menggambarkan bagaimana guru dapat menggunakan pendekatan-pendekatan yang imajinatif sehingga kegiatan pembelajaran dapat semakin lebih menarik, membangkitkan gairah, dan efektif. Sedangkan mengajar untuk kreativitas berkaitan dengan penggunaan bentuk-bentuk pembelajaran yang ditujukan untuk mengembangkan para siswa agar memiliki kemampuan berfikir dan berperilaku kreatif.
Kedua konsep tersebut tidak dapat dipisahkan, mengajar untuk kreativitas didalamnya harus melibatkan mengajar secara kreatif. Mengajar secara kreatif dan mengajar untuk kreativitas pada dasarnya mencakup seluruh karateristik pembelajaran yang baik (good learning and teaching), seperti tentang: motivasi dan ekspektasi yang tinggi, kemampuan berkomunikasi dan mendengarkan, kemampuan untuk membangkitkan gairah belajar, inspiratif, kontekstual, konstruktivistik, dan sejenisnya.
Carolyn Edwards dan Kay Springate dalam artikelnya yang berjudul “The lion comes out of the stone: Helping young children achieve their creative potential” memberikan saran tentang upaya pengembangan kreativiitas siswa, sebagai berikut:
1. Berikan kesempatan dan waktu yang leluasa kepada setiap siswa untuk mengeksplorasi dan melakukan pekerjaan terbaiknya dan jangan mengintervensi pada saat mereka justru sedang termotivasi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya secara produktif.
2. Ciptakan lingkungan kelas yang menarik dan mengasyikkan. Lakukan “unfinished work” sehingga siswa merasa penasaran dan tergoda pemikirannya untuk berusaha melengkapinya pada saat-saat berikutnya. Berikan pula kesempatan kepada setiap siswa untuk melakukan kontemplasi.
3. Sediakan dan sajikan secara melimpah berbagai bahan dan sumber belajar yang menarik dan bermanfaat bagi siswa.
4. Ciptakan iklim kelas yang memungkinkan siswa merasa nyaman jika melakukan suatu kesalahan, mendorong keberanian siswa untuk mengambil resiko menerima kegaduhan dan kekacauan yang tepat di kelas, serta memberikan otonomi yang luas kepada siswanya untuk mengelola belajarnya sesuai dengan minat, karakteristik dan tujuannya
Pembelajaran yang kreatif memang bukanlah pilihan yang gampang, di dalamnya memerlukan waktu yang lebih dan perencanaan yang matang untuk melahirkan dan mengembangkan ide-ide baru. Selain itu, diperlukan pula keyakinan yang kuat untuk melakukan improvisasi dalam pembelajaran, keberanian untuk mencoba dan kesanggupan untuk menanggung berbagai resiko yang tidak diharapkan dalam pembelajaran. Kendati harus dilakukan melalui usaha yang tidak mudah, pembelajaran untuk kreativitas ini diyakini dapat menjadikan pembelajaran jauh lebih menyenangkan dan memberikan efektivitas yang tinggi.
Terkait dengan peran guru dalam pembentukan kreativitas siswa, Robert J Sternberg mengatakan “The most powerful way to develop creativity in your students is to be a role model. Children develop creativity not when you tell them to, but when you show them.” Dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus dapat menunjukkan keteladanannya sebagai sosok yang kreatif.
Seorang guru yang kreatif tidak hanya dituntut memiliki keahlian dalam bidang akademik, namun lebih dari itu dituntut pula untuk dapat menguasai berbagai teknik yang dapat menstimulasi rasa keingintahuan sekaligus dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri (self esteem) setiap siswanya. Guru harus dapat memberikan dorongan pada saat siswa membutuhkannya dan memberikan keyakinan kepada siswanya pada saat dia merasa harga dirinya terancam. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, seorang guru harus dapat menjaga keseimbangan antara struktur pembelajaran dengan kesempatan pengembangan diri siswa, antara pengelolaan kelompok (management of groups) dengan perhatian terhadap perbedaan individual siswanya.
Untuk menjadi guru kreatif memang bukan hal yang mudah, terutama bagi guru-guru yang tergolong laggard. Ketika dihadapkan dengan suatu perubahan (inovasi) di sekolah, mereka mungkin cenderung terlambat atau justru hanya berdiam diri menghadapi perubahan yang ada. Jika terus menerus dibiarkan, guru-guru seperti inilah yang sebenarnya dapat merusak pendidikan. Tentunya banyak faktor yang menyebabkan mereka menjadi laggard dan tidak kreatif, baik yang bersumber dari dalam diri guru itu sendiri (internal factors) maupun faktor eksternal. Oleh karena itu, agar guru dapat menjadi kreatif perlu diperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi dan melatarbelakanginya.
Kepemimpinan di sekolah merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan dalam mengembangkan kreativitas guru maupun kreativitas sekolah secara keseluruhan. Fred Luthans (1995) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang manajer. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut untuk dapat menciptakan budaya dan iklim kreativitas di lingkungan sekolah yang mendorong seluruh warga sekolah untuk mengembangkan berbagai kreativitas dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Kepala sekolah harus dapat memberikan penghargaan kepada sertiap usaha kreatif yang dilakulan oleh anggotanya, terutama usaha kreatif yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Kepala sekolah juga dituntut untuk dapat menyediakan sumber-sumber bagi pertumbuhan kreativitas di sekolah.
Selain terdapat guru yang termasuk laggard, tidak sedikit pula guru (dan juga siswa) di sekolah yang sesungguhnya memiliki sikap dan pemikiran kritis dan kreatif, namun karena tidak memperoleh dukungan yang kuat dari sistem sekolah, termasuk dari manajemen sekolah, yang pada akhirnya sikap dan pemikiran kreatifnya tidak dapat berkembang secara wajar. Bahkan, sebaliknya mereka seringkali mengalami tekanan tertentu dari lingkungannya karena dianggap sebagai orang yang “nyeleneh” atau eksentrik.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa siswa yang kreatif dapat dihasilkan melalui guru yang kreatif, dan guru yang kreatif dapat dihasilkan melalui kepala sekolah yang kreatif. Siswa yang kreatif merupakan aset yang sangat berharga bagi kehidupan diri pribadinya maupun orang lain.
Menuju Masyarakat Belajar
Kepemimpinan Perempuan
Diterbitkan 18 Mei 2008 psikologi pendidikan
Tags: artikel, berita, bimbingan dan konseling, KTSP, makalah, opini, pendidikan, psikologi pendidikan, umum
Tulisan lain yang relevan:
Ciri-ciri Orang yang Inovatif >>>klik Disini
Kepemimpinan Transformasional >>>klik Disini
Mithos tentang Kreativitas >>>klik Disini
Sumber:
Fred Luthans. 1995. Organizational Behavior. Singapore: McGraw-Hill International
Wayne Morris.2006. Creativity Its Place In Education: New Plymouth, www.leading-learning.co.nz
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/18/kreativitas-di-sekolah/
Dalam bahasa yang sederhana, kreativitas dapat diartikan sebagai suatu proses mental yang dapat melahirkan gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru. Menurut National Advisory Committees UK (1999), bahwa kreativitas memiliki empat karakteristik, yaitu: (1) berfikir dan bertindak secara imajinatif, (2) seluruh aktivitas imajinatif itu memiliki tujuan yang jelas; (3) melalui suatu proses yang dapat melahirkan sesuatu yang orisinal; dan (4) hasilnya harus dapat memberikan nilai tambah. Keempat karakteristik tersebut harus merupakan suatu kesatuan yang utuh. Bukanlah suatu kreativitas jika hanya salah satu atau sebagian saja dari keempat karateristik tersebut.
Robert Fritz (1994) mengatakan bahwa “The most important developments in civilization have come through the creative process, but ironically, most people have not been taught to be creative.” Hal senada disampaikan pula Ashfaq Ishaq: “We humans have not yet achieved our full creative potential primarily because every child’s creativity is not properly nurtured. The critical role of imagination, discovery and creativity in a child’s education is only beginning to come to light and, even within the educational community, many still do not appreciate or realize its vital importance. Memang harus diakui bahwa hingga saat ini sistem sekolah belum sepenuhnya dapat mengembangkan dan menghasilkan para lulusannya untuk menjadi individu-individu yang kreatif. Para siswa lebih cenderung disiapkan untuk menjadi seorang tenaga juru yang mengerjakan hal-hal teknis dari pada menjadi seorang yang visioner (baca: pemimpin). Apa yang dibelajarkan di sekolah seringkali kurang memberikan manfaat bagi kehidupan siswa dan kurang selaras dengan perkembangan lingkungan yang terus berubah dengan pesat dan sulit diramalkan. Begitu pula, proses pembelajaran yang dilakukan tampaknya masih lebih menekankan pada pembelajaran “what is” yang menuntut siswa untuk menghafalkan fakta-fakta, dari pada pembelajaran “what can be”, yang dapat mengantarkan siswa untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh dan orisinal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya pengembangan kreativiitas di sekolah agar proses pendidikan di sekolah benar-benar dapat memiliki relevansi yang tinggi dan menghasilkan para lulusannya yang memiliki kreativitas tinggi. Sekolah seyogyanya dapat menyediakan kurikulum yang memungkinkan para siswa dapat berfikir kritis dan kreatif, serta memiliki keterampilan pemecahan masalah, sehingga pada gilirannya mereka dapat merespons secara positif setiap kesempatan dan tantangan yang ada serta mampu mengelola resiko untuk kepentingan kehidupan pada masa sekarang maupun mendatang.
Menurut Robert J Sternberg, seorang siswa dikatakan memiliki kreativitas di kelas manakala mereka senatiasa menunjukkan: (1) merasa penasaran dan memiliki rasa ingin tahu, mempertanyakan dan menantang serta tidak terpaku pada kaidah-kaidah yang ada; (2) memiliki kemampuan berfikir lateral dan mampu membuat hubungan-hubungan diluar hubungan yang lazim; (3) memimpikan tentang sesuatu, dapat membayangkan, melihat berbagai kemungkinan, bertanya “ apa jika seandanya” (what if?), dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda; (4) mengeksplorasi berbagai pemikiran dan pilihan, memainkan ideanya, mencobakan alternatif-alternatif dengan melalui pendekatan yang segar, memelihara pemikiran yang terbuka dan memodifikasi pemikirannya untuk memperoleh hasil yang kreatif; dan (5) merefleksi secara kritis atas setiap gagasan, tindakan dan hasil-hasil, meninjau ulang kemajuan yang telah dicapai, mengundang dan memanfaatkan umpan balik, mengkritik secara konstruktif dan dapat melakukan pengamatan secara cerdik.
Pembelajaran yang kreatif dapat dilihat dari dua sisi, yaitu : (1) mengajar secara kreatif (creative teaching) dan (2) mengajar untuk kreativitas (teaching for creativity). Mengajar secara kreatif menggambarkan bagaimana guru dapat menggunakan pendekatan-pendekatan yang imajinatif sehingga kegiatan pembelajaran dapat semakin lebih menarik, membangkitkan gairah, dan efektif. Sedangkan mengajar untuk kreativitas berkaitan dengan penggunaan bentuk-bentuk pembelajaran yang ditujukan untuk mengembangkan para siswa agar memiliki kemampuan berfikir dan berperilaku kreatif.
Kedua konsep tersebut tidak dapat dipisahkan, mengajar untuk kreativitas didalamnya harus melibatkan mengajar secara kreatif. Mengajar secara kreatif dan mengajar untuk kreativitas pada dasarnya mencakup seluruh karateristik pembelajaran yang baik (good learning and teaching), seperti tentang: motivasi dan ekspektasi yang tinggi, kemampuan berkomunikasi dan mendengarkan, kemampuan untuk membangkitkan gairah belajar, inspiratif, kontekstual, konstruktivistik, dan sejenisnya.
Carolyn Edwards dan Kay Springate dalam artikelnya yang berjudul “The lion comes out of the stone: Helping young children achieve their creative potential” memberikan saran tentang upaya pengembangan kreativiitas siswa, sebagai berikut:
1. Berikan kesempatan dan waktu yang leluasa kepada setiap siswa untuk mengeksplorasi dan melakukan pekerjaan terbaiknya dan jangan mengintervensi pada saat mereka justru sedang termotivasi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya secara produktif.
2. Ciptakan lingkungan kelas yang menarik dan mengasyikkan. Lakukan “unfinished work” sehingga siswa merasa penasaran dan tergoda pemikirannya untuk berusaha melengkapinya pada saat-saat berikutnya. Berikan pula kesempatan kepada setiap siswa untuk melakukan kontemplasi.
3. Sediakan dan sajikan secara melimpah berbagai bahan dan sumber belajar yang menarik dan bermanfaat bagi siswa.
4. Ciptakan iklim kelas yang memungkinkan siswa merasa nyaman jika melakukan suatu kesalahan, mendorong keberanian siswa untuk mengambil resiko menerima kegaduhan dan kekacauan yang tepat di kelas, serta memberikan otonomi yang luas kepada siswanya untuk mengelola belajarnya sesuai dengan minat, karakteristik dan tujuannya
Pembelajaran yang kreatif memang bukanlah pilihan yang gampang, di dalamnya memerlukan waktu yang lebih dan perencanaan yang matang untuk melahirkan dan mengembangkan ide-ide baru. Selain itu, diperlukan pula keyakinan yang kuat untuk melakukan improvisasi dalam pembelajaran, keberanian untuk mencoba dan kesanggupan untuk menanggung berbagai resiko yang tidak diharapkan dalam pembelajaran. Kendati harus dilakukan melalui usaha yang tidak mudah, pembelajaran untuk kreativitas ini diyakini dapat menjadikan pembelajaran jauh lebih menyenangkan dan memberikan efektivitas yang tinggi.
Terkait dengan peran guru dalam pembentukan kreativitas siswa, Robert J Sternberg mengatakan “The most powerful way to develop creativity in your students is to be a role model. Children develop creativity not when you tell them to, but when you show them.” Dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus dapat menunjukkan keteladanannya sebagai sosok yang kreatif.
Seorang guru yang kreatif tidak hanya dituntut memiliki keahlian dalam bidang akademik, namun lebih dari itu dituntut pula untuk dapat menguasai berbagai teknik yang dapat menstimulasi rasa keingintahuan sekaligus dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri (self esteem) setiap siswanya. Guru harus dapat memberikan dorongan pada saat siswa membutuhkannya dan memberikan keyakinan kepada siswanya pada saat dia merasa harga dirinya terancam. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, seorang guru harus dapat menjaga keseimbangan antara struktur pembelajaran dengan kesempatan pengembangan diri siswa, antara pengelolaan kelompok (management of groups) dengan perhatian terhadap perbedaan individual siswanya.
Untuk menjadi guru kreatif memang bukan hal yang mudah, terutama bagi guru-guru yang tergolong laggard. Ketika dihadapkan dengan suatu perubahan (inovasi) di sekolah, mereka mungkin cenderung terlambat atau justru hanya berdiam diri menghadapi perubahan yang ada. Jika terus menerus dibiarkan, guru-guru seperti inilah yang sebenarnya dapat merusak pendidikan. Tentunya banyak faktor yang menyebabkan mereka menjadi laggard dan tidak kreatif, baik yang bersumber dari dalam diri guru itu sendiri (internal factors) maupun faktor eksternal. Oleh karena itu, agar guru dapat menjadi kreatif perlu diperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi dan melatarbelakanginya.
Kepemimpinan di sekolah merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan dalam mengembangkan kreativitas guru maupun kreativitas sekolah secara keseluruhan. Fred Luthans (1995) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang manajer. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut untuk dapat menciptakan budaya dan iklim kreativitas di lingkungan sekolah yang mendorong seluruh warga sekolah untuk mengembangkan berbagai kreativitas dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Kepala sekolah harus dapat memberikan penghargaan kepada sertiap usaha kreatif yang dilakulan oleh anggotanya, terutama usaha kreatif yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Kepala sekolah juga dituntut untuk dapat menyediakan sumber-sumber bagi pertumbuhan kreativitas di sekolah.
Selain terdapat guru yang termasuk laggard, tidak sedikit pula guru (dan juga siswa) di sekolah yang sesungguhnya memiliki sikap dan pemikiran kritis dan kreatif, namun karena tidak memperoleh dukungan yang kuat dari sistem sekolah, termasuk dari manajemen sekolah, yang pada akhirnya sikap dan pemikiran kreatifnya tidak dapat berkembang secara wajar. Bahkan, sebaliknya mereka seringkali mengalami tekanan tertentu dari lingkungannya karena dianggap sebagai orang yang “nyeleneh” atau eksentrik.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa siswa yang kreatif dapat dihasilkan melalui guru yang kreatif, dan guru yang kreatif dapat dihasilkan melalui kepala sekolah yang kreatif. Siswa yang kreatif merupakan aset yang sangat berharga bagi kehidupan diri pribadinya maupun orang lain.
Menuju Masyarakat Belajar
Kepemimpinan Perempuan
Diterbitkan 18 Mei 2008 psikologi pendidikan
Tags: artikel, berita, bimbingan dan konseling, KTSP, makalah, opini, pendidikan, psikologi pendidikan, umum
Tulisan lain yang relevan:
Ciri-ciri Orang yang Inovatif >>>klik Disini
Kepemimpinan Transformasional >>>klik Disini
Mithos tentang Kreativitas >>>klik Disini
Sumber:
Fred Luthans. 1995. Organizational Behavior. Singapore: McGraw-Hill International
Wayne Morris.2006. Creativity Its Place In Education: New Plymouth, www.leading-learning.co.nz
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/18/kreativitas-di-sekolah/
Sekolah di Indonesia Hambat Kreatifitas Anak
Sekolah di Indonesia Hambat Kreatifitas Anak
19/05/07 14:55
Surabaya (ANTARA News) - Sekolah di Indonesia, terutama Sekolah Dasar (SD), sangat menghambat kreatifitas anak.
"Banyak anak Indonesia yang menjuarai olimpiade, tapi pintar belum tentu kreatif," ujar psikolog pendidikan, Satiningsih S.Psi MSi di Surabaya, Sabtu.
Ia mengemukakan hal itu dalam seminar komite sekolah SD Khadijah Surabaya bertajuk "Menumbuhkan Bakat dan Minat Anak dalam Fondasi Islam."
Menurut dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Surabaya itu, ukuran pintar adalah nilai, sedangkan ukuran kreatif tak dapat dinilai.
"Masalahnya, sekolah di Indonesia menggunakan ukuran nilai, banyak menghafal, dan serba seragam, sehingga kreatifitas anak justru dihambat," tegasnya.
Alumnus S-1 Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mencontohkan anak yang nilainya hanya 70 atau lebih kecil mungkin saja tidak pintar, tapi mungkin kreatif.
"Orangtua justru bangga dengan anaknya yang memiliki nilai 80, 90, atau 100, tapi kalau nilainya di bawah itu sering dimarahi, padahal sikap kurang benar," ucapnya.
Pegiat LSM yang membantu anak-anak jalanan di Surabaya itu mengaku anak yang dikatakan orangtuanya tidak pintar itu tetap memiliki kemungkinan untuk sukses.
"Anak yang kreatif itu sangat mungkin akan sukses bila bakatnya dikembangkan sejak TK (taman kanak-kanak) atau SD (sekolah dasar)," paparnya.
Alumnus S-2 Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 (Untag) Surabaya itu mengimbau para orangtua untuk mendorong kreatifitas anaknya dan bukan justru memarahi.
"Kalau ada anak yang suka menyanyi, menggambar atau mahir membaca Al-Qur`an secara tartil, maka hal itu harus didorong terus oleh orangtua, baik dengan kursus atau bimbingan di rumahnya," tegasnya.(*)
http://www.antara.co.id/arc/2007/5/19/sekolah-di-indonesia-hambat-kreatifitas-anak/
19/05/07 14:55
Surabaya (ANTARA News) - Sekolah di Indonesia, terutama Sekolah Dasar (SD), sangat menghambat kreatifitas anak.
"Banyak anak Indonesia yang menjuarai olimpiade, tapi pintar belum tentu kreatif," ujar psikolog pendidikan, Satiningsih S.Psi MSi di Surabaya, Sabtu.
Ia mengemukakan hal itu dalam seminar komite sekolah SD Khadijah Surabaya bertajuk "Menumbuhkan Bakat dan Minat Anak dalam Fondasi Islam."
Menurut dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Surabaya itu, ukuran pintar adalah nilai, sedangkan ukuran kreatif tak dapat dinilai.
"Masalahnya, sekolah di Indonesia menggunakan ukuran nilai, banyak menghafal, dan serba seragam, sehingga kreatifitas anak justru dihambat," tegasnya.
Alumnus S-1 Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mencontohkan anak yang nilainya hanya 70 atau lebih kecil mungkin saja tidak pintar, tapi mungkin kreatif.
"Orangtua justru bangga dengan anaknya yang memiliki nilai 80, 90, atau 100, tapi kalau nilainya di bawah itu sering dimarahi, padahal sikap kurang benar," ucapnya.
Pegiat LSM yang membantu anak-anak jalanan di Surabaya itu mengaku anak yang dikatakan orangtuanya tidak pintar itu tetap memiliki kemungkinan untuk sukses.
"Anak yang kreatif itu sangat mungkin akan sukses bila bakatnya dikembangkan sejak TK (taman kanak-kanak) atau SD (sekolah dasar)," paparnya.
Alumnus S-2 Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 (Untag) Surabaya itu mengimbau para orangtua untuk mendorong kreatifitas anaknya dan bukan justru memarahi.
"Kalau ada anak yang suka menyanyi, menggambar atau mahir membaca Al-Qur`an secara tartil, maka hal itu harus didorong terus oleh orangtua, baik dengan kursus atau bimbingan di rumahnya," tegasnya.(*)
http://www.antara.co.id/arc/2007/5/19/sekolah-di-indonesia-hambat-kreatifitas-anak/
Rabu, 10 Desember 2008
CIRI ORANG CERDAS
CIRI ORANG CERDAS
Bagaimana menurut anda ciri - ciri orang Cerdas ?
Apakah dia seorang dengan pendidikan Formal yang tinggi, ataukah Orang tersebut mempunyai pengalaman yang luas, atau bahkan dia seorang yang buta huruf dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah sama sekali ? Mungkin anda mempunyai kriteria - kriteria tersendiri tentang orang Cerdas, dan tentu saja apabila orang menganggap kita sebagai orang Cerdas kitapun akan merasa bangga, bukan begitu.
Bagaimana jika anda pergi ke dokter, kemudian sang dokter memberikan penjelasan tentang penyakit anda dengan gaya bahasa seorang ahli kedokteran dengan tingkat kesulitan yang susah dipahami oleh sang pasien. Atau mendapatkan penjelasan tentang dunia IT oleh saya misalkan dengan gaya bahasa yang “melangit” (teknis detail) sehingga anda sendiri susah untuk memahaminya, Ataukah seorang Akuntan terkenal menjelaskan kepada kita yang awam tentang kondisi ekonomi global saat ini dengan gaya bahasa yang sedemikian luar biasa sehingga kita hanya melongo dan tengok kanan - kiri tanpa tahu makna apa yang dibicarakannya ? Apakah ini yang disebut seorang yang CERDAS, ataukah menurut anda ini yang dimanakan tingkat kecerdasan yang jauh diatas kita sehingga kita yang awam akan sesuatu hal tidak mengerti dengan apa yang dikemukakan oleh mereka semua itu.
Pernah dengar orang yang bernama MUHAMMAD ? pasti semua orang didunia ini pernah dan tahu siapa Muhammad itu. Ya, dia adalah Nabi yang membawa ajaran Islam yang saat ini mungkin menjadi agama mayoritas di Indonesia atau bahkan di dunia (tidak tahu klo di dunia lain apa juga menjadi mayoritas). Apakah menurut anda Beliau ini termasuk orang Cerdas, kalau saya menganggapnya ya, mengapa demikian. Terbukti dengan efek yang diberikan dari ajaran yang disampaikannya sungguh luar biasa sampai mendunia. Terlepas itu adalah ajaran yang memang ditakdirkan seperti ini, yang ingin saya tampilkan adalah bagaimana cara beliau ini menyampaikan kepada semua orang.
Pada awalnya beliau ini tidak menjelaskan sesuatu secara mendalam dan sangat detail, akan tetapi hanya dengan bahasa sederhana yang bisa dimengerti oleh banyak orang. Apakah beliau ini suka beranalogi untuk menjelaskan sesuatu ? tidak juga menurut saya. Kecenderungan beliau ini menjelaskan sesuatu dengan melakukannya, karena tidak semua orang mengerti gaya bahasa seseorang, arah dan maksud pembicaraannya jadi jika dilakukan terlebih dahulu orang bisa sementara menirunya setelah itu mempelajari lebih detail.
Hal - hal seperti ini yang sering kita lupakan, bahwa kita tidak selalu berada di ruang lingkup masyarakat dengan tingkat intelegensia atau background pendidikan dan wawasan yang sama. Sehingga kita perlu berpikir cukup keras untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dan orang lain bisa mengerti penjelasan kita. Selamat mencoba untuk “membumi” jangan terus “melangit” karena di langit belum tentu banyak orang, mungkin yang banyak hanyalah benda - benda yang melayang yang sudah tidak memerlukan penjelasan anda
Posted Mei 22, 2007, Filed under: Cerita
http://andi.wordpress.com/2007/05/22/ciri-orang-cerdas/
Bagaimana menurut anda ciri - ciri orang Cerdas ?
Apakah dia seorang dengan pendidikan Formal yang tinggi, ataukah Orang tersebut mempunyai pengalaman yang luas, atau bahkan dia seorang yang buta huruf dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah sama sekali ? Mungkin anda mempunyai kriteria - kriteria tersendiri tentang orang Cerdas, dan tentu saja apabila orang menganggap kita sebagai orang Cerdas kitapun akan merasa bangga, bukan begitu.
Bagaimana jika anda pergi ke dokter, kemudian sang dokter memberikan penjelasan tentang penyakit anda dengan gaya bahasa seorang ahli kedokteran dengan tingkat kesulitan yang susah dipahami oleh sang pasien. Atau mendapatkan penjelasan tentang dunia IT oleh saya misalkan dengan gaya bahasa yang “melangit” (teknis detail) sehingga anda sendiri susah untuk memahaminya, Ataukah seorang Akuntan terkenal menjelaskan kepada kita yang awam tentang kondisi ekonomi global saat ini dengan gaya bahasa yang sedemikian luar biasa sehingga kita hanya melongo dan tengok kanan - kiri tanpa tahu makna apa yang dibicarakannya ? Apakah ini yang disebut seorang yang CERDAS, ataukah menurut anda ini yang dimanakan tingkat kecerdasan yang jauh diatas kita sehingga kita yang awam akan sesuatu hal tidak mengerti dengan apa yang dikemukakan oleh mereka semua itu.
Pernah dengar orang yang bernama MUHAMMAD ? pasti semua orang didunia ini pernah dan tahu siapa Muhammad itu. Ya, dia adalah Nabi yang membawa ajaran Islam yang saat ini mungkin menjadi agama mayoritas di Indonesia atau bahkan di dunia (tidak tahu klo di dunia lain apa juga menjadi mayoritas). Apakah menurut anda Beliau ini termasuk orang Cerdas, kalau saya menganggapnya ya, mengapa demikian. Terbukti dengan efek yang diberikan dari ajaran yang disampaikannya sungguh luar biasa sampai mendunia. Terlepas itu adalah ajaran yang memang ditakdirkan seperti ini, yang ingin saya tampilkan adalah bagaimana cara beliau ini menyampaikan kepada semua orang.
Pada awalnya beliau ini tidak menjelaskan sesuatu secara mendalam dan sangat detail, akan tetapi hanya dengan bahasa sederhana yang bisa dimengerti oleh banyak orang. Apakah beliau ini suka beranalogi untuk menjelaskan sesuatu ? tidak juga menurut saya. Kecenderungan beliau ini menjelaskan sesuatu dengan melakukannya, karena tidak semua orang mengerti gaya bahasa seseorang, arah dan maksud pembicaraannya jadi jika dilakukan terlebih dahulu orang bisa sementara menirunya setelah itu mempelajari lebih detail.
Hal - hal seperti ini yang sering kita lupakan, bahwa kita tidak selalu berada di ruang lingkup masyarakat dengan tingkat intelegensia atau background pendidikan dan wawasan yang sama. Sehingga kita perlu berpikir cukup keras untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dan orang lain bisa mengerti penjelasan kita. Selamat mencoba untuk “membumi” jangan terus “melangit” karena di langit belum tentu banyak orang, mungkin yang banyak hanyalah benda - benda yang melayang yang sudah tidak memerlukan penjelasan anda
Posted Mei 22, 2007, Filed under: Cerita
http://andi.wordpress.com/2007/05/22/ciri-orang-cerdas/
sifat qana'ah dan 'iffah
sifat qana'ah dan 'iffah
Diskripsi Singkat: Menjelaskan pentingnya sifat qana'ah dan 'iffah dalam kehidupan dunia, dan tercelanya sifat rakus dan tamak. Juga menjelaskan bahwa sesungguhnya sifat qana'ah dan iffah bisa diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh disertai taufiq dari Allah , dan ia adalah gambaran pengungkapan rasa syukur dan ridha yang tertinggi.
: عربي
Jumlah Kunjungan: 755
Link penghubung : http://www.islamhouse.com/p/179689
http://www.islamhouse.com/p/179689
Diskripsi Singkat: Menjelaskan pentingnya sifat qana'ah dan 'iffah dalam kehidupan dunia, dan tercelanya sifat rakus dan tamak. Juga menjelaskan bahwa sesungguhnya sifat qana'ah dan iffah bisa diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh disertai taufiq dari Allah , dan ia adalah gambaran pengungkapan rasa syukur dan ridha yang tertinggi.
: عربي
Jumlah Kunjungan: 755
Link penghubung : http://www.islamhouse.com/p/179689
http://www.islamhouse.com/p/179689
Selasa, 09 Desember 2008
Menjadi Guru
Menjadi Guru
Dunia pendidikan kita kian amburadul...." demikian kata seorang temanku, saat kami sedang berkumpul dan melakukan diskusi tanpa arti di suatu sore sambil memandang laut lepas di sebuah cafe di tepi pantai Losari. Mereka sedang membicarakan pendidikan anak-anak mereka. "Dan mutu-mutu guru pun kian buruk....." Aku memandang kepadanya sambil menggeleng. Dia seorang ayah dan seorang teman yang aku tahu sangat cerdas. Dulu kami pernah kuliah bersama, dan aku selalu menyenangi caranya menjelaskan masalah-masalah yang aku tidak pahami. Sore hari itu, kami berkumpul bersama, mengadakan sebuah reuni kecil, karena kehadiran seorang teman kuliah juga, yang baru tiba dari Sorong, Papua. Dia pun bercerita tentang soal-soal pendidikan anak-anaknya sambil asyik mengunyah "pisang epe" yang kami nikmati bersama di bawah udara sore yang cerah.
Aku memandang kepadanya yang terus bertutur tentang kekecewaannya tentang dunia pendidikan negeri ini. Setelah dia selesai mengeluh, aku lalu bertanya, "jika kau mengeluh tentang dunia pendidikan kita, tentang sikap moral para guru, lalu mengapa kau sendiri tidak mau menjadi seorang pendidik? Aku tahu kau mampu untuk itu. Bahkan lebih dari mampu, bila kau mau...." Dia terdiam. Ya, aku perlu bertanya saat itu dan aku juga ingin menulis sekarang ini. Banyak dari kita yang sesungguhnya bisa dan berbakat menjadi pengajar yang baik, namun menolak kesempatan itu. Mengapa? Menurutku, itu karena materi yang bisa kita terima tak akan mampu menutup gaya hidup kita. Pada akhirnya, menjadi guru hanya menjadi semacam pekerjaan untuk menghidupi kita. Maka tak heran, jika kita menolak untuk menjadi guru karena kita tahu bahwa penghasilan yang akan kita terima takkan pernah mencukupi kebutuhan hidup kita. Hidup yang kita inginkan menjadi sebuah kenyamanan dengan materi yang berlebih. Maka perlukah kita heran jika pada akhirnya, menjadi guru sebagian besar hanya akan dipilih oleh mereka-mereka yang tak punya jalan lain lagi? Tidak semua, memang. Namun nampak jelas bahwa jika ada pilihan lain, mereka-mereka yang mampu takkan mau menjadi guru karena mereka berpikir bahwa menjadi guru tak mempunyai masa depan yang cerah. Maka aku merasa bahwa tidak pada tempatnya temanku itu mengeluh tentang mutu pendidikan kita selama kita sendiri tak mau berkorban untuk masuk ke dalamnya. Maka selama itu yang terjadi, kita hanya mau berdiri di luar sambil terus mengeluh. Tanpa akhir.
Pernah juga, seorang teman yang lain mengeluh tentang betapa mahalnya pendidikan kita. "Buku-buku yang harus dibeli di sekolah setiap semester bisa mencapai 200an ribu" katanya. Aneh, gumamku. Aku tahu dia mampu untuk itu. Dalam beberapa kesempatan, aku bersama dengan keluarganya berjalan-jalan di Mal. Dan setiap kali ke Mal, aku tahu bahwa dia harus mengeluarkan dana ratusan ribu rupiah, untuk belanja anak-anaknya. Dan itu dilakukannya hampir setiap hari minggu. Lalu, mengapa untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah anaknya yang hanya setiap semester saja dipermasalahkan? Berapakah nilai hiburan yang didapatkan di Mal jika dibandingkan pendidikan yang diterima anak kita di sekolah? Berapakah nilai permainan di Mal jika dibandingkan dengan nilai buku-buku pelajaran itu? Apa itu sebanding?
Menjadi guru. Menjadi pendidik yang baik di masa-masa sekarang ini tidaklah mudah. Kita harus sadari itu. Saat para guru-guru kita ke sekolah hanya dengan motor atau bahkan dengan kendaraan umum saja, para murid ke sekolah dengan mobil. Bagaimanakah perasaan guru-guru melihat dan merasakan kondisi itu? Pikirkanlah hal itu. Menjadi guru memang tidak mudah. Oleh sebab itu, yang kita perlukan saat ini bukan sebuah keluhan, namun upaya untuk memahami kehidupan mereka, memahami ketidak-berdayaan mereka, memahami ketak-mampuan mereka untuk mendalami ilmu yang mereka ajarkan. Karena bahkan untuk hidup pun mereka harus berjuang, maka mereka takkan mampu untuk membiayai perkembangan ilmu pengetahuan mereka yang memerlukan dana untuk membeli buku-buku pengetahuan terbaru yang kita tahu, sungguh mahal sekarang ini. Menjadi guru saat sekarang ini memang tak mudah. Sungguh tak mudah.
Kamis, 06-11-2008 07:42:32 oleh: Tonny Sutedja
Kanal: Gaya Hidup
Tonny Sutedja
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=11559
Dunia pendidikan kita kian amburadul...." demikian kata seorang temanku, saat kami sedang berkumpul dan melakukan diskusi tanpa arti di suatu sore sambil memandang laut lepas di sebuah cafe di tepi pantai Losari. Mereka sedang membicarakan pendidikan anak-anak mereka. "Dan mutu-mutu guru pun kian buruk....." Aku memandang kepadanya sambil menggeleng. Dia seorang ayah dan seorang teman yang aku tahu sangat cerdas. Dulu kami pernah kuliah bersama, dan aku selalu menyenangi caranya menjelaskan masalah-masalah yang aku tidak pahami. Sore hari itu, kami berkumpul bersama, mengadakan sebuah reuni kecil, karena kehadiran seorang teman kuliah juga, yang baru tiba dari Sorong, Papua. Dia pun bercerita tentang soal-soal pendidikan anak-anaknya sambil asyik mengunyah "pisang epe" yang kami nikmati bersama di bawah udara sore yang cerah.
Aku memandang kepadanya yang terus bertutur tentang kekecewaannya tentang dunia pendidikan negeri ini. Setelah dia selesai mengeluh, aku lalu bertanya, "jika kau mengeluh tentang dunia pendidikan kita, tentang sikap moral para guru, lalu mengapa kau sendiri tidak mau menjadi seorang pendidik? Aku tahu kau mampu untuk itu. Bahkan lebih dari mampu, bila kau mau...." Dia terdiam. Ya, aku perlu bertanya saat itu dan aku juga ingin menulis sekarang ini. Banyak dari kita yang sesungguhnya bisa dan berbakat menjadi pengajar yang baik, namun menolak kesempatan itu. Mengapa? Menurutku, itu karena materi yang bisa kita terima tak akan mampu menutup gaya hidup kita. Pada akhirnya, menjadi guru hanya menjadi semacam pekerjaan untuk menghidupi kita. Maka tak heran, jika kita menolak untuk menjadi guru karena kita tahu bahwa penghasilan yang akan kita terima takkan pernah mencukupi kebutuhan hidup kita. Hidup yang kita inginkan menjadi sebuah kenyamanan dengan materi yang berlebih. Maka perlukah kita heran jika pada akhirnya, menjadi guru sebagian besar hanya akan dipilih oleh mereka-mereka yang tak punya jalan lain lagi? Tidak semua, memang. Namun nampak jelas bahwa jika ada pilihan lain, mereka-mereka yang mampu takkan mau menjadi guru karena mereka berpikir bahwa menjadi guru tak mempunyai masa depan yang cerah. Maka aku merasa bahwa tidak pada tempatnya temanku itu mengeluh tentang mutu pendidikan kita selama kita sendiri tak mau berkorban untuk masuk ke dalamnya. Maka selama itu yang terjadi, kita hanya mau berdiri di luar sambil terus mengeluh. Tanpa akhir.
Pernah juga, seorang teman yang lain mengeluh tentang betapa mahalnya pendidikan kita. "Buku-buku yang harus dibeli di sekolah setiap semester bisa mencapai 200an ribu" katanya. Aneh, gumamku. Aku tahu dia mampu untuk itu. Dalam beberapa kesempatan, aku bersama dengan keluarganya berjalan-jalan di Mal. Dan setiap kali ke Mal, aku tahu bahwa dia harus mengeluarkan dana ratusan ribu rupiah, untuk belanja anak-anaknya. Dan itu dilakukannya hampir setiap hari minggu. Lalu, mengapa untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah anaknya yang hanya setiap semester saja dipermasalahkan? Berapakah nilai hiburan yang didapatkan di Mal jika dibandingkan pendidikan yang diterima anak kita di sekolah? Berapakah nilai permainan di Mal jika dibandingkan dengan nilai buku-buku pelajaran itu? Apa itu sebanding?
Menjadi guru. Menjadi pendidik yang baik di masa-masa sekarang ini tidaklah mudah. Kita harus sadari itu. Saat para guru-guru kita ke sekolah hanya dengan motor atau bahkan dengan kendaraan umum saja, para murid ke sekolah dengan mobil. Bagaimanakah perasaan guru-guru melihat dan merasakan kondisi itu? Pikirkanlah hal itu. Menjadi guru memang tidak mudah. Oleh sebab itu, yang kita perlukan saat ini bukan sebuah keluhan, namun upaya untuk memahami kehidupan mereka, memahami ketidak-berdayaan mereka, memahami ketak-mampuan mereka untuk mendalami ilmu yang mereka ajarkan. Karena bahkan untuk hidup pun mereka harus berjuang, maka mereka takkan mampu untuk membiayai perkembangan ilmu pengetahuan mereka yang memerlukan dana untuk membeli buku-buku pengetahuan terbaru yang kita tahu, sungguh mahal sekarang ini. Menjadi guru saat sekarang ini memang tak mudah. Sungguh tak mudah.
Kamis, 06-11-2008 07:42:32 oleh: Tonny Sutedja
Kanal: Gaya Hidup
Tonny Sutedja
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=11559
Langganan:
Postingan (Atom)
