Minggu, 08 Februari 2009

Umat Miskin, Akidah Pun Tergadaikan

Umat Miskin, Akidah Pun Tergadaikan

Gerakan pemurtadan terus mengintai umat Islam di Tanah Air. Kemiskinan yang menjerat sebagian besar umat Muslim menjadi sasaran empuk gerakan pemurtadan. Peristiwa pemurtadan baru-baru ini terjadi di Desa Karangtengah, Kecamatan Kadungora, Garut Jawa Barat.Faktor kemiskinan telah membuat Garut yang dikenal sebagai kota relijius - gudangnya santri dan kiai - tak bebas dari aksi pemurtadan. Pada 16 Januari 2009, sebanyak 32 warga Desa Karangtengah, Kadungora, Garut berpindah agama. Untunglah, gerakan pemurtadan terhadap warga miskin itu segera terendus.

Ulama dan pemerintah kecamatan pun segera bergerak. Mereka berupaya untuk menyadarkan kembali warganya yang telah berpindah keyakinan itu. Upaya itu menuai hasil. Sebanyak 26 warga Karangtengah itu akhirnya mau kembali memeluk keyakinan mereka yakni Islam. Sedangkan, empat warga lainnya telah pindah tempat tinggal.Camat Kadungora, Aang Suhana mengaku, selain rendahnya pemahaman terhadap Islam, akar masalah yang membuat warganya berpindah keyakinan adalah kemiskinan. Menurut dia, lebih dari separuh warga Desa Karangtengah tergolong sangat miskin. ''Sebanyak 2.830 dari 5.263 penduduk desa ini tergolong miskin,'' ungkap Aang.

Penghasilan rata-rata separuh penduduk desa itu berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Pendapatan sebesar itu pun belum pasti diperoleh warga Desa Karangtengah. ''Jika tak sedang tak ada pekerjaan mereka tak bisa dapat apa-apa,'' imbuh Aang. Mereka menggantungkan hidup sebagai buruh bangunan atau kerja serabutan.Persoalan ini sudah seharusnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Garut. Masyarakat berharap institusi teknis terkait di tingkat Kabupaten Garut segera mengambil langkah-langkah lebih konkret untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat Desa Karangtengah.

Desa Karangtengah terbentang di atas lahan seluas 3.339 ha. Desa ini merupakan salah satu dari 14 desa di Kecamatan Kadungora yang sebagian besar penduduknya bergantung pada pertanian. Meski begitu, mayoritas penduduknya hanyalah berprofesi sebagai buruh tani. Tentu saja, tak setiap hari mereka bisa bekerja dan memperoleh upah.Karena itulah, banyak warga desa itu yang juga mencari peruntungan sebagai buruh bangunan atau kerja serabutan. Peristiwa pemurtadan yang terjadi di Desa Karangtengah, Kadungora, Garut itu mengundang reaksi keras dari Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD Kabupaten Garut Ahab Syihabudin.

Ahab menilai peristiwa pemurtadan itu telah 'mencoreng wajah' Kabupaten Garut. Betapa tidak, selama ini kota dodol itu dikenal sebagai wilayah agamis -- gudangnya para santri dan kiai. Menurut dia, salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pemurtadan itu akibat solidaritas sosial yang semakin memudar.Ahab juga menyoroti masih buruknya implementasi pelayanan pemerintah terhadap masyarakat miskin. Sejatinya, pemerintah telah mengalokasikan dana bantuan langsung tunai (BLT), beras miskin dan jaminan kesehatan untuk warga miskin. Sayangnya, program itu tak sesui dengan harapan masyarakat.

''Akibatnya masyarakat kehilangan panutan dan pegangan. Mereka tak tahu lagi harus mengadu dan berkeluh kesah,'' papar Ahab. Ketika dirundung kesulitan itulah datang kelompok tertentu yang mengulurkan tangan. Masyarakat yang sedang susah pun menganggap mereka sebagai 'dewa penyelamat'."Tanpa memikirkan dampaknya, masyarakat terpengaruh dan terjadilah pemurtadan," tegasnya. Ia berharap peristiwa tersebut bisa menjadi 'cambuk' dan pelajaran bagi umat Islam di manapun. Saatnya, pemerintah, ormas Islam, para ulama serta umat Islam untuk lebih peduli terhadap sesama.

Sebab, pemurtadan bisa terjadi di mana saja. Selama pemahaman terhadap Islam masih rendah dan umat masih terlilit kemiskinan. Sebenarnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah membentuk Komite Anti-Pemurtadan. Sudah selayaknya, komisi ini menggandeng lembaga amil zakat untuk turun ke wilayah-wilayah miskin yang rawan pemurtadan. Tentunya, untuk menyelamatkan akidah umat yang terus diincar berbagai kelompok tertentu. hri/ant

Sabtu, 07 Februari 2009 pukul 06:52:00
http://www.republika.co.id/koran/14/30046/Umat_Miskin_Akidah_Pun_Tergadaikan

Kamis, 05 Februari 2009

Muslim AS Protes Pelarangan Jilbab

Muslim AS Protes Pelarangan Jilbab

NEW YORK -- Organisasi Muslim terbesar di negara Amerika Serikat, Council for American-Islamic Relations (CAIR), mengadukan sebuah bank di California kepada Departemen Kehakiman. CAIR mendesak departemen itu untuk melakukan investigasi terkait perlakuan diskriminasi yang dilakukan Navy Federal Credit Union terhadap seorang Muslimah di negeri Paman Sam itu.

Juru Bicara CAIR cabang San Diego, Edgar Hopida mengungkapkan, bank tersebut tak mau melayani seorang Muslimah, karena mengenakan jilbab. CAIR mengecam keras diskriminasi yang dilakukan bank tersebut. Hopida menilai tindakan lembaga keuangan di Sandiego, California itu telah melanggar hak sipil dan kebebasan menjalankan agama. ''Memakai jilbab adalah kewajiban agama,'' tegasnya dalam situs CAIR.

Pihaknya menilai kebijakan Navy Federal Credit Union yang melarang penggunaan jilbab atas nama keamanan tak bisa dibenarkan ''Kami mendesak agar Departemen Kehakiman AS untuk menginvestigasi kasus yang sangat mengganggu Muslimah,'' cetusnya. Hopida menegaskan, kebijakan lembaga keuangan yang menolak melayani Muslimah berjilbab adalah inkonstitusional. CAIR mendesak agar hak beragama setiap konsumen dihormati. hri

Kamis, 05 Februari 2009 pukul 07:09:00
http://www.republika.co.id/koran/14/29519/Muslim_AS_Protes_Pelarangan_Jilbab

Selasa, 03 Februari 2009

Awasi Tekanan Darah Berkala

Awasi Tekanan Darah Berkala

PERIKSA BERKALA: Sepertiga penderita hipertensi tidak menyadari kondisi tekanan darah mereka karena itu kontrol tekanan darah secara rutin perlu dilakukan
Apakah tekanan darah? Itu istilah bagi kekuatan daya dorong darah terhadap dinding arteri saat jantung memompa darah. Bila kita mengukur tekanan darah, biasanya muncul dua angka, misal 120/80 mm/hg/, dua angka itu adalah sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan darah saat jantung berdetak memompa darah, sementara diastolik adalah tekanan darah saat jantung beristirahat di antara dua detakan.

Tekanan darah terlalu tinggi (hipertensi), terlebih dalam waktu lama, merupakan kondisi serius yang dapat mengakibatkan banyak kerusakan, mulai dari serangan jantung, stroke, gagal ginjal dan masalah kesehatan lain.

Namun karena hampir tidak ada gejala, sekitar sepertiga penderita darah tinggi tidak menyadari, bahkan setelah bertahun-tahun menderita hipertensi. Itulah mengapa darah tinggi kerap disebut "pembunuh tersembunyi". Satu-satunya cara untuk mencari tahu tekanan darah anda adalah rutin mengecek tekanan darah. Bila tekanan terlanjur tinggi jangan berkecil hati, ada banyak tips untuk menurunkan kembali. Salah satunya seperti yang dianjurkan oleh situs maya Healtfreetips.
• Pastikan tekanan darah selalu di bawah, 140/90 mm Hg
• Jika tekanan sistolik di atas 140, tanya dokter upaya dan diet tepat untuk menurunkan
• Bagi penderita diabetes sangat penting untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Konsultasikan secara rutin dengan dokter tentang pola diet dan olah tubuh yang benar dan aman untuk menjaga berat badan stabil
• Mereka yang ingin berdiet, jangan terpancing mengurangi bobot secara ekstrem. Usahakan bobot menurun bertahap. Kondisi berat badan turun drastis akan mempengaruhi tekanan darah secara ekstrem pula.
• Jaga berat badan seimbang. Resiko hipertensi meningkat ketika berat badan meningkat. Oleh karena itu penderita kelebihan berat badan dan obesitas disarankan untuk selalu aktif
• Jangan malas bergerak. Bahkan gerak paling sederhana seperti berjalan kaki, naik turun tangga, membersihkan rumah, akan membakar kalori, dan itu akan membantu tekanan darah tetap normal
• Lihat seksama kandungan yang kita makan. Apakah mengandung banyak sodium? Sangat disarankan untuk mengkonsumsi sodium tak lebih dari 2,4 gram per hari. Bila membeli kudapan atau makanan kemasan, baca label dengan teliti, hindari kandungan sodium tersembunyi karena zat ini sangat efektif menaikkan tekanan darah. Coba untuk kurangi garam setiap kali makan
• Makan lebih banyak sayuran dan buah. Mengonsumsi banyak serat membantu menekan rasa lapar dan menahan kita untuk mencomot coklat, kripik, atau gula-gula
• Hentikan atau paling tidak kurangi kebiasaan merokok. Merokok menyebabkan darah lebih kental dan menggumpal
• Kurangi tingkat stress. Ambil waktu untuk menikmati apa yang ingin dilakukan tanpa harus diburu-buru sesuatu. Habiskan waktu dengan orang-orang terdekat dan tersayang agar terasa nyaman. Perasaan santai dan rileks membantu menormalkan tekanan darah
• Waspada terhadap konsumsi alkohol. Menghindari segala bentuk minuman beralkohol adalah lebih baik.

By Republika Newsroom
Selasa, 03 Februari 2009 pukul 14:42:00
http://ng.republika.co.id/berita/29197/Awasi_Tekanan_Darah_Berkala

Minggu, 01 Februari 2009

Sikap optimistik

Sikap optimistik

Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Tuhan. Sikap demikian hanya patut bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan (Q.S. 12:87). Orang mukmin berkeharusan untuk memiliki sikap dan pandangan yang optimistik, khususnya tentang masa depan dirinya di akhirat kelak. Dalam terminologi sufistik, ajaran tentang sikap dan pandangan yang optimistik ini disebut 'raja' (sikap penuh harap).

'Raja', menurut Abu al-Qasim al-Ashfahani, berarti kuatnya harapan seseorang akan tergapainya sesuatu yang didambakan. Bagi kaum sufi, dambaan itu bisa berupa ampunan Tuhan (maghfirah) dan perkenan-Nya (mardhatillah). Kuatnya harapan ini membuat kaum sufi semakin intens dalam beribadah, dan seakan tak mengenal lelah dalam melakukan riyadhah dan mujahadah demi tercapainya cita-cita (mathlub).

Sikap optimisme, seperti dikemukakan di atas, tentu tidak datang dengan sendirinya. Kemunculannya, harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan volume ibadahnya kepada Tuhan. Pada saat inilah, sikap optimisme itu tumbuh dan berkembang.

Untuk itu, optimisme yang disebut raja' bukanlah impian dan angan-angan belaka. Penulis kitab al-Hikam Ibnu 'Athaillah al-Sakandari mengemukakan, 'raja' adalah suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata. Jika tidak, ia bukanlah raja', tetapi angan-angan kosong (amniyyah) yang justru dikecam oleh agama. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Makruf al-Karkhi, pakar tasawur lainnya. Baginya, keinginan masuk surga tanpa bekerja tergolong dosa besar. ''Harapanmu untuk mendapat rahmat dari Tuhan yang kepada-Nya kamu sendiri tidak tunduk dan patuh adalah tindakan bodoh dan konyol,'' jelasnya.

Nabi Muhammad SAW sendiri mengecam orang-orang yang karena terbuai oleh harapan, mereka lantas malas bekerja dan beramal saleh. ''Orang yang kuat lagi cerdas,'' sabda Nabi, ''adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan bekerja untuk hari akhirat. Sedang orang yang lemah lagi konyol adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh berbagai harapan dan angan-angan kepada Tuhan.''

Agar terhindar dari kekonyolan ini, kaum sufi dan orang-orang bijak sering mengingatkan kita dengan firman Allah ini: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya (Q.S. 18:110).

Jadi, optimisme yang dikehendaki dan yang diajarkan kaum sufi adalah optimisme yang dibangun di atas landasan syar'iy yang sangat kuat, yaitu iman dan amal saleh. Pandangan demikian, tidak saja dapat memacu produktivitas kerja, tetapi juga memberikan suasana dan iklim yang sangat kondusif bagi kemajuan seseorang, baik dalam bidang fisik material maupun mental spiritual. - ah

By Republika Newsroom
Jumat, 16 Januari 2009 pukul 17:33:00
ANTARA
http://ng.republika.co.id/berita/26575/Sikap_optimistik

Jumat, 23 Januari 2009

Alquran

Alquran

Alquran adalah cahaya yang menerangi jalan hidup manusia. Dengan Alquran seorang muslim akan mampu membedakan jalan baik sehingga mengantarkan kepada kebenaran dengan jalan sesat yang menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan di dunia dan akhirat.

Alquran juga menjadi petunjuk bagi amal perbuatan manusia. Alquran memberi jalan bagi mereka yang mau memikirkan dan menghayati isinya untuk mendapatkan kebenaran dan kebaikan sehingga dapat disampaikan kepada orang banyak kebenaran itu.

Dengan Alquran, kita bisa mengerti dan memahami hakekat kebatilan serta kejahatan. Pemahaman itu mengantar kepada kita untuk mau dan mampu membersihkan jalan yang akan kita lalui agar terhindar dari kejahatan dan kebatilan tadi. Dengan demikian, Alquran menjadi pengontrol pribadi agar selalu mawas diri ketika menjalani hidup dan kehidupan ini.

Karena jalan yang akan kita tempuh bermula dari hati atau jiwa sebagai pengendali amal, maka kewajiban kita untuk selalu membersihkannya. Shekh Mohammad Rasyid Ridha, seorang ulama besar Mesir pernah berkata, ''Di dalam membersihkan jiwa dan memperdalam pemikiran, orang tidak harus melewati falsafah Aristoteles atau Ibnu Sina, tapi yang terpenting ia harus melewati dua hal, menjauhkan hawa nafsu dan menghiasi diri dengan takwa.''

Dua hal tersebut -- menjauhkan nafsu dan menghiasi diri dengan takwa -- banyak disinggung Alquran. Allah berfirman: Adakah kamu mengetahui orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya? Dan Allah kemudian menyesatkan mereka berdasarkan ilmu-Nya. Allah mengunci pendengaran, hati dan menutup penglihatannya. Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk kepadanya selain Allah. Adakah kalian tidak mengambil pelajaran? (Surah al-Jatsiah: 22).

Ayat tersebut memberi isyarat kepada kita betapa berbahayanya orang yang tidak dapat mengendalikan nafsunya. Bila ketidakmampuan pengendalian nafsu itu sampai pada kemurkaan Allah sehingga menutup hati seseorang dari masuknya cahaya atau hidayah, maka ia akan menjadi orang yang celaka di dunia dan akhirat.

Sementara, takwa merupakan peningkatan kualitas iman. Tidak akan ada takwa tanpa landasan iman yang benar, bersih dari kemusyrikan, khurafat dan tahayul. Menurut tafsir para ulama, takwa berarti menjaga semua perbuatan yang merugikan orang lain, termasuk diri sendiri serta tidak melakukan tindakan yang merintangi tercapainya tujuan mulia maupun niat yang baik. Takwa juga berarti meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat serta senantiasa taat pada semua perintah Allah.

Bila hal itu terpenuhi, maka kebaikan akan kembali kepada manusia. Allah berfirman: Dan siapa yang takwa kepada Allah, Dia akan membuatnya lepas dari kesulitan dan akan memberi rezeki yang tiada terkira (Surah at-Thalaq: 2-3). Ada baiknya ketika kita ingin memperoleh hidayah Alquran, dua hal tersebut menjadi perhatian utama kita. - ah

By Republika Newsroom
Jumat, 23 Januari 2009 pukul 14:29:00
http://www.republika.co.id/berita/27691.html

Rabu, 21 Januari 2009

Pendidikan Kejujuran Masih Defisit

Pendidikan Kejujuran Masih Defisit

Kantin kejujuran yang didirikan beberapa sekolah layak mendapat acungan jempol. Bermula dari kegelisahan atas membudayanya kebohongan, sekolah terpanggil menunaikan tanggung jawab mendidik siswa menjadi pribadi yang berbudi luhur. Kantin kejujuran didesain menumbuhkan generasi yang menjunjung tinggi kejujuran dan tidak memberikan toleransi atas kebohongan.

Dalam realitas kehidupan, kebohongan menemukan banalitas paripurna yang dilakukan tanpa perasaan bersalah sama sekali. Rasanya tepat bila pujangga besar Ronggowarsito meramalkan fakta tersebut dengan keprihatinan mendalam.

''Wong lugu keblenggu, wong jujur kojur, wong bener tengger-tengger, wong jahat munggah pangkat, pengkianat soyo nikmat, durjana soyo kepenak'' (Orang lugu terbelenggu, orang jujur terperosok, orang benar kehilangan akal, orang jahat naik pangkat, pengkhianat tambah nikmat, orang durjana tambah nikmat) (Sindhunata, 2000: 41).

Karena itu, tidak mengherankan berbagai modus kebohongan yang berekses kerusakan bangsa berjalan lumrah dan ''halal''. Korupsi, yang dilakukan secara individual maupun bersama-sama, mengalir dari hulu hingga ke hilir. Kebohongan mengakibatkan runtuhnya kepercayaan (trust). Francis Fukuyama menandaskan, kepercayaan adalah modal paling berharga dalam kehidupan. Tanpa kepercayaan yang dilandasi kejujuran, kehidupan akan porak-poranda.

Bila ditelisik mendalam, kantin kejujuran sebenarnya dering peringatan kegagalan pendidikan nilai, terutama pendidikan agama dan kewarganegaraan. Menurut Haryatmoko (2002: 40), setidaknya ada empat tujuan yang menjadi idealisme pendidikan. Yaitu, kompetensi, orientasi humanistis, menjawab tantangan sosial-ekonomi, serta kemajuan ilmu pengetahuan.

Diakui atau tidak, kegiatan belajar-mengajar cenderung berkutat pada penguasaan pengetahuan. Dengan begitu, hal tersebut memaksa peserta didik melahap ratusan kurikulum yang kadang mengabaikan penanaman nilai kebajikan. Akibatnya, proses pendidikan tersebut melahirkan siswa dengan nilai akademis tinggi, namun tidak berbudi luhur.

Kantin kejujuran yang beroperasi tanpa ada penjaga mencerminkan sebuah ikhtiar pendidikan kejujuran yang tidak berkutat dalam tataran pemahaman normatif, tapi dalam bentuk praktik. Kejujuran siswa benar-benar diuji. Keberhasilannya ditentukan oleh indikator apakah kantin tersebut mampu bertahan seperti halnya kantin biasa.

Menumbuhkan kejujuran sebenarnya dapat dilakukan sejak awal sebelum siswa terlibat dalam proses pendidikan. Sebuah teladan dari sekolah Kolose Kanisius, Jakarta. Sekolah yang didirikan sejak 1927 itu mensyaratkan siswa yang akan mendaftar menandatangani surat pernyataan yang berisi kesediaan dikeluarkan dari Kolose Kanisius bila terbukti secara meyakinkan menyontek ketika mengerjakan ulangan.

Bagi banyak siswa, menyontek adalah hal yang lumrah. Padahal, menyontek tak ubahnya pembiasaan kebohongan yang berdampak buruk dalam kehidupan. Karena itu, bagi Kolose Kanisius, menyontek mencerminkan kegagalan pendidikan dalam mengasah nurani siswa. Sanksi berat layak diberikan bagi penyontek. Kepandaian siswa tidak semata-mata ditentukan nilai akademis, tapi juga kepribadian luhur siswa.

Dalam tarikan napas yang sama, kantin kejujuran mencoba melatih kejujuran sehingga melahirkan siswa yang berbudi luhur. Ironisnya, beberapa sekolah tidak memberi keteladanan kejujuran. Pendidikan gratis yang digagas pemerintah Kota Surabaya dan mungkin juga pemerintah daerah lain, kenyataannya, tidak gratis seratus persen.

Buruknya sosialisasi pendidikan gratis mengakibatkan orang tua siswa tidak mengetahui bahwa biaya sekolah telah ditanggung Pemerintah Kota Surabaya. Besarnya dana anggaran sekolah gratis untuk SD (Rp 50 ribu), SMP (Rp 100 ribu), SMA (BKSTM) Rp 150 ribu, dan SMK (Rp 152 ribu) ternyata tidak menyurutkan pungutan ''tanpa kuitansi''.

Dana tersebut sebetulnya meng-cover delapan item biaya operasional sekolah, termasuk pemeliharaan gedung dan fasilitas sekolah (Metropolis Jawa Pos, 22/12/2008). Kalau demikian adanya, pungutan liar berlawanan secara diametral dengan kantin kejujuran.(oki)

20 Jan 2009 | Komentar : 0
Oleh: Muhammad Ainun N.
Guru SMK Metrika Surabaya
________________________________________
Sumber:
Jawa Pos, 18 Januari 2009
http://www.klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1232427030&archive=&start_from=&ucat=2&

Pakaian

Pakaian

Untuk menunjang kesempurnaan hidupnya, manusia memerlukan pakaian. Pakaian, selain berfungsi untuk melindungi diri, juga berfungsi sebagai penutup aurat dan mempercantik diri. Firman Allah SWT, ''Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.'' (Q. S. 7: 26). Dalam kehidupan sehari-hari, pakaian, kata seorang ulama kontemporer Ali Syari'ati, dapat melambangkan status, preferensi, dan bahkan perbedaan kelas. Banyak orang menyandang pakaian tertentu sekadar untuk menunjukkan kelasnya. Jadi, pakaian dapat menyebabkan adanya 'diskriminasi' di antara umat.

Namun, dalam Alquran term pakaian (libas), tidak hanya mengandung pengertian fisik, seperti disebut di atas, tetapi juga bisa bermakna spiritual. Menurut pakar tafsir al-Raghib al-Ashafahani dalam Kitab al-Mufradat fi Gharib Alquran, kata libas (pakaian) dapat bermakna segala sesuatu yang dapat menutupi diri kita dari berbagai keburukan. Karena itu, suami atau istri yang diharapkan dapat saling melindungi dan menutupi keburukan dan kekurangan masing-masing, disebut oleh Allah sebagai 'pakaian'. ''Mereka (istri-istri) itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.'' (Q. S. 2: 187).

Ini berarti, pakaian kita yang sesungguhnya adalah iman, amal saleh, dan kesucian moralitas; dan pakaian inilah yang disebut 'pakaian takwa'. Tuhan menyebut pakaian takwa ini sebagai pakaian yang paling baik (Q. S. 6: 187). Pakaian takwa, menurut ahli tafsir Abdullah Yusuf Ali, mengejawantah dalam sikap mental dan perilaku, berupa pemihakan kita kepada kebenaran yang, karenanya, dapat menutupi diri kita dari berbagai keburukan dan dosa-dosa, serta menghiasi diri dengan berbagai keutamaan dan kebajikan.

Pakaian dalam arti inilah yang dahulu pernah dibanggakan Imam Syafi'i kepada bangsa Mesir, ketika yang disebut terakhir ini, dengan pandangan agak materialistik, memperolok-olok Imam Syafi'i lantaran pakaian sederhana yang dikenakannya. ''Aku pun memiliki setumpuk pakaian,'' kata Imam Syafi'i, ''yang bila semuanya kujual dengan uang seperak, maka uang seperak itu masih jauh lebih berharga. Tapi, di balik pakaian itu ada jiwa yang kalau ditimbang sebagiannya saja dengan jiwa semua manusia, niscaya jiwa itu masih lebih berat dan lebih agung.'' Pakaian takwa, dengan sendirinya membuat pemakainya tampak selalu anggun. Sebagai kata Ibn 'Adi, ''Jikalau orang terlepas dari noda dan dosa, maka pakaian apa pun yang disandang, akan tampak indah dan cantik selalu.'' - ah

By Republika Newsroom
Kamis, 22 Januari 2009 pukul 13:14:00
http://www.republika.co.id/berita/27482.html